Signifikansi Strategis Sengketa Perdagangan Sino-AS

Setelah Trump menjabat, ia mulai membersihkan warisan negatif dari para pendahulunya, di antaranya item yang paling penting adalah pengaturan ulang hubungan AS-Tiongkok.

Setelah aksesi Komunis Tiongkok ke WTO, skala ekonomi globalnya terus meningkat. Ketika Komunis Tiongkok berpikir telah memperoleh kekuatan yang cukup, Komunis Tiongkok mulai mengendalikan perdagangan global sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Perwujudannya seperti mengambil teknologi dari negara lain dan memberlakukan kebijakan yang berbahaya bagi negara lain seperti Amerika Serikat.

WTO tidak berdaya dalam menghadapi negara yang tidak masuk akal dan jahat ini. Di permukaan, sengketa perdagangan Sino-AS terlihat seperti banyak friksi perdagangan lain yang telah kita saksikan di seluruh dunia. Tetapi ada satu faktor penting yang sering diabaikan adalah, karena perlunya propaganda nasionalis dan ideologis, Komunis Tiongkok menargetkan dua sisi yakni ekonomi dan militer Amerika Serikat.

Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He (kiri) berjabat tangan dengan Perwakilan Dagang Amerika Serikat Robert Lighthizer (kanan) bersama Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin (tengah) saat Liu He akan meninggalkan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat setelah negosiasi perdagangan di Washington, DC, tanggal 10 Mei. 2019. (SAUL LOEB / AFP / Getty Images)

Komunis Tiongkok telah mengambil keuntungan secara ekonomi, ilmiah, dan teknologi, dan kemudian menggunakan sumber dayanya untuk memperkuat militernya, akhirnya untuk menekan Amerika Serikat. Pendekatan tersebut mirip dengan hubungan diplomatik dan perdagangan Jepang dengan Amerika Serikat sebelum pecahnya perang Pasifik saat perang Dunia kedua. 

Karena itu, Amerika Serikat keliru untuk melihat masalah yang ada hanya dari perspektif ekonomi belaka. Banyak strategi Amerika Serikat yang dikerahkan melawan Komunis Tiongkok tidak hanya fokus pada hubungan ekonomi, tetapi juga dengan pandangan terhadap politik dan militer.

Meskipun tidak ada seorang pun dalam politik Amerika yang secara eksplisit menyatakan hal ini, konsensus yang mendasarinya menjadi terang benderang. Jadi, Haruskah tatanan ekonomi global berubah? Posisi negara secara relatif sangat berbeda. 

Bagi Komunis Tiongkok, lebih bagus untuk tetap di jalurnya, sehingga dapat terus mengeruk keuntungan dari negara lain. Banyak negara kecil yang maju dan menengah takut menyinggung Komunis Tiongkok, namun mereka juga ingin tetap mengambil keuntungan ekonomi dari Amerika Serikat, sehingga mereka menjadi bimbang.

Amerika Serikat, yang telah sangat menderita, adalah satu-satunya negara dengan insentif untuk mengubah tatanan ekonomi global. Perubahan tatanan ekonomi global hanya dapat dilakukan oleh Amerika Serikat, yang saat ini merupakan ekonomi yang lebih besar dan memiliki pengaruh global lebih dari Komunis Tiongkok.

Menghadapi negara yang hanya mengambil keuntungan dari orang lain dan tidak menepati janjinya, WTO sekarang hanya dapat membuat ancaman kosong belaka dan terus menunggu dengan sabar, agar Komunis Tiongkok mengambil inisiatif untuk berubah.

Komunis Tiongkok, di sisi lain, hanya mau melakukan perubahan yang tidak berbahaya bagi dirinya sendiri, dan tidak akan menyerah begitu saja terhadap praktik yang ada. Dalam hal ini, Amerika Serikat, yang paling menderita akibat globalisasi, hanya dapat melindungi kepentingannya sendiri.

Faktanya, tidak ada negara-negara lain yang peduli dengan kerugian yang dialami oleh amerika Serikat. Kepentingan Amerika hanya bisa dilindungi oleh Amerika Serikat itu sendiri. Kebijakan baru perdagangan Amerika Serikat telah mengungkapkan sisi gelap globalisasi ekonomi yang telah lama ditutup-tutupi dengan rapat-rapat. Kelemahan WTO di depan “Teror Merah” sepenuhnya menunjukkan situasi globalisasi ekonomi yang menyedihkan. 

Dapat dikatakan bahwa globalisasi ekonomi telah melewati puncaknya dan sekarang memasuki bayangan yang diciptakan dengan sendirinya. Semua pihak harus memahami kembali pola ekonomi global di masa depan untuk melepaskan diri mereka. (asr)

Cheng Xiaonong seorang peneliti kebijakan dan bekas ajudan mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Zhao Ziyang saat menjabat sebagai Perdana Menteri Tiongkok. Ia adalah pemimpin redaksi jurnal Modern China Studies. 

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular