Eva Pu – The Epochtimes

Diperkirakan sebanyak 10.000 pekerja medis dan aktivis Hong Kong memenuhi pusat keuangan yang ramai pada, Sabtu 26 Oktober. Aksi itu sebagai unjuk rasa malam yang damai ketika protes anti-pemerintah memasuki akhir pekan ke-21.

“Hongkongers, bertahan!” demikian teriakan demonstran bersama-sama ketika penyelenggara, Michael Lau, mengakhiri pidatonya di Taman Chater yang penuh sesak di malam hari itu seperti dilaporkan oleh Epochtimes Hong Kong. 

Lau menuding aparat kepolisian telah menyebabkan cedera yang tidak perlu dan menganggu staf rumah sakit yang mencoba untuk merawat pengunjuk rasa yang terluka.

Aksi protes di Hong Kong bermula dari kemarahan publik pada bulan Juni lalu, terhadap undang-undang ekstradisi yang sekarang telah ditarik.  Sejak itu aksi protes telah berkembang menjadi seruan untuk kebebasan yang lebih besar di Hong Kong. Aksi juga sebagai oposisi terhadap lengan panjang kendali rezim Komunis Tiongkok di Hong Kong.

Polisi telah meningkatkan agresi mereka kepada demonstran, ketika gerakan yang tak henti-hentinya terus berlanjut. Polisi menyerang pedemo dengan gas air mata, meriam air, peluru karet, dan kadang-kadang dengan peluru tajam. 

Ribuan orang telah ditangkap karena aktivitas mereka. Undang-undang anti-masker yang baru diterapkan juga melarang siapa pun untuk mengenakan penutup wajah selama pertemuan publik, dalam upaya untuk menghalangi demonstran.

Pada rapat umum malam itu,  banyak aktivis dari semua lapisan masyarakat menyampaikan pengalaman mereka tentang penganiayaan polisi.

Seorang pria yang tidak menyebutkan namanya mengatakan, bahwa polisi secara sewenang-wenang menangkapnya ketika dia sedang berjalan di pedesterian.  Pria itu menuturkan, Polisi menghajar wajahnya ke jalanan tanpa peduli apakah dirinya bisa bernafas. Ia bahkan tidak mengetahui kejahatan apa yang dilakukan oleh dirinya.  Sejak insiden itu, si pria itu selalu trauma setiap kali pulang ke rumah. Ia khawatir, ada seseorang yang datang dari belakang dan mendekapnya. 

Dia juga mengatakan bahwa semprotan merica dari polisi membakar kulit di dadanya. Polisi juga memukulnya di kaki kirinya empat kali, setelah itu ia berjalan dengan pincang selama seminggu. Pria itu juga menceritakan penganiayaan polisi saat dalam tahanan, termasuk ditelanjangi di kantor polisi dan menolak akses ke pengacara atau perawatan medis.

Korban kebrutalan itu mengatakan, ketika dirinya mengalami penghinaan seperti itu, ia masih mengatakan  bahwa ia tidak melakukan kesalahan. Ia dengan teguh mengataka, bahwa polisi bisa menyalahgunakan tubuhnya. Meski demikian, tak bisa menghancurkan tekadnya.”

Para peserta rapat umum, banyak dari mereka menggunakan masker yang melawan dari larangan terbaru. Massa juga mengibarkan bendera dan spanduk Amerika yang mengutuk kekerasan aparat kepolisian.

Sekitar 22 persen pengunjuk rasa yang dirawat mengalami cedera tulang, menurut data yang dirilis pada rapat umum tersebut. 

Personil medis yang hadir mengatakan bahwa mereka sedih melihat warga sipil yang terluka.  Pengunjuk rasa memilih bantuan medis bawah tanah atau bahkan tidak ada perawatan sama sekali. Dikarenakan takut bahwa mereka dapat ditangkap karena melihat dokter. 

Mereka mencatat bahwa pasien reguler di rumah sakit juga menolak untuk memakai masker karena larangan masker, yang mana dapat menyebabkan lonjakan kasus flu musiman.

Penyelenggara reli juga memamerkan sederetan close-up korban cedera pengunjuk rasa, termasuk mata bengkak dan tangan yang terkilir.

Paul Au Yiu-kai, seorang ahli bedah dari Doctors Without Borders,  kepada The Epoch Times dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa sebanyak 90 persen dari demonstran yang terluka kemungkinan tidak mencari perawatan rumah sakit yang mereka butuhkan. Dikarenakan akan mengungkapkan identitas mereka. 

Yiu-kai saat ini berada di Hong Kong untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Seorang anak berusia 10 tahun yang ditangkap saat protes 6 Oktober saat berpidato mengatakan, Hong Kongnya pada hari ini benar-benar sakit. 

Sekitar 10 jam setelah penangkapannya, kepalanya bengkak begitu banyak sehingga dia dikirim ke rumah sakit, katanya. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada para profesional medis yang merawatnya, “tanpanya dia tidak akan bisa pulang secara keseluruhan.”

Wong Lok Yu, seorang dokter darurat di Rumah Sakit Queen Elizabeth mengatakan, dirinya tidak pernah berpikir bahwa bahkan pekerja medis suatu hari akan berdiri tegak dan berjuang. 

“Semua warga Hongkong ingin damai dan rasional pada awalnya, tetapi ketika semakin banyak fakta muncul, kita perlu melindungi diri kita sendiri,” katanya. 

Sekitar 300 jamaah Kristen bergabung untuk pertemuan doa di kawasan Chater Garden sehari sebelumnya. Mereka bermaksud mengungkapkan harapan bahwa pihak yang berkuasa mendengarkan pendapat umum. 

Mereka juga berdoa untuk yang terbaik bagi kaum muda, yang telah berada di garis depan gerakan pro-demokrasi yang sedang berlangsung hingga saat ini. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular