Daniel Ashman

Pujangga abad ke-19 Charles-Pierre Baudelaire pernah berujar yang berbunyi : ”Muslihat terbesar si Iblis adalah meyakinkan dunia bahwa ia tidak ada.” Ide tersebut sering digunakan dalam pengertian religius atau filosofis, akan tetapi ia sama baiknya bekerja dengan geopolitik. Muslihat terbesar yang pernah dibuat oleh komunis adalah meyakinkan dunia bahwa mereka tidak ada.

Kehancuran yang ditimbulkan oleh komunis selama seabad  lalu, adalah mungkin karena mampu meyakinkan orang lain bahwa mereka bukan komunis sejati. Menenangkan Amerika untuk mengikuti kebijakan naif dan merusak diri sendiri. Hari ini, khayalan yang sama juga terjadi mengenai Tiongkok. 

Di satu sisi, masalah ini tampak jelas. Tiongkok telah dikuasai oleh komunis. Mereka memiliki Komite Pusat, Politbiro, dan Sekretaris Jenderal. Komunis Tiongkok telah memerintah Tiongkok. Sedangkan kata-kata  “Komunis” ada di sana dengan namanya.

Namun, media arus utama tidak begitu yakin, secara teratur meremehkan sifat ideologis Komunis Tiongkok. Media-media itu sambil memajukan ide-ide bahwa Tiongkok sama sekali bukan komunis, tetapi pada kenyataannya adalah kapitalis. 

Sebagai contoh, The New York Times tahun lalu menerbitkan sebuah editorial opini oleh mantan perdana menteri Australia mengklasifikasikan Tiongkok sebagai “kapitalisme otoriter.” 

The Washington Post mengikutinya tahun ini dengan menulis, “Tidak, Tiongkok dan AS tidak terkunci dalam pertempuran ideologis. Bahkan tidak mendekati.” Artikel tersebut menjelaskan bahwa Komunis Tiongkok “ secara ideologis bangkrut, ”dan hanya“ nominal Komunis, ”karena telah“ merangkul kapitalisme. ”

Baru-baru ini, Forbes memiliki artikel berjudul, “Keberhasilan Ekonomi Tiongkok Membuktikan Kekuatan Kapitalisme,” di mana majalah itu menjelaskan bahwa kendali Komunis Tiongkok terhadap masyarakat hanyalah hantu yang memudar di masa lalu.

Tampaknya ada asumsi yang mendasari klaim itu, bahwa karena Tiongkok sedang mengalami pertumbuhan, itu tidak bisa komunis. Yang menarik, tentunya narasi-narasi itu membuat orang-orang agar tidak perlu khawatir lagi tentang komunis. 

Entah seseorang komunis, miskin, dan tak berdaya, atau, mereka yang kaya raya, kapitalis, dan seseorang yang bisa kita ajak untuk berbicara. Tapi orang-orang yang mengetahui dari sejarah bahwa alasan itu tidak benar. 

Pada hari-hari paling gelap dari pemerintahan Stalin, lengkap dengan penyingkiran dan pertanian kolektif, Rusia cukup kuat untuk menaklukkan sebagian besar Eropa dan mengancam keberadaan Amerika Serikat. Suatu negara dapat menjadi komunis dan cukup kuat.

Memang benar bahwa Tiongkok telah beralih dari kepemilikan kolektif ke kepemilikan pribadi. Namun, itu adalah kesalahpahaman ideologi komunis untuk memahaminya sebagai penolakan terhadap komunisme dan merangkul kapitalisme. Komunis itu fleksibel. Adopsi pasar bebas terbatas, selama mereka berada di bawah kendali Komunis Tiongkok, sepenuhnya diizinkan di dalam ideologi mereka.

Pertimbangkan kata-kata sosok pahlawan bagi Lenin yang bernama Sergey Nechaev, seorang revolusioner Rusia masa awal. Dia menjelaskan bahwa “revolusioner mungkin dan sering harus hidup dalam masyarakat sambil berpura-pura benar-benar berbeda dari apa dia sebenarnya.”

Politbiro Komunis Tiongkok persis mengetahui, bahwa ia harus berpura-pura menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan komunitas internasional dan memperkuat dirinya sendiri. Untuk saat ini. Nechaev juga menulis, “Bagi kaum revolusioner, moralitas adalah segalanya yang berkontribusi pada kemenangan revolusi.” Jadi, tak ada kebenaran absolut untuk komunis. Yang ada, hanya kebenaran revolusioner. 

Jika Komunis Tiongkok harus menggunakan alat kapitalis untuk mewujudkan revolusi mereka, itu adalah tugasnya. Penggunaan kapitalisme Komunis Tiongkok untuk tujuan komunis jangka panjang menjadi lebih jelas, ketika dipahami dalam konteks sejarah. Lihatlah apa yang dilakukan komunis ulung, Vladimir Lenin. 

Dia memberikan Rusia New Economic Policy (NEP) untuk menghentikan langkah menuju pertanian kolektif dan mendorong perusahaan swasta. Apakah para pakar media arus utama dewasa ini akan menjadi pusing menjelaskan bahwa kaum Bolshevik sebenarnya adalah kapitalis crypto? Banyak orang, pada saat itu, mengajukan klaim seperti itu. Namun jika dipikir-pikir, mudah untuk melihat absurditas pemikiran seperti itu.

Sejarawan terkenal Rusia, Edvard Radzinsky menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia menyebutnya “Rule Number One”  untuk komunis: “pernyataan oleh para pemimpin Partai hanyalah produk dari pertimbangan taktis, sedangkan rencana nyata, jangka panjang, strategi Partai, harus tetap disembunyikan.”

New Economic Policy hanyalah pertimbangan taktis belaka. Ia ada hanya untuk melayani rencana jangka panjang partai.  Rencana Lenin bekerja dengan sangat baik. Rezim Bolshevik direvitalisasi. Investasi mengalir masuk dari luar negeri. Rusia Anti-Bolshevik, yang telah lolos dari revolusi, ditipu untuk kembali, dimana kaum Bolshevik memanfaatkan mereka, atau membunuh mereka, atau kedua-duanya.

New Economic Policy  berlangsung selama bertahun-tahun dan kemudian Stalin melanjutkan langkah Rusia menuju kolektivisasi. Stalin kemudian memperkenalkan pertimbangan taktisnya sendiri untuk mengejar rencana jangka panjang yang tersembunyi. 

Stalin mengesampingkan ide komunis tentang revolusi dunia demi “sosialisme di satu negara,” dan dengan sabar menunggu bertahun-tahun, sebelum mencapai keuntungan teritorial besar untuk Rusia dan komunisme. Hanya dalam konteks ideologis dan historis, inilah kebijakan Tiongkok saat ini agar dapat dipahami.

Apakah Tiongkok benar-benar menghindari komunisme untuk mengejar kapitalisme, seperti yang sering diklaim media arus utama? Hampir tidak sama sekali. Komunis Tiongkok hanya menerapkan taktik Leninis. 

Komunis Tiongkok mengijinkan kepemilikan pribadi, untuk saat ini. Demi, menambah tujuan komunis dalam jangka panjang mereka. Tahun lalu, di tengah implementasi sistem kredit sosial Tiongkok yang terkenal buruk, Sekretaris Jenderal Xi Jinping memberikan pidato selama satu jam yang memuji kehidupan Karl Marx. 

Xi menjelaskan bahwa “kehidupan Marx adalah kehidupan perjuangan untuk menggulingkan dunia lama dan membangun dunia baru.” Dia kemudian menjelaskan bahwa Marxisme “secara mendalam” dan “teori ilmiah” sejati, yang mana “selalu menjadi pedoman pemikiran bagi Komunis Tiongkok. Hal demikian membantu mereka untuk mengetahui dunia, mengelola aturan, mencari kebenaran, dan mengubah dunia. ”

Xi secara eksplisit menghubungkan “keajaiban pembangunan yang belum pernah terjadi sebelumnya” dari Komunis Tiongkok, dengan keberhasilan implementasi Marxisme. Mungkin orang Amerika kehilangan ideologi yang pernah mereka pegang teguh. Akan tetapi memproyeksikan pola pikir yang sama kepada Komunis Tiongkok, menyimpulkan bahwa mereka secara idealnya bangkrut dan memang berbahaya.

Seorang analis dari pinggiran Massachusetts, AS. Penulis buku “Russian Agents: The Clintons’ Attack Against America.”  Penulis dengan websitenya AshmanReport.com

 Artikel Ini Terbit di The Epochtimes

Share

Video Popular