- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Sekularisme vs Religius : Apakah Manusia Berada di Persimpangan?

oleh Barbara Kay

Pada kolom pada bulan September untuk National Post, saya  membahas kebangkitan kontroversi baru-baru ini tentang “teori indah” Charles Darwin, mengikuti publikasi buku “Darwin’s Doubt” atau “Keraguan Darwin” tahun 2013 oleh Dr. Stephen Meyer, direktur Discovery Institute’s Center for Science and Culture.  

Dalam bukunya, Meyer membantah prinsip utama Darwin: bahwa semua bentuk kehidupan, termasuk manusia, telah berevolusi dari leluhur bersama melalui proses sederhana yang acak, heritable variation atau variasi yang diwariskan, dan seleksi alam.

Berbasis kepada misteri yang diakui secara universal yang dilontarkan oleh para ilmuwan fosil tekait  “ledakan Kambrium,” sebuah teori alternatif desain yang diajukan oleh Meyer menyajikan tidak kurang lebih rasional dari teori Darwin ke pikiran terbuka mana pun. Tampaknya lebih kongruen atau  sama dan sebangun dengan bukti yang ada di tangan sejumlah orang ilmuwan yang sangat dipercaya.

Saya menerima pukulan balik yang cukup keras, karena memberikan desain yang gemilang pada hari itu dari beberapa Darwinis yang gelisah.  Mereka tidak akan mendengar teori apa pun yang mengakui kemungkinan adanya sang Pencipta. Menuduh siapa pun kemungkinan dengan tuduhan literalisme alkitab semata, ketidaktahuan, dan permusuhan terhadap sains. Ada literalis alkitab yang percaya bahwa dunia secara harfiah diciptakan dalam enam hari, tetapi Dr. Meyer bukan salah satunya. 

Dari mana kemarahan yang begitu mendalam terhadap gagasan bahwa mungkin ada Pencipta? Karena itu, hanya merusak narasi utama kaum intelektual ateis. Mereka  melihat kepercayaan kepada Tuhan sebagai jalan primitif di jalan umat manusia menuju pencerahan secara total. Yang mana, didasarkan kepada doktrin materialisme dan penolakan transendensial.

Dalam visi progresif intelektual ateis, seluruh dunia pada akhirnya akan mengejar kepercayaan khas Barat bahwa agama adalah momok bagi kemanusiaan. Sedangkan hanya sekularisme rasional yang dapat memajukan masyarakat manusia dalam keadaan harmonis. 

Karena itu, bagi mereka, pengakuan terhadap kemungkinan pencipta utama adalah tindakan pembangkangan dan regresi intelektual, Dan, suatu bid’ah yang harus ditutupi — bukan dalam bentuk perdebatan, yang akan mendiskusikan masalah tersebut. Akan tetapi, melawannya dengan fitnah, cemoohan, dan tuduhan.

‘Perubahan Iklim Kultural’

Sekularisme memiliki sejarah yang sangat baik, sehingga ateis dapat dimaafkan karena menganggap hegemoniknya secara permanen dan tidak dapat disangkal. Walaupun demikian, tetap terhuyung-huyung di tengah-tengah apa yang dikatakan oleh Jonathan Sacks,  seorang rabbi dan cendekiawan Yudaisme di Inggris. Yang mana ia pernah menjabat sebagai Kepala Rabbi Kongregasi Serikat Ibrani Persemakmuran dari 1991 sampai 2013. Ia pernah  menyebutnya “perubahan iklim kultural.”

Dalam pidatonya yang direproduksi dalam Majalah Standpoint edisi Agustus 2017, Sacks menggambarkan perubahan iklim kultural sebagai “sebuah revolusi yang terbesar dan paling menentukan sejak ditemukannya pencetakan di Barat pada abad ke-15.” 

Seperti halnya perubahan iklim yang sebenarnya menghasilkan lebih banyak kondisi cuaca ekstrem, begitu juga perubahan iklim kultural. 

“Pola lama yang telah memerintah Barat selama empat abad telah rusak, yang baru belum muncul dan itu telah membawa kerusakan besar kepada pengalaman spiritual yang merupakan lapisan ozon kita.” Demikian pernyataan Sacks.

Pada abad ke-17, para ilmuwan seperti Newton dan filsuf seperti Descartes, mensekulerkan sains dan filsafat dengan mendasarkan pengetahuan kepada fondasi non-doktrinal. Revolusi abad ke-18, Amerika dan Prancis, kekuatan sekuler melalui pemisahan gereja dan negara.  Pada abad ke-19, budaya — ruang konser, museum, galeri seni — bertindak sebagai gereja sekuler yang memungkinkan orang untuk menghadapi yang agung tanpa menyembah Tuhan. 

Lalu pada abad ke-20 mensekulerkan moralitas, dengan pergolakan secara khusus seputar rubrik Yahudi-Kristen tentang kesopanan seksual, virginitas dan perkawinan. Sacks mendorong kembali terhadap asumsi bahwa paradigma hari ini akan bertahan. Di petak besar dunia — Timur Tengah, Afrika, Asia — kita melihat “dunia semakin religius, tidak kurang. Kita telah memulai era de-sekularisasi.”

Kekristenan dianggap sebagai kekuatan yang dihabiskan dalam masyarakat barat postmodern karena cabang-cabangnya yang liberal telah layu. Tetapi gereja-gereja konservatif berkembang di bagian dunia non-barat. Orang-orang di Barat berharap agama mengakomodasi diri dengan standar moralitas yang lebih tercerahkan, tetapi di tempat lain agama fundamentalis menekan sekularisme. 

“Separuh dari dunia semakin tidak religius. Separuh dunia menjadi lebih religius, dan ketegangan di antara mereka tumbuh setiap hari, ” demikian catatan Sacks.

Mengapa hal demikian terjadi? Sacks menarik perhatian kita pada dua buku yang sangat memengaruhinya. Pertama adalah buku “After Virtue” dari Alasdair MacIntyre (1981), yang mana Sacks gambarkan sebagai “pengubah kehidupan.” Tesis dasarnya adalah bahwa gagasan bahwa masyarakat dapat membangun moralitas di atas fondasi rasional — proyek Pencerahan — adalah sebuah kegagalan, dan bahwa kita adalah sekarang memasuki “zaman kegelapan baru.” 

MacIntyre menasehati orang-orang untuk berkontemplasi ke komunitas terpencil untuk melarikan diri dari “orang barbar.” Yang mana, dikenal sebagai “Opsi Benediktus” dalam buku eponymous Rod Dreher. Tokoh lainnya yang diperhatikan Sacks dengan hormat adalah Rabi Joseph Soloveitchik. 

Pada tahun 1965 Soloveitchik menerbitkan buku “The Lonely Man of Faith.” Isinya di mana ia berpendapat bahwa dua kisah penciptaan dalam Kejadian mewakili dua dimensi berbeda dari kondisi manusia. Manusia dalam penciptaan pertama, yang diciptakan menurut rupanya Tuhan, diperintahkan untuk “mengisi dunia dan menaklukkannya.” Ini adalah manusia sebagai yang “agung” dan kekaguman kepada alam.” 

Dalam penciptaan kedua, Tuhan menghembuskan kehidupan kepada debu tempat manusia diciptakan. Tuhan menempatkan mereka di Taman Eden, di mana tugas mereka adalah untuk menjaga dan melindungi karya Tuhan.  Pada versi ini, manusia adalah  “manusia perjanjian” atau dikenal dengan Konvenan. Ini adalah dikotomi kekal manusia: dorongan sekuler untuk mendominasi dan mengendalikan versus naluri religius untuk kerendahan hati dan kekaguman terhadap alam.

Rabi Sacks tidak membahas kecenderungan orang-orang yang menolak agama pendiri kultural mereka sendiri, dengan penghinaan hanya untuk terjerumus kepada pemujaan terhadap tuhan-tuhan palsu. 

Sifat manusia membenci kekosongan spiritual, itulah sebabnya para neo-Darwinis telah menguduskan “nabi” versi mereka dan mengapa environmentalisme, penyembahan Gaia – nama agama pagan baru yang telah berkembang dengan pesat.  Yang mana, sebagian besar berbasis agama dan haus akan para kudus, seperti aktivis remaja Swedia Greta Thunberg.

Kini, Rabi Soloveitchik mengatakan bahwa manusia yang agung dan sekuler begitu kuat sehingga perjanjian, kemanusiaan spiritual tidak dapat bersaing. Seperti MacIntyre, Soloveitchik menasihati kepada orang beriman untuk menjauhkan diri atau uzlah. Tetapi itu bukan pilihan bagi kebanyakan orang yang beriman. Kolumnis Barbara Kay menyimpulkan, bagi mereka yang menghormati manfaat luar biasa yang telah diberikan kepada dunia oleh Keimanan yang murni. Kita harus mengalahkan arus deras tersebut dengan cara yang kita bisa. 

Barbara Kay telah menjadi kolumnis mingguan untuk National Post sejak 2003, dan juga menulis untuk publikasi lain termasuk thepostmillennial.com, Canadian Jewish News, Quillette, dan The Dorchester Review. Dia adalah penulis tiga buku.