Gao Tianyun

Mantan Wakil presiden Amerika Serikat, Joe Biden pada 23 Januari 2018 silam, memberitahu “Komisi Urusan Diplomatik”, bahwa pada bulan Maret 2016 saat dirinya masih menjabat sebagai Wakil presiden Amerika Serikat berkunjung ke Ukraina, memberi tekanan pada Presiden Ukraina. Biden memaksanya agar memecat Jaksa Agung yang menjabat kala itu bernama Viktor Shokin.

Terkait pernyataan Biden pada Presiden Ukraina untuk memecat Jaksa Agung,  situs media Rusia “Rossiyskaya Gazeta” memuat berita, dengan memaparkan lebih banyak informasi. Artikel itu menuliskan, “Peristiwa yang disebut Biden terjadi pada akhir Maret 2016. Waktu itu, Biden sebagai  wakil presiden Amerika Serikat sedang menemui pejabat Ukraina.

Pertemuan membahas situasi di Ukraina dan bantuan ekonomi dari Amerika Serikat bagi Ukraina. Biden jelas memanfaatkan kredit pihak ketiga sebesar USD 1 milyar  atau setara 14,2 triliun rupiah yang dijamin oleh Amerika sebagai tekanan bagi Ukraina. Artikel mengungkap, dalam suatu pembicaraan, Biden mengatakan pada para pejabat Ukraina, “Saya beritahu Anda semua, kalian tidak akan mendapatkan USD 1 milyar itu.”

Pada 29 Maret 2016, Viktor Shokin yang waktu itu menjabat sebagai Jaksa Agung dipecat oleh kabinet Ukraina. Dua hari kemudian, Ukraina mengumumkan, bahwa sebelumnya Biden telah bertemu dengan Presiden Poroshenko dan memberitahu dia, Amerika Serikat telah memutuskan memberikan USD 335 juta bagi Ukraina, guna perombakan instalasi keamanan.

Selain itu berita resmi juga menyebutkan, bahwa kemungkinan memberikan jaminan kredit senilai USD 1 milyar adalah ‘terbuka’. Pada 3 April 2016, Shokin resmi diberhentikan.

Anggota senior London Centre for Policy Research bernama Deroy Murdock beberapa hari lalu menulis artikel di Fox News yang menyebutkan, “Perilaku Biden adalah pemerasan dan mengganggu keadilan hukum.”

Surat pengaduan dan kasus pemakzulan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump oleh , Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat  telah mengaitkan rumor korupsi di keluarga Biden. Saat ini hubungan kepentingan Biden dan putranya dengan Ukraina dan Komunis Tiongkok menjadi sorotan media massa. Ada yang secara lugas mengatakan, jalan pilpres Biden telah berakhir.

Pengacara Trump yang merupakan mantan Walikota New York yakni Rudi Giuliani menulis di Twitter pada 23 September lalu, mengatakan “Skandal Biden baru saja dimulai. Ada lebih banyak lagi terkait pencucian uang di Ukraina sebesar USD 3 juta, dan ada 4 sampai 5 bukti besar. Selain itu, ada juga sumbangan sebesar USD 1,5 milyar  setara 21 triliun rupiah dari Komunis Tiongkok kepada Yayasan Biden. Apalagi dalam perundingan dengan pihak Komunis Tiongkok Biden terus menerus mengalah.”

Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Newt Gingrich pada 25 September 2019 menuliskan, Partai Demokrat seharusnya memeriksa skandal korupsi Biden dan putranya, Hunter Biden. Newt Gingrich menyebutkan, persis seperti yang ditulis oleh dua orang wartawan “Washington Post” yakni Michael Kranish dan David L. Stern pada 22 Juli tahun ini, selama lebih dari dua puluh tahun, garis profesi Hunter Biden adalah mengikuti karir politik sang ayah, “Dari Washington sampai ke Ukraina lalu sampai ke Tiongkok.”

Newt Gingrich menyatakan, apa yang terjadi di Ukraina bukanlah satu-satunya skandal yang melilit Hunter Biden. Komunis Tiongkok adalah pusat yang lebih besar arah mengalirnya dana   kepada putra mantan wakil presiden itu.

Menurut berita media massa, pada Desember 2013 silam, dengan status sebagai wakil presiden Joe Biden berkunjung ke Tiongkok, Hunter Biden menyertainya. Sepuluh hari setelah Biden meninggalkan Tiongkok, Hunter Biden dan perusahaan yang bernama Rosemont Seneca menandatangani kesepakatan tunggal dengan Bank of China senilai USD 1 milyar, untuk mendirikan perusahaan Bohai Harvest RST (BHR).

Wartawan investigasi Peter Schweizer pernah menyelidiki secara mendalam transaksi dagang antara keluarga Biden dengan pemerintah Komunis Tiongkok, lalu disimpulkan: Biden “akan berkompromi dengan kekuatan asing, tidak cocok menjabat sebagai presiden”. (SUD/WHS)

 

Share

Video Popular