- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Dokter Magang Mengaku Terlibat Mengambil Organ dari Tubuh Hidup-hidup di Tiongkok

NTDTV.com

Pengambilan organ hidup-hidup secara ilegal disinyalir benar-benar terjadi di Tiongkok. Organ tubuh manusia itu dipasok untuk memenuhi industri transplantasi organ yang dilakukan rezim Komunis Tiongkok. Laporan investigasi yang dilakukan oleh mantan Sekretaris Negara Kanada untuk Asia dan Pasifik David Kilgour dan pengacara hak asasi manusia internasional David Matas, tentang kasus mengerikan itu, tak meragukan lagi bahwa praktik pengambilan organ tubuh hidup itu sedang berlangsung di Tiongkok.

Ini  penuturan seorang mahasiswa yang berbincang-bincang dengan seorang dokter magang yang mengaku terlibat dalam pengambilan organ dari tubuh hidup manusia. 

Saya adalah seorang mahasiswa luar negeri. Beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja saya mendengar tentang sesuatu yang mengejutkan dari seorang teman sekelas lama di Tiongkok. Setelah saya pikir berulang-ulang, akhirnya saya memutuskan untuk membagikan apa yang saya alami ini kepada orang banyak. Dengan memanfaatkan kekuatan media saya berharap  upaya kecil saya ini dapat membuat lebih banyak orang mengetahuinya. Saya juga berharap aksi teroris negara ini segera dihentikan.

Dari tidak berani percaya sampai mau tak mau percaya. Kisah yang seakan jauh dari kaitan hingga benar-benar keluar dari mulut teman sekelas lama. Setiap kalimat yang diutarakannya membuat hati saya berdebar-debar.

Hari itu, kita kebetulan berbincang-bincang sampai pada topik yang sedang dilaporkan media luar negeri yaitu kasus pengambilan organ dari tubuh hidup. Ia tiba-tiba mengatakan : Saya terlibat dalam pengambilan organ paru-paru dari terpidana mati.

Saya terkejut dan langsung bertanya : “Anda terlibat ?”

Dokter  : “Lingkungan untuk pengambilan organ sangat ketat dijaga. Di tengah malam, dicarikan tempat yang terpencil. Polisi menutup jalan. Sekelompok polisi bersenjata mengelilingi lokasi pengambilan organ yang berupa sebuah tenda besar. Di tempat itu pihak  rumah sakit membayar uang jaga kepada polisi sejumlah uang tunai 100.000 reminbi. Usai menghitung uang itu, dokter forensik langsung menyuntikkan obat anestesi kepada terpidana mati. Kemudian dokter bedah melakukan pengambilan organ dari tubuhnya yang masih hidup.

Saya : “Siapa dia ?”

Dokter : “Mereka kebanyakan adalah terpidana mati yang tidak memiliki kerabat atau yang tidak berhubungan dengan kerabat atau kerabatnya tidak akan melacak penyebab kematian tahanan itu. Coba Anda pikirkan, dari mana datangnya donatur organ untuk memenuhi permintaan organ seluruh negeri yang jumlahnya tidak kecil ?”

Saya : “Masalahnya adalah bagaimana memastikan jika orang itu adalah terpidana mati ? Dalam 1 tahun paling banyak hanya seribu lebih terpidana mati di seluruh Tiongkok, data menurut laporan media asing. Angka yang diumumkan pihak berwenang Tiongkok bahkan lebih kecil. Mungkin tidak sampai 100 orang setahun. Tingkat kecocokan organ jelas tidak tinggi. Dari mana terpidana mati itu didatangkan untuk memenuhi kebutuhan transplantasi dokter yang begitu banyak? Apakah mungkin mereka menggunakan praktisi Falun Gong yang ditahan secara ilegal untuk dijadikan pengganti, lalu disodorkan kepada dokter ahli bedah untuk diambil organnya?”

Dokter : “Saya tidak mau tahu. Kalau pun saya tahu, apa yang bisa saya perbuat? Saya juga tidak tahu apa yang Anda katakan itu benar atau tidak. Namun saya percaya bahwa dilihat dari sisi paling gelap dari sifat manusia, bisa saja itu dilakukan. Tubuh orang itu disodorkan ke meja operasi sesuai sistem peradilan, kita sebagai dokter hanya melakukan pengambilan organ.”

Saya menyarankan dokter itu untuk mengumpulkan lebih banyak bukti tentang apakah orang-orang yang diambil paksa organnya itu adalah terpidana mati. Tetapi tampaknya dia khawatir tentang keamanan dirinya, sehingga ingin menghindar.

Lokasi magang teman sekelas lama saya itu adalah sebuah kota tingkat satu di wilayah Delta Sungai Yangtze. Waktunya adalah setelah tahun 2010.

Dari penuturannya dapat dipahami bahwa antara rumah sakit dan pejabat di keamanan publik terjadi transaksi perdagangan organ “terpidana mati”. Keuntungan dari pihak keamanan publik sangat besar, untuk transplantasi paru-paru saja mereka dapat mengantongi uang  100.000 reminbi. 

Apakah orang yang diambil organnya itu benar-benar seorang terpidana mati? Untuk pertanyaan ini, saya coba mengumpulkan informasi dari sejumlah situs untuk kita pakai dalam menganalisa masalah ini.

Huang Jiefu, mantan wakil menteri Kementerian Kesehatan Tiongkok mengatakan dalam konferensi transplantasi organ 2010 bahwa lebih dari 100.000 organ yang ditransplantasikan antara tahun 1997 dan 2008 di Tiongkok, 90% berasal dari terpidana mati. Apakah terpidana mati di Tiongkok mampu memenuhi kebutuhan yang besar atas organ untuk transplantasi rumah sakit ?

Menurut perkiraan data hukuman mati Amnesty International, sekitar 1.700 orang per tahun, Jika diasumsikan bahwa semua organ dari terpidana mati dapat digunakan untuk transplantasi. Maka dari tahun 1997 hingga 2008, para terpidana mati Tiongkok dapat menyediakan 10.000 hingga 20.000 transplantasi organ. Namun, jika jumlah transplantasi  menurut Huang Jiefu itu 100.000, maka dari mana sisanya yang 80.000 hingga 90.000 organ itu ?

Selain itu, organ dari terpidana mati tidak dapat sepenuhnya digunakan untuk transplantasi.  Secara umum, setiap 10 donor organ hanya dapat menemukan 1 yang cocok dengan kondisi pasien. Jika 100.000 transplantasi organ dilakukan, maka lebih dari 1 juta organ diperlukan. Jelas jumlah terpidana mati jauh dari cukup.

Menurut laporan publik Tiongkok dan data Asosiasi Medis Tiongkok, jumlah transplantasi organ di Tiongkok telah meningkat dari 18.000 kasus dalam 6 tahun sebelum tahun 1999, menjadi 60.000 kasus dalam 6 tahun setelah tahun 1999. Pada tahun 2005, transplantasi mencapai 20.000 kasus.

Falun Gong mulai dianiaya oleh komunis Tiongkok pada tahun 1999. Puncak penganiayaan terjadi pada tahun 2000 hingga 2005, saat itu jumlah transplantasi organ di daratan Tiongkok juga melonjak tinggi.

Status kesehatan para praktisi Falun Gong dalam tahanan umumnya diabaikan bahkan disiksa oleh pihak berwenang. Namun, di penjara Tiongkok, kamp kerja paksa dan pusat-pusat penahanan yang digunakan untuk menahan praktisi Falun Gong, umumnya memiliki fasilitas tes darah rutin dan sistematis serta pemeriksaan organ termasuk ultrasound, pemeriksaan Urin dan lainnya. Tetapi fasilitas itu tidak digunakan untuk tahanan lain. Selain itu, tes darah merupakan langkah penting dalam transplantasi organ.

Laporan investigasi independen yang dilakukan oleh mantan Sekretaris Negara Kanada untuk Asia dan Pasifik David Kilgour dan pengacara hak asasi manusia internasional David Matas menyimpulkan dengan bukti yang cukup bahwa sejumlah besar praktisi Falun Gong yang telah hilang, dijebloskan ke dalam kamp kerja paksa, tahanan dan penyiksaan setelah tahun 1999. 

Itu merupakan satu-satunya sumber yang dapat menjelaskan ledakan pertumbuhan sumber organ yang ditransplantasikan. Kesimpulan itu disahkan oleh Komisaris Penyiksaan Perserikatan Bangsa Bangsa – PBB dan Manfred Nowak, Pelapor Khusus PBB untuk Penyiksaan yang pertama memasuki Tiongkok untuk melakukan investigasi penyiksaan.

Pemerintah Tiongkok enggan mempublikasikan jumlah terpidana mati setiap tahunnya. Saya pikir salah satu alasan penting adalah bahwa sejumlah besar terpidana mati itu adalah tahanan yang pelanggarannya tidak semestinya menerima hukuman mati, bahkan tahanan yang tidak berdosa, mereka menjadi tahanan nurani, hanya karena komunis Tiongkok mau mengambil organ mereka.

Yang membuat saya merasa sedih dan kasihan adalah mereka yang harus menemui ajal karena organ tubuhnya diambil paksa, juga para ahli medis termasuk teman sekelas lama yang tidak dapat memverifikasi tubuh yang disodorkan di atas meja bedah, apakah ia benar-benar seorang terpidana mati. 

Mungkin saja mereka pernah memikirkan hal ini, atau tidak berani berpikir lebih jauh, bahkan tidak berani menghadapinya. Jiwa-jiwa yang memiliki hati nurani ini harus menemui ajal di atas meja bedah dalam kegelapan malam. Setumpuk aksi horor masih berlanjut dengan cara yang sama. Para ahli medis yang dijuluki Malaikat Berbaju Putih itu dipaksa melakukan aktivitas iblis dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Mengenai pengambilan paksa organ dari tubuh hidup praktisi Falun Gong oleh komunis Tiongkok, saya secara tidak sengaja mendapatkan kesaksian tidak langsung dari 2 sumber sebagai berikut :

Orang pertama adalah ketika saya mengobrol dengan teman sekelas di universitas dan berbicara tentang topik ini. Ia mengatakan : “Kerabat saya bekerja dalam sistem medis militer. Kepada saya ia mengatakan bahwa benar komunis Tiongkok mengambil organ dari tubuh hidup praktisi Falun Gong.

Orang kedua adalah seorang mahasiswa lain yang memberitahu saya bahwa temannya adalah seorang pria muda yang bekerja di departemen pemerintah di negara Asia Tenggara. Ia perlu mengganti ginjalnya. Perusahaan membantunya menghubungi sumber ginjal di Tiongkok. Ia sendiri mencoba mencari tahu dari pihak Tiongkok tentang ginjal siapa yang akan ditransplantasikan. Dari penjelasan pihak Tiongkok ia mengetahui bahwa organ diambil dari tubuh praktisi Falun Gong yang sehat. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak pergi ke Tiongkok menerima transplantasi.

Untuk melindungi keamanan para saksi dalam teks, saya tidak dapat mengungkapkan informasi yang lebih spesifik tentang mereka. Saya harap para pembaca dapat memakluminya. Saya tidak perlu mengarang pengalaman pribadi saya sendiri. Saya juga percaya bahwa masih banyak teman yang memiliki pengalaman serupa. 

Saya berharap kalian dapat memberanikan diri, mengambil pena, dan mengekspos bukti relevan yang Anda ketahui. Setiap upaya kecil kita mampu menjadi pendorong bagi pengakhiran kejahatan pengambilan paksa organ yang akan membuat jera pelaku kejahatan dan menyelamatkan nyawa tak berdosa berikutnya yang akan dibunuh di atas meja bedah. (sin)

Lihat Sumbernya Aslinya [1]

Video Rekomendasi :