Eva Pu – The Epochtimes

Seorang tahanan hati nurani yang bernama Li Dianqi menceritakan kisah penyiksaan dan penganiayaan yang dialaminya selama ditahan secara paksa di Tiongkok. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak tahanan hati nurani yang ditindas oleh Komunis Tiongkok. 

Li Dianqi kepada The Epochtimes edisi Amerika Serikat mengatakan, dirinya pernah ambruk saat ke toilet di dalam kamp kerja paksa Tiongkok. Kala itu, pikirannya setengah terkubur dalam kekacauan. Dia mengira dirinya sudah berada di ambang maut.

Sebelum itu, para penjaga telah menyuntikkan kepada dirinya dengan obat-obatan yang tidak dikenal. Dia menjadi terlalu lemah untuk bergerak. Anggota tubuhnya menjadi merah dan bengkak, sementara ototnya tersentak. Dia bisa merasakan darah mengalir deras ke kepalanya. Li mengira dia akan meninggalkan dunia pana dengan tenang, meninggalkan semua kekotoran dan kekejaman yang dialaminya. Tidak ada lagi siksaan, tidak ada lagi sesi pencucian otak dan kerja paksa.

Untungnya, seorang napi lainnya memperhatikan ketidakhadirannya yang berkepanjangan dan datang untuk mencarinya. Dia  kembali siuman setelah menghabiskan tiga hari di rumah sakit.

Li dipenjara di Kamp Kerja Masanjia di Tiongkok yang terkenal kejam pada 2000 silam. Ia dikurung karena menolak melepaskan keyakinan kepada Falun Gong, sebuah latihan spiritual yang dilarang oleh  Komunis Tiongkok sejak setahun sebelumnya.

Dia melakoni latihan spiritual Falun Gong, yang meliputi latihan meditasi dan serangkaian ajaran moral, sekitar pada Tahun 1990-an. Ketika itu, dia menderita tumor, gagal usus, dan kelelahan kronis. Keluarganya yang juga mengikuti latihan spiritual itu, mengatakan, penyakit-penyakit yang pernah dideritanya sembuh tidak lama setelah dia memulai latihan.

Ia mengatakan, Falun Gong tidak hanya menyelamatkan hidupnya, tetapi juga menyelamatkan keluarganya. Ia kini tinggal di New York. Pernyataanya merujuk kepada putrinya, yang juga mendapat manfaat dari latihan spiritual Falun Gong.

Kampanye Nasional Komunis Tingkok

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, diperkenalkan di Tiongkok pada tahun 1992 silam.  Latihan itu dengan pesat menjadi sangat populer di Tiongkok, dengan 70 juta hingga 100 juta orang yang berlatih. Data itu,  bahkan menurut perkiraan resmi dari pihak pemerintah pada saat itu.

Li Dianqi menghubungkan popularitas latihan Falun Gong dengan ajaran moralnya, yang berpusat pada prinsip-prinsip Sejati-Baik-Sabar. 

Ia menuturkan, latihan Falun Gong mengajarkan orang-orang untuk bersikap baik,  memperhatikan orang lain, dan secara bertahap meningkatkan diri sendiri untuk menjadi orang yang lebih baik. Tentunya, prinsip tersebut membawa kebahagiaan bagi keluarga mereka. 

Namun demikian, rejim komunis Tiongkok yang dipimpin Jiang Zemin kala itu, menganggap popularitas Falun Gong sebagai ancaman bagi kontrolnya. Hingga pada 20 Juli 1999, Jiang Zemin meluncurkan penganiayaan secara nasional terhadap para pengikut Falun Gong. Dalam semalam, para praktisi Falun Gong mendapati diri mereka di garis silang kampanye brutal yang bertujuan untuk memberangus mereka. 

Televisi milik pemerintahan Komunis Tiongkok mulai menyiarkan propaganda secara terus menerus melawan disiplin latihan Spiritual itu. Bahkan, sebuah kantor ekstra-hukum yang dikenal Kantor 610 dibentuk untuk melaksanakan penganiayaan di semua bagian masyarakat, dari tempat kerja hingga sekolah hingga badan-badan pemerintahan.

Li Dianqi , seperti jutaan praktisi lainnya di Tiongkok, berpikir itu semua adalah kesalahpahaman. Jadi ketika sebuah gedung opera lokal di kota Yingkou, Tiongkok, memainkan sandiwara yang menjelek-jelekkan latihan itu pada tahun 2000, kala itu merupakan keharusan semua siswa sekolah hingga kelas 9 untuk menontonnya. Li dan empat praktisi lainnya ingin berbicara dengan manajer teater untuk mengklarifikasi fakta sebenarnya.

Ketika itu, Li Dianqi mengatakan kepada direktur opera itu tentang bagaimana praktik latihan Falun Gong membantu menyembuhkan penyakitnya dan mendapatkan lebih banyak pencerahan dalam kehidupan. Dia menyerukan kepada Direktur Opera itu untuk tidak menyebarkan propaganda.

Direktur Opera hanya menjawab bahwa dirinya mengikuti perintah. Dia kemudian mohon diri dan memanggil polisi. Sebagai hasilnya dirinya ditangkap dan ditahan.

Share

Video Popular