Eva Pu – The Epochtimes

Sebuah universitas di Hong Kong bak menjadi medan pertempuran pada Selasa malam 12 November, ketika polisi anti huru hara menembakkan meriam air, gas air mata, dan peluru karet. Tindakan brutal aparat terjadi di tengah sengitnya perseteruan dengan para pengunjuk rasa.

Melansir dari The Epochtimes, Pada malam hari itu, polisi mendekati  Chinese University of Hong Kong (CUHK) di kawasan New Territories. Polisi lalu menembakkan tembakan gas air mata ke arah para siswa yang membangun barikade darurat untuk mencegah petugas masuk. Para mahasiswa membalasnya dengan melemparkan batu bata dan bom bensin ke polisi.

Wakil Rektor Chinese University of Hong Kong, Rocky Tuan termasuk di antara mereka yang terkena dampak gas air mata. Itu terjadi, setelah ia gagal menegosiasikan kesepakatan agar polisi menarik diri.

Polisi juga menembakkan proyektil. Polisi juga menghajar paling tidak seorang mahasiswa di mata dan wajahnya. Beberapa wartawan yang meliput kejadian itu juga terluka di kepala, menurut media setempat.

Sebelumnya masih pada hari yang sama, polisi anti huru hara juga merangsek masuk ke kampus Sha Tin Chinese University of Hong Kong dan melakukan beberapa penangkapan.  Gas air mata mengepul di lapangan olahraga universitas itu, ketika pengunjuk rasa melarikan diri dari kepolisian. Polisi juga menembakkan gas air mata di dalam kampus City University di daerah Kowloon Tong.

Para pengunjuk rasa memblokir jalan di dekat kedua sekolah itu pada 12 November pagi di tengah seruan mogok massal di seluruh kota. Aksi itu dipicu oleh kemarahan yang meluas atas kematian seorang pemrotes berusia 22 tahun, Alex Chow Tsz-lok. Chow, seorang mahasiswa teknik komputer. Ia meninggal pada 8 November setelah jatuh dari garasi parkir setelah bentrokan dengan polisi di kawasan Tseung Kwan O.

Pada hari yang sama, sebuah jembatan penyeberangan di pinggiran kampus menjadi lokasi kebuntuan selama berjam-jam di malam hari. Saat itu, polisi menembakkan gas air mata tak lama sebelum pukul setengah delapan malam waktu setempat, menurut Hong Kong Free Press.

Sebelum pada malam hari, Wakil Rektor Chinese University of Hong Kong juga telah berusaha untuk berbicara dengan polisi. Polisi menolaknya dengan mengatakan  bukan saatnya untuk berbicara dan memintanya pergi, menurut siaran media lokal RTHK. Polisi kemudian menembakkan gas air mata dari jarak dekat. 

Wakil presiden sekolah, Dennis Ng, mengatakan bahwa ia juga mencari gencatan senjata dengan polisi, tetapi diberitahu bahwa negosiasi tidak berguna, menurut laporan Stand News.

Sekitar pukul 22.00 malam itu, truk meriam air polisi tiba di jembatan, menembakkan air berwarna biru untuk membubarkan para pengunjuk rasa. 

Tak lama setelah itu, polisi mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka akan mundur dari  Chinese University of Hong Kong, dalam “mengejar solusi damai.” Tetapi wartawan di tempat kejadian menyaksikan gas air mata masih terus ditembakkan.

Pada pukul 23:30 malam, polisi mengeluarkan pernyataan lain, mengatakan bahwa mereka telah “mencapai konsensus” dengan universitas “dalam mencari solusi damai.” 

Mereka juga menuduh para pemrotes mengintensifkan situasi ke “tingkat yang mematikan.” Polisi mengatakan bahwa mereka  “Tidak ada pilihan selain mengerahkan kekuatan minimum yang diperlukan.”

Bentrokan berlanjut hingga hampir tengah malam di beberapa distrik setelah polisi menarik diri dari kampus, termasuk kawasan Tuen Mun, Tin Shui Wai, Yuen Long, dan Sham Shui Po.

Tak lama setelah tengah malam, tabung gas air mata menghantam pompa bensin di dekat kampus  Chinese University of Hong Kong, menyebabkan kebakaran besar.

Sebelumnya, beberapa ribu pemrotes juga menggelar demonstrasi di kawasan pusat bisnis saat makan siang. Mereka meneriakkan “lima tuntutan, bukan satu kurang,” sambil memegang satu tangan. 

Sejak Juni lalu, pengunjuk rasa menyerukan hak pilih universal. Mereka juga menyerukan penyelidikan atas dugaan kebrutalan polisi dalam demonstrasi yang dipicu oleh rancangan undang-undang ekstradisi yang sekarang sudah ditarik.

Pada  Senin 11 November, seorang petugas polisi menembak seorang pemuda berusia 21 tahun yang tidak bersenjata di perutnya. Tembakan peluru tajam itu menandai pemrotes ketiga yang kritis akibat peluru tajam yang ditembakkan selama kerusuhan. Penembakan polisi telah memicu kritik internasional, termasuk dari anggota parlemen AS, termasuk Senator Marsha Blackburn  yang menjulukinya dengan insiden “Lapangan Tiananmen 2.0.”

Reaksi Aparat

Dalam konferensi pers pagi hari pada 13 November, polisi mengatakan mereka telah mundur dari kampus Chinese University of Hong Kong pada pukul 10 malam hari setelah mengerahkan “kendaraan pengendali massa.” 

Juru bicara Polisi, Yolanda Yu, mengklaim, mereka mengerahkan petugas ke jembatan sebagai tanggapan atas pengunjuk rasa yang melemparkan  benda-benda ke jalan raya di bawah pada sore hari. Sehari sebelumnya, pemimpin Hong Kong Carrie Lam menuduh para pengunjuk rasa berencana untuk “melumpuhkan Hong Kong.” 

Pimpinan Hong Kong yang baru bertemu dengan petinggi Komunis Tiongkok di Tiongkok itu, juga menuduh demonstran “sangat egois.”  Carrie Lam menekankan bahwa dia tidak akan menyerah pada tuntutan “perusuh.”  Istilah perusuh sebuah narasi yang juga kerap dilontarkan media-media pro Komunis Tiongkok. 

Dalam konferensi pers sebelumnya, kementerian luar negeri Komunis Tiongkok mengatakan “pemerintah pusat dengan tegas mendukung” pemerintah Hong Kong dan kepolisian.

Otoritas Rumah Sakit Hong Kong mengatakan, merawat 51 orang yang terluka, berusia antara 10 bulan dan 81 tahun, selama bentrokan pada 12 November.  Sedangkan satu orang dalam kondisi serius.

Serikat mahasiswa dari setidaknya 14 sekolah mengeluarkan pernyataan pada 12 November yang mengutuk polisi dan berjanji untuk “hidup dan mati dengan Chinese University of Hong Kong” setelah bentrokan. Sementara itu, 24 legislator pro-demokrasi mengajukan permohonan mendesak untuk bantuan internasional. Mereka mengatakan bahwa penembakan gas air mata tanpa henti, telah mengubah universitas menjadi medan perang.

Mereka menambahkan bahwa polisi menembaki kampus, sebuah aksi yang menandai langkah pertama  sejak protes pro-demokrasi meletus pada Juni lalu. Tindakan aparat mengkhawatirkan dan mengindikasikan tindakan yang lebih keras dari pemerintah. 

Legislator pro Demokrasi juga mencatat, peningkatan kekerasan sejak Lam kembali dari perjalanan ke Beijing minggu lalu, ketika dia menerima dukungan dari pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping dan pejabat tinggi rezim yang mengawasi urusan Hong Kong.

Anggota parlemen tersebut yang dikutip The Epochtimes mengatakan, sebagai seorang elit yang dibesarkan di Hong Kong, Carrie Lam kini telah berubah menjadi monster. Itu terjadi, saat dia melaksanakan perintah untuk menekan mahasiswa yang berusaha mempertahankan sekolah dan kota mereka. 

Sekitar 660 akademisi dan administrator seluruh universitas di Hong Kong dan dari seluruh dunia, juga telah menandatangani pernyataan bersama . Isinya  mengutuk “serangan polisi” di kampus-kampus. 

Seruan bersama itu juga meningkatkan kekhawatiran bahwa polisi memasuki lapangan “tanpa target penangkapan yang jelas atau surat perintah penggeledahan.

Pernyataan bersama itu, juga mendesak pemerintah Hong Kong untuk menyelesaikan krisis dengan menahan diri dan mengingatkan kepada pemerintah  “mempertimbangkan kembali kemitraan dengan universitas-universitas Hong Kong di masa depan. Hal demikian untuk keselamatan mahasiswa yang berada dalam risiko dan pelanggaran secara terang-terangan atas kebebasan akademik dan intelektual yang terus berlanjut. (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular