Xu Jian – Epochtimes.com

Sejak Chili mengumumkan keputusannya untuk membatalkan Konferensi Tingkat Tinggi – KTT APEC yang rencananya diadakan pada 16-17 November 2019, Amerika Serikat dan Tiongkok sedang merundingkan lokasi baru untuk penandatanganan perjanjian perdagangan tahap pertama.

Analisis media asing menyebutkan, pembatalan KTT APEC telah menambah ketidakpastian dari negosiasi perdagangan Tiongkok dengan Amerika Serikat yang menunjukkan “maju-mundur”. Karena selain konten negosiasi perdagangan yang sudah sulit, kedua negara sekarang dihadapkan pada persoalan baru yakni menemukan tempat penandatanganan yang cocok.

Dalam politik baik Amerika Serikat maupun Tiongkok, lokasi penandatanganan sangat penting. Karena memiliki hubungan yang kuat dengan strategi negosiasi kedua negara, itu bahkan dapat mencerminkan pergulatan kekuatan dari perjanjian antar kedua pihak. 

Pada awal tahun ini, pihak Tiongkok telah mengusulkan untuk memilih Pulau Hainan sebagai lokasi penandatanganan. Akan tetapi para pejabat Amerika Serikat faksi Elang berpendapat bahwa jika Trump pergi ke Hainan, itu sama dengan Washington yang berniat menunjukkan berbaik dengan Beijing yang akan mengurangi ruang gerak bagi Amerika Serikat untuk terus memberikan tekanan terhadap komunis Tiongkok. Itu sebabnya Trump tidak menyetujuinya.

Bloomberg membuat analisa sesuai perkembang situasi kedua pihak saat ini :

Amerika Serikat mengusulkan 3 lokasi

Akhir pekan lalu, Presiden Trump mengatakan bahwa ia ingin mengadakan upacara penandatanganan perjanjian dengan Xi Jinping di Amerika Serikat. Trump menyebutkan bahwa Iowa adalah tempat yang cocok. 

Itu belum final, menurut Menteri Perdagangan Wilbur Ross kepada Bloomberg, Amerika Serikat mempertimbangkan lokasi lain sebagai alternatif termasuk Hawaii dan Alaska.

Mengapa Iowa cocok untuk kedua pihak ?

Pertama, Xi Jinping pernah singgah di sana. Xi Jinping telah 2 kali mengunjungi kota pertanian Muscatine di Iowa. Ia tinggal di rumah seorang petani Amerika selama studi pertanian pada tahun 1985. Dan pada tahun 2012, Xi Jinping bersikeras untuk kembali ke kota Muscatine. Hal itu memberi inspirasi kepada petani dan pejabat setempat.

Sedangkan bagi Trump, jika negara bagian pertanian Iowa terpilih dapat menambah nilai  politiknya yang akan menghadapi pemilihan presiden tahun depan.

Bagaimana pertimbangan Trump

Dalam beberapa minggu terakhir, Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence, Sekretaris Negara Mike Pompeo dan politisi hawkish lainnya, serta mantan Ketua Gingrich telah meningkatkan serangan terhadap sistem komunis Tiongkok. 

Seruan umum mereka adalah bahwa Amerika Serikat sudah jelas melihat Tiongkok adalah negara komunis otoriter, bukan lagi negara yang ekonominya sedang berkembang yang dibayangkan pemerintah Amerika Serikat  di masa lalu. Pandangan itu telah diakui secara luas di Washington.

Oleh karena itu, Bloomberg percaya bahwa upacara penandatanganan di Amerika Serikat dapat membuat Trump membayar sejumlah harga. Presiden mungkin telah memberi kesan bahwa ia terlalu “hangat” terhadap Xi Jinping, sedangkan Trump seharusnya mempertahankan sikap keras terhadap Beijing demi kampanye pemilihan tahun 2020.

Pro dan kontra bagi Xi Jinping 

Bloomberg percaya bahwa bagi Xi Jinping, menandatangani perjanjian di Amerika Serikat tidak menguntungkan bagi peran orang kuatnya. Jika ia yang pergi ke Amerika Serikat untuk menandatangani perjanjian, Xi Jinping akan terkesan seperti seorang “peminta-minta”.

Itu berarti untuk mengekspresikan dirinya sebagai seorang kuat di republik, Xi Jinping dapat meminta Trump untuk membuat konsesi pada masalah perdagangan, seperti meminta Amerika Serikat untuk lebih lanjut menghapuskan tarif, atau meminta Amerika Serikat mengeluarkan perusahaan Tiongkok seperti Huawei dari daftar hitam.

Analisis lain adalah bahwa Tiongkok akan meminta Amerika Serikat untuk mengundang Xi Jinping dengan kunjungan kenegaraan resmi, tetapi itu mungkin dapat membuat para pejabat faksi elang Amerika merasa tidak nyaman.

Menandatangani perjanjian perdagangan atau tidak masih penuh teka-teki

Menteri Perdagangan Amerika Serikat Wilbur Ross mengatakan dalam forum bisnis ASEAN pada 4 November 2019 lalu, bahwa perjanjian perdagangan tahap pertama telah membuat kemajuan cukup besar. Namun, dunia luar berprediksi, meskipun perjanjian dapat segera ditandatangani, itu “gelombang” yang dapat merusak masih belum mereda.

Pekan lalu, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengizinkan Tiongkok untuk menjatuhkan sanksi terhadap komoditas Amerika Serikat senilai USD 3,6 miliar. Itu merupakan putusan final tentang gugatan yang diajukan oleh Tiongkok terhadap Amerika Serikat 6 tahun lalu. Namun hal itu dapat menambah ketegangan dalam perundingan perdagangan antar kedua negara yang masih sedang berlangsung. (sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular