Eva Pu – The Epochtimes

Sekitar 100.000 orang menghadiri acara nyala lilin di pusat pemerintahan Hong Kong pada Sabtu (9/11/2019). Acara itu digelar dalam rangka belasungkawa atas meninggalnya seorang mahasiswa. Ia adalah yang pertamakalinya menjadi korban dikonfirmasi terkait dengan tindakan polisi sejak aksi protes dimulai pada Juni lalu.

Melansir dari The Epochtimes, mahasiswa yang tewas itu adalah Alex Chow Tsz-lok berusia 22 tahun. Ia duduk di bangku kuliah ilmu komputer . Ia meninggal dunia sehari sebelumnya di rumah sakit setelah jatuh dari tempat parkir di Tseung Kwan O. Ketika itu polisi baru saja menembakkan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa.

Kematian Chow telah memperdalam kemarahan publik terhadap polisi. Yang mana telah secara luas dituduh menggunakan taktik kekerasan dan keberingasan,  untuk membubarkan pengunjuk rasa selama aksi protes yang sedang berlangsung.

Selama lima bulan terakhir, Hong Kong telah diwarnai oleh demonstrasi menentang pengaruh Komunis tiongkok yang semakin meningkat dalam urusan kota itu. 

Suasana pada rapat umum itu tercampur aduk antara kesedihan dan kemarahan, ketika kerumunan yang mengenakan pakaian hitam-hitam berkumpul dengan damai di Tamar Park di sebelah kantor pemerintah pusat untuk berdoa dan berkabung. 

Acara itu bertemakan “Para Martir Surga.” Rapat umum itu telah mendapatkan izin dari aparat kepolisian, sebuah persetujuan yang jarang diberikan. 

“Kematian bukanlah akhir, melainkan permulaan,” kata pengkhotbah Roy Chan dari Gereja Good Neighbor North District dalam rapat umum, setelah peserta mengheningkan cipta dalam hening. 

Panggung di sekelilingnya dipenuhi dengan karangan bunga putih dan seribu bangau kertas, sebuah simbol kedamaian dan harapan. Teriakan “balas dendam” sesekali terdengar dari kerumunan saat pengkhotbah berbicara.

Chan mengatakan bahwa doa-doa itu tidak hanya ditujukan untuk Chow, yang mana adalah seorang Kristen, tetapi juga untuk masa depan Hong Kong. “Warga Hongkong tidak akan membiarkannya berlalu, warga Hongkong akan mengingat semua ini,” demikian kata pengkhotbah. 

Seorang sukarelawan pertolongan pertama  yang bertopeng menangis ketika dia menyampaikan pengalamannya saat merawat para pemrotes yang mengalami luka-luka serius, itu terjadi setelah bentrokan dengan polisi di kawasan Tsuen Wan pada 5 Agustus lalu. 

Dia mengatakan dalam banyak kasus, para pemrotes mengalami luka-luka  dalam yang memperlihatkan tulang-tulang mereka. “Saya marah karena hanya bisa berbuat begitu sedikit,” kata petugas medis itu. 

Berdiri Tegak dengan Bersatu

Joshua Wong, yang menjadi terkenal sebagai pemimpin mahasiswa selama protes pro-demokrasi pada tahun 2014, mendorong orang-orang untuk bertahan dengan tetap tegak bersama-sama dalam mengantisipasi “kesulitan yang lebih besar di masa depan.”

“Selama gerakan protes ini, kami telah belajar bagaimana berdiri bersama-sama, berbagi suka dan duka, meskipun hari ini sulit bagi kita untuk membayangkan apa yang telah dialami teman sekelas kita Chow sebelum dia pergi dari dunia ini,” demikian sambutan Joshua Wong.

Polisi setempat dituduh menunda perawatan darurat kepada mahasiswa dengan memblokir jalan menuju tempat parkir, mengakibatkan paramedis harus berjalan kaki ke lokasi Chow. 

Polisi dalam sebuah pernyataan pada 8 November membantah tuduhan-tuduhan itu. Polisi mengumumkan akan meluncurkan penyelidikan atas kematian Chow.

Pada hari yang sama, tujuh orang legislator pro-demokrasi ditangkap atau diberitahukan bahwa mereka akan ditangkap karena dituduh mengganggu pertemuan Dewan Legislatif pada 11 Mei, di mana beberapa anggota parlemen terlibat perkelahian selama debat tentang ekstradisi yang sekarang sudah ditarik. RUU yang memicu meluasnya protes. 

Tuduhan tersebut bisa menyeret atas hukuman maksimal 12 bulan penjara dan denda 10.000 dolar AS. Khawatir dengan penangkapan itu, sebanyak 24 anggota parlemen pro-demokrasi mengeluarkan pernyataan bersama menyebutnya sebagai tindakan penindasan politik yang berarti “menuangkan minyak ke dalam api.” Polisi telah menangkap lebih dari 3.000 orang sejak protes meletus pada Juni lalu.

Seorang mahasiswa musik dari  daratan Tiongkok, Chen Zimou, dijatuhi hukuman di Hong Kong selama 7 hingga 6 minggu penjara. Itu setelah dia mengaku bersalah memiliki senjata ofensif selama protes pada bulan Juli.

 Dia membawa tongkat yang bisa ditarik saat protes digelar. Putusan itu menandai vonis atas kasus pertama yang diterima orang dari daratan Tiongkok, sehubungan dengan partisipasi mereka dalam gerakan protes.

Pengadilan Hong Kong juga menjatuhkan vonis bersalah kepada seorang siswa berusia 16 tahun atas tuduhan yang sama.  Dikarenakan, membawa laser pointer dan payung modifikasi di stasiun metro di sekitar lokasi protes pada 21 September.

Pada Konferensi Pers Citizen pada 9 November, sebuah kelompok yang mewakili para demonstran Hong Kong, seorang koordinator mengkritik polisi Hong Kong yang “berdarah dingin” mencoba “menjelaskan bagian mereka dalam kematian Chow.

Dia bersumpah bahwa Chow tidak akan mati sia-sia dan meminta pengunjuk rasa untuk menyalurkan kesedihan lebih lanjut dalam “perlawanan terhadap tirani.”

Menjelang akhir rapat umum, pendeta memimpin peserta untuk menyanyikan lagu “Haleluya.” Para peserta kemudian menyalakan telepon mereka dan melambaikan tangan mereka di udara, mengubah tamar Park menjadi lautan cahaya.

“Pada saat di mana sistem peradilan tidak lagi adil, kita warga Hongkong tidak akan pernah dikalahkan,” demikian perkataan seorang pemrotes yang mengenakan topeng pria.  Ia seraya menambahkan bahwa mereka akan terus “menolak haramnya aturan komunis.”

Seorang pemrotes juga berkata dengan mengutip kata-kata V for Vendetta yang berbunyi : “Di balik topeng ini, lebih dari sekedar daging. Di balik topeng ini ada sebuah pemikiran, pemikiran itu kebal peluru.”  

V for Vendetta adalah kisah dari novel yang menceritakan tentang seseorang berinisial “V” berjuang untuk menghancurkan rezim pemerintahan otoriter di Inggris.  (asr)

 

Share

Video Popular