Erabaru.net. Topan Hagibis memporak-porandakan Jepang pada Sabtu (12/10/2019). Melansir dari NHK, korban tewas mencapai 37 orang. Hingga kini upaya pembersihan sedang berlangsung di banyak daerah. Selain korban jiwa, 17 orang dinyatakan hilang. Sebanyak 189 orang lainnya terluka selama badai akhir pekan itu.

Para pejabat meteorologi setempat mengatakan , 40 persen dari curah hujan tahunan yang dicatat, terjadi dalam satu atau dua hari di banyak daerah di negeri Sakura itu. 

Laporan Departemen Pertanahan dan Transportasi Jepang menyebutkan, sepanjang 21 saluran air ambrol, termasuk Sungai Chikuma di Prefektur Nagano, barat laut Tokyo. Jalanan sepenuhnya terendam air berlumpur. Rumah-rumah di seluruh wilayah dibanjiri air setinggi dua hingga tiga meter. 

Seorang warga yang diwawancarai NHK menyatakan, dirinya tidak mengetahui bagaimana cara membersihkan lumpur tersebut. 

Sebuah jembatan kereta api runtuh ke sungai dan genangan air mengganggu layanan kereta api. Depot perawatan untuk jalur kereta peluru Hokuriku Shinkansen juga mengalami kebanjiran.

East Japan Railway melaporkan, sebanyak 10 kereta, dengan total 120 gerbong, rusak karena terendan air setinggi empat meter. 

Sebuah fasilitas perawatan di wilayah Prefektur Saitama, utara Tokyo juga diterjang banjir.  Lebih dari 220 warga dan staf berisiko. Akan tetapi, tim pengasuh bertindak cepat untuk mengevakuasi penguninya.

Ketika evakuasi ke tempat yang lebih tinggi sedang berlangsung, listrik padam dan elevator mati. Para pekerja harus membawa para penghuni ke atas dan memastikan semua orang selamat tanpa terluka.

Di prefektur Fukushima, seorang wanita berusia 70-an mengalami kecelakaan, selama penyelamatan dengan helikopter.  Ketika itu, tim penyelamat lupa untuk mengamankan tali pengaman.

Tokyo Electric Power pada Minggu malam mengatakan, bahwa lebih dari 66.000 rumah masih tanpa listrik. Tohoku Electric mengatakan, sebanyak 5.600 rumah masih kekurangan listrik, di prefektur utara Miyagi, Iwate dan Fukushima. Ia mengatakan, Kedua utilitas  mereka bekerja untuk memulihkan aliran listrik. 

Beberapa layanan kereta api di daerah Tokyo dilanjutkan kembali pada pagi hari, sementara yang lainnya dimulai lagi beberapa waktu kemudian.

Politikus partai yang berkuasa, Fumio Kishida mengatakan pemerintah akan melakukan yang terbaik dalam operasi penyelamatan, termasuk memastikan bahwa mereka yang pindah ke tempat penampungan dirawat.  Dia mengakui, bahwa jaringan listrik Jepang perlu diperkuat sehingga orang-orang di daerah bencana dapat mengandalkan informasi yang tepat waktu.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe memerintahkan para pejabat untuk mengerahkan lebih banyak pumper trucks. Tujuannya, untuk mengeringkan daerah banjir.

Shinzo Abe mengatakan, menyelamatkan orang adalah hal yang paling penting. Ia mengatakan, lebih dari 110.000 personel dari kepolisian, pemadam kebakaran, Penjaga Pantai dan Pasukan Bela Diri ikut serta dalam operasi pencarian dan penyelamatan. PM Jepang  ingin mereka bekerja sepanjang malam.

Sedangkan pemain rugby Kanada melakukan kegiatan pembersihan di Kamaishi, Prefektur Iwate. Itu setelah pertandingan mereka pada hari Minggu dibatalkan. 

Melansir dari Associated Press, sebelumnya, pertandingan Piala Dunia Rugby antara Namibia dan Kanada, dijadwalkan untuk hari Minggu di Kamaishi, di utara Jepang. Akan tetapi dibatalkan sebagai tindakan pencegahan. 

Toko-toko dan taman hiburan juga telah tutup, dan beberapa toko di Tokyo tetap tutup pada  Minggu 13 Oktober.Ketika topan berakhir pada hari Sabtu dengan hujan lebat dan angin kencang, stasiun kereta api yang biasanya ramai dan jalanan Tokyo yang ramai sepi. Akan tetapi, aktivitas sehar-hari kembali normal pada hari Minggu lalu. Penerbangan yang telah ditunda dari bandara Tokyo secara bertahap dilanjutkan.

Pusat-pusat evakuasi telah didirikan di kota-kota pesisir, dengan puluhan ribu orang yang mencari perlindungan.  Kantor Berita Kyodo mengatakan, peringatan evakuasi telah dikeluarkan kepada lebih dari 6 juta warga.

Pihak berwenang telah berulang kali memperingatkan bahwa topan Hagibis setara dengan topan yang mendatangkan malapetaka di wilayah Tokyo pada tahun 1958 silam. Kini, mitigasi keselamatan Jepang lebih baik. 

Topan enam dekade lalu menyebabkan lebih dari 1.200 orang tewas dan setengah juta rumah terendam banjir. (asr)

Share

Video Popular