Radio Free Asia mengutip analisis para sarjana daratan Tiongkok memberitakan bahwa pada Pleno Keempat mendatang, Xi Jinping mau tak mau wajib memberikan laporan tentang masalah Hongkong dan perang dagang dengan Amerika Serikat kepada partai.

Jika kedua masalah ini tidak dapat memiliki hasil yang dapat dipertanggungjawabkan atau jika situasinya makin memburuk, itu berakibat kurang baik bagi Xi Jinping.

Beberapa hari lalu, Tiongkok dan Amerika Serikat baru saja mencapai kesepakatan tahap awal dalam negosiasi perdagangan. Namun, kejadian komunis Tiongkok mengingkari komitmennya pada bulan Mei 2019 lalu masih segar diingat dunia luar.

Kesepakatan awal yang baru dicapai oleh Liu He ini sulit untuk menjamin bahwa tidak akan lagi terjadi kasus serupa.

Sebuah artikel ulasan dari media ‘secret china’ menyebutkan bahwa kesepakatan tahap awal yang waktunya “dibeli” Beijing dengan harga mahal hanya dapat memberikan sedikit rasa aman bagi Xi Jinping. 

Menurut jadwal yang diberikan oleh Trump, perjanjian tahap pertama baru dapat ditandatangani dalam waktu 5 minggu, setelah itu perundingan akan melangkah ke tahapan kedua. 

Dunia luar pada umumnya masih tidak optimis tentang prospek perdagangan Tiongkok dengan Amerika Serikat. Kecenderungan rantai industri hengkang dari daratan Tiongkok tidak akan berubah, dan pertumbuhan ekonomi yang terus menurun tidak mudah dibalikkan keadaannya seperti membalikkan telapak tangan.

Menurut angka yang baru saja dirilis oleh Biro Statistik Nasional Tiongkok, dari bulan Januari hingga Agustus 2019, keuntungan perusahaan industri nasional di atas ukuran yang ditentukan mengalami penurunan 1,7% YoY- Year over Year, pada bulan Agustus 2019 lalu. Laba perusahaan industri nasional di atas ukuran yang ditentukan turun 2,0%.

Keuntungan dari perusahaan industri besar yang umumnya berada di Beijing, Shanghai dan tempat-tempat lain di daerah yang paling berkembang secara ekonomi telah mengalami penurunan 2 digit. Para ahli menunjukkan bahwa ini merupakan tanda awal dari resesi ekonomi bagi Tiongkok.

Kemerosotan ekonomi, perang dagang dan kekacauan di Hongkong secara serius mengancam kekuasaan Xi Jinping. Dunia luar percaya bahwa alasan mengapa Pleno Keempat yang berfokus pada pembahasan masalah ekonomi terus diundur-undur penyelenggaraannya, adalah karena perang dagang dan kemerosotan ekonomi Tiongkok yang membuat sulit Xi Jinping untuk menghadapi tekanan partai. 

Ada seorang sumber yang berasal dari Generasi Merah Kedua atau Hongerdai memberitahu kepada Epoch Times, bahwa Xi Jinping tidak ingin menyediakan platform bagi kekuatan kontra-Xi Jinping yang ada dalam partai. Itu akan memberi mereka kesempatan untuk menggulingkan pemerintahannya.  (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular