oleh Xiao Jing -NTDTV.com

Sejak pecahnya unjuk rasa berskala besar di Hongkong pada 9 Juni lalu, polisi Hongkong telah menangkap 2.379 orang. Anehnya, lebih dari 100 orang dari mereka tewas karena “bunuh diri” menurut keterangan polisi. 

Meskipun banyak diragukan, tetapi tanggapan yang diberikan pihak polisi Hongkong sulit membuat orang percaya.  Pada hari Jumat 11 Oktober, sejumlah situs web komunitas memposting kasus “bunuh diri akibat jatuh dari bangunan”.  Ada netizen Hongkong menunjukkan bahwa dari foto-foto yang beredar di Internet, setidaknya ada 6 hal yang patut dicurigai.

Menurut ungkapan penduduk Hongkong, pada hari Kamis malam, sosok jenazah pria tiba-tiba muncul di tengah jalan di luar Hin Kwai House, Sha Tin. 

Pria itu bunuh diri dengan kemeja yang compang-camping. Ia terbaring dengan wajah menghadap tanah. Hal yang paling mencolok adalah bahwa kaki sebelah kiri terpisah dari pergelangan kaki. Setelah terpisah dari betis lalu mental sampai mendekati penutup parit di pinggir jalan.

Polisi telah mengkonfirmasi bahwa pria tersebut bermarga Lian berusia 31 tahun. Ia tidak membawa catatan bunuh diri atau surat wasiat. Sehingga kasus tersebut dinyatakan sebagai kasus bunuh diri dengan melompat dari bangunan. Polisi mengklaim bahwa insiden tersebut tidak perlu diragukan.

Namun, foto korban segera menyebar di forum ‘LIHKG’ di Hongkong dan di berbagai media sosial, dan menyebabkan netizens bertanya-tanya. 

“Jika yang bersangkutan melompat dari gedung, sampai kakinya terpatah seperti itu, seharusnya darah dari urat nadi dan arteri menyembur sampai ke mana-mana. SePertinya bukan kasus bunuh diri, pria itu sudah  meninggal sebelumnya”.

Ada netizen menunjukkan bahwa setidaknya ada 6 kejanggalan utama yang dapat dilihat dari foto-foto itu :

Pertama, hampir tidak ada darah di tanah sekitar jenazah.

Kedua, seharusnya ada banyak darah di lokasi ditemukannya kaki yang patah. Tetapi hanya sedikit darah di sana.

Ketiga, Jenasah sudah kaku, tampaknya tangannya pernah diborgol sebelumnya.

Keempat, Jika kepalanya yang membentur tanah, kenapa tidak ada cairan otak di tanah.

Kelima, ada luka membiru di punggung korban.

Keenam, jenazah sudah berwarna pucat, membiru, tidak seperti baru meninggal.

Netizen tersebut menyebutkan, begitu banyaknya hal yang mencurigakan. Tampaknya yang lebih perlu dicurigai adalah pernyataan polisi !

Komentar-komentar dari netizen antara lain : Bagaimana melompatnya sampai bisa mematahkan kaki sedemikian rupa ? Di pergelangan kaki yang patah terlihat cukup jelas ada bekas ikatan. Komunis Tiongkok ingin menciptakan teror dan mengintimidasi para demonstran. Setiap hari membaca berita seperti ini, Hati seperti ditusuk oleh pisau, ingin marah tetapi tidak berdaya. Sakit, benci kepada polisi tidak berperikamanusiaan.

Kematian Chen Yanlin

Selain itu, polisi Hong Kong membenarkan penemuan sesosok mayat perempuan telanjang yang mengambang di permukaan laut sekitar Devil’s Peak pada 22 September. Korban dipastikan adalah Chen Yanlin, seorang gadis berusia 15 tahun yang telah dilaporkan hilang pada 19 September.

Chen Yanlin yang berusia 15 tahun telah berulang kali ikut berpartisipasi dalam unjuk rasa anti RUU ekstradisi. Ia dinyatakan hilang setelah berpamitan dengan teman-teman sekelasnya pada 19 September sore. 

Setelah itu, muncul berita pencarian di media sosial. Menurut data yang dicantumkan dalam berita pencarian itu, Chen Yanlin berusia 15 tahun dengan tinggi badan 1,53 meter. Ia berpisah dengan teman-teman di Mei Foo Sun Chuen pada 19 September sekitar pukul 14:15 waktu setempat. 10 menit kemudian, Chen Yanlin mengirim pesan singkat kepada teman-temannya mengatakan bahwa dirinya sedang berjalan pulang. 

“Sayangnya, ia sudah berjalan sampai 5 hari tetapi belum tiba di rumah, ia belum ditemukan”. Kemudian, seseorang telah menemukan ponsel, kartu ID dan kartu siswa di dalam halaman sekolahnya yang terletak di Distrik Tseung Kwan O.

‘Apple Daily’ yang berhasil menghubungi sejumlah sumber yang memiliki kontak dekat dengan Chen Yanlin selama masa hidupnya, termasuk teman-teman baiknya. Mereka semua terkejut melihat kematian Chen dan mencurigai kematiannya. Karena Chen Yanlin sering berpartisipasi dalam rapat umum anti-revisi UU ekstradisi. Selain itu, Chen Yanlin adalah seorang atlet renang. 3 tahun lalu, ia pernah berpartisipasi dalam tim menyelam dan bersama rekan setimnya memenangkan medali di renang estafet gaya bebas putri.

Selagi masyarakat menghubung-hubungkan kematian Chen dengan unjuk rasa anti revisi Undang-Undang ekstradisi, ‘Apple Daily’ mengungkapkan bahwa jenasah Chen Yanlin telah dikremasi pada 10 Oktober pagi hari. Ibunda Chen Yanlin serta sejumlah kecil kerabatnya menghadiri upacara kremasi.

Menurut perkiraan kasar netizen Hongkong, setidaknya ada 108 kasus “bunuh diri” di Hongkong sejak gerakan anti-revisi UU ekstradisi pada 12 Juni lalu. Di mana “melompat dari gedung” adalah yang paling banyak. Sebagian besar kasus cukup mencurigakan, tetapi polisi Hongkong bergegas menutup kasus-kasus itu. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular