Luo Tingting/Wen Hui – NTDTV.com

Aksi protes anti undang-undang ekstradisi Hong Kong telah memasuki bulan keempat. Penurunan saham yang kerap terjadi di pasar saham Hong Kong mencerminkan bahwa beberapa orang sedang mengalihkan dana mereka ke luar negeri. 

Ken Cheung, ahli strategi valuta asing Asia di Mizuho Bank, mengatakan bahwa terlepas dari tingkat suku bunga masing-masing dari dolar Hong Kong dan dolar Amerika Serikat, melemahnya dolar Hong Kong terhadap dolar Amerika Serikat merupakan indikator kekhawatiran akan arus keluar modal. 

Mengutip Bloomberg News, Kyle Bass, predator hedge fund terkenal Amerika dan pendiri Hayman Capital Management, mengatakan pada sebuah konferensi di Amsterdam, Belanda baru-baru ini, bahwa ekonomi Hong Kong mengalami resesi yang parah. Cadangan devisa akan memburuk pada September dan Oktober 2019. Diperkirakan akan ada sejumlah besar pelarian arus modal dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan.

Laporan analis Goldman Sachs baru-baru ini menunjukkan bahwa antara Juni dan Agustus 2019, sekitar US $ 4 miliar deposito dialihkan dari Hong Kong ke Singapura. Laporan itu juga menyebutkan bahwa “fenomena arus keluar modal di Hong Kong akan terus aktif.”

Devadas Krishnadas, kepala eksekutif Future Moves dari perusahaan konsultan Singapura, mengatakan bahwa beberapa perusahaan besar dan orang-orang kaya di Hong Kong mengalihkan aset pribadi dan dana investasi mereka dari Hong Kong.

Wu Mingde, seorang bankir senior Hong Kong dan profesor tamu di Hong Kong Baptist University yang telah berkecimpung di industri perbankan selama lebih dari 30 tahun, mengatakan bahwa para taipan di Hong Kong tengah mempercepat laju transfer aset mereka karena telah kehilangan kepercayaan terhadap Hong Kong. 

“Teman-teman saya di industri perbankan mengatakan bahwa sejak pawai akbar 9 Juni hingga 16 Juni 2019 lalu, para taipan Hong Kong telah mengalihkan aset mereka senilai US $ 10 miliar,” kata Wu Ming-de.

Orang-orang kaya Hong Kong mulai cemas, takut komunis Tiongkok akan mengambil tindakan tak terduga dan semena-mena. Orang-orang di sektor keuangan Hong Kong mengatakan bahwa bagi Hong Kong, kebebasan bukanlah slogan tetapi kunci untuk kelangsungan ekonomi. 

Saat ini, dunia usaha khawatir dengan apa yang akan menjadi langkah selanjutnya setelah Pemerintah Hong Kong memberlakukan undang-undang darurat yang mencakup larangan penggunaan topeng ? 

Menurut laporan Harian Taiwan The United Daily News, ada tiga hal yang paling ditakuti oleh komunitas keuangan Hong Kong.

Pertama, akankah Pemerintah Hong Kong mengatur kebebasan komunikasi, informasi dan laporan media? “Yang menjadi perhatian pasar keuangan adalah kebebasan arus informasi. Jika Anda menutup informasi yang saya ketahui, bagaimana saya akan merespons situasi yang terjadi,” kata manajer hedge fund atau pengelola investasi global.

Kedua, apakah akan menyelidiki “rekening kriminal” dalam definisi Pemerintah Hong Kong, membekukan rekening dan aset individu atau lembaga tertentu? Manager itu mengatakan bahwa harus ada alasan yang sah untuk membekukan akun dan asset seseorang. 

“Jika itu bukan aturan umum anti-terorisme dan anti-pencucian uang, maka itu adalah serangan secara politik,” kata manager itu.  Hal ini akan menyebabkan orang-orang merasa terancam.

Ketiga, itu juga yang paling ditakuti oleh kalangan keuangan, yaitu apakah akan mengatur tentang modal masuk dan keluar? Tiba saat itu, arus pelarian dana akan terjadi lebih cepat, dan Hong Kong ke depannya akan sangat mengkhawatirkan.

Menurut para elite di lingkaran keuangan Hong Kong, bahwa tidak ada tanda-tanda untuk rekonsiliasi antara pemerintah dan rakyat pada situasi saat ini, dan kemungkinan pada akhirnya akan mencapai titik ini.

Menurut Manajer hedge fund itu, Hong Kong tidak seperti Tiongkok atau Taiwan. Hong Kong tidak memiliki kontrol modal. Tidak ada “dewan investasi”. Dana tersebut mudah untuk dipindahkan dan disetorkan ke akun dengan nama yang sama di Singapura.

Itulah sebabnya mengapa Hong Kong dapat menjadi pusat keuangan terbesar ketiga di dunia, setelah New York dan London. Satu-satunya yang dapat disejajarkan dengan Hong Kong adalah Singapura, yang juga tidak memiliki kontrol modal.

Begitu pemerintah Hong Kong mulai mengatur modal masuk dan keluar, maka status Hong Kong sebagai pusat keuangan dunia dalam bahaya.  “Apakah kita masih bisa menjadi pusat keuangan?” Anggota parlemen Hong Kong Eddie Chu Hoi-dick menyatakan keprihatinan tentang hal ini.

Saat ini, gerakan protes di Hong Kong tidak tampak akan segera berakhir. Setelah penerapan “larangan penggunaan topeng” pada 5 Oktober 2019, protes pecah di 18 distrik di Hong Kong. Slogan “Rakyat Hong Kong, melawan!” telah menggantikan “Rakyat Hong Kong, tetap semangat!”

Komunitas keuangan Hong Kong khawatir kebebasan Hong Kong yang paling berharga akan berangsur-angsur hilang, dan prospek ekonomi Hong Kong akan semakin buruk. 

Presiden sebuah bank besar yang didanai Taiwan di Hong Kong percaya bahwa pertumbuhan ekonomi Hong Kong pada paruh kedua tahun ini pasti akan jatuh ke dalam resesi. Saat ini, tingkat pertumbuhan ekonomi Hong Kong pada kuartal kedua adalah 0,5%, dan tahun ini kemungkinan akan tumbuh nol persen.

“Status keuangan internasional Hong Kong akan menurun, dan ekonomi Tiongkok akan lebih ilusi. Jika itu terus berlanjut, bahkan industri real estat Tiongkok akan turun 50%,” kata seorang mantan eksekutif keuangan senior Taiwan di bank-bank besar Hong Kong.  (jon)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular