Eva Pu – The Epochtimes

Enam surat kabar berbahasa Tionghoa terkemuka di Hong Kong menerbitkan advertorial yang sama di sampul halaman depannya. Isinya meminta orang-orang dengan penggunaan narasi “menentang kerusuhan.” Itu sehari setelah bentrokan sengit antara pengunjuk rasa dan polisi di kampus-kampus.

“Gunakan suara Anda untuk menentang kerusuhan dan menyelamatkan Hong Kong,” demikian bunyi narasi iklan itu. Narasi atau stempel tersebut sering diulang-ulang dan digunakan oleh pejabat Komunis Tiongkok dan Hong Kong yang menggambarkan pemrotes sebagai “perusuh.”

Malam sebelumnya menandai salah satu bentrokan paling kejam sejak aksi protes dimulai pada Juni lalu. Ketika itu, Polisi mengepung Chinese University of Hong Kong (CUHK) yang memuncak menjadi konflik selama berjam-jam dengan pengunjuk rasa yang berlangsung sampai larut malam. 

Saat itu, petugas menembakkan gas air mata, peluru karet dan meriam air. Sementara itu, para mahasiswa mengatur blokade dan melemparkan batu bata dan bom bensin sebagai tanggapan.

Polisi dalam jumpa pers 13 November menyatakan bahwa mereka menembakkan sebanyak 1.567 tabung gas air mata, 1.312 butir peluru karet, dan 380 butir  bean bag pada hari Selasa. Setidaknya 64 orang, yang termuda berusia 10 bulan, dirawat di rumah sakit karena bentrokan.

Chinese University of Hong Kong , hancur oleh kerusakan akibat bentrokan. Pihak kampus mengumumkan akan mengakhiri kuliah satu bulan lebih awal dan membatalkan semua kelas.

Menanggapi advertorial tersebut, penyanyi dan aktivis pop Hong Kong Denise Ho dalam cuitannya di Twitter pada 13 November,  mengekspresikan kekecewaannya dengan memposting foto dengan halaman depan dari delapan surat kabar yang berbeda diletakkan berdampingan. Dia mencatat bahwa Apple Daily, sebuah publikasi lokal, dan The Epoch Times adalah satu-satunya media cetak yang memilih untuk fokus pada aksi protes. Pesan iklan diarahkan kepada warga Hongkong karena memilih dalam pemilu distrik pada 24 November. 

Meskipun penangkapan beberapa kandidat politik akhir pekan lalu, telah menimbulkan kekhawatiran bahwa pemilu mungkin bakal ditunda.

Surat kabar yang memuat iklan itu termasuk Wen Wei Po, yang dikenal karena sikapnya yang pro-Komunis Tiongkok, bersama dengan Ming Pao, Hong Kong Economic Journal, Hong Kong Economic Times, Sing Tao Daily dan Oriental Daily News.

Menurut laporan investigasi 2015 oleh Next Magazine, sebuah publikasi di Hong Kong, Kantor Penghubung Tiongkok — kantor perwakilan Beijing di Hong Kong — sepenuhnya memiliki perusahaan shell di Provinsi Guangdong, yang juga memiliki Wen Wei Po. 

Laporan itu juga mengatakan bahwa kantor tersebut memiliki Sino United Publishing, sebuah perusahaan Hong Kong yang mendominasi industri penerbitan buku di kota itu dengan pangsa pasar yang dilaporkan sebesar 80 persen. Ming Pao dan Sing Tao adalah dua media Tionghoa yang awalnya didirikan di Hong Kong sebagai suara independen. Akan tetapi sejak itu jatuh di bawah pengaruh Beijing, menurut laporan Institut Hoover 2018.

Charles Ho Tsu-kwok, ketua Sing Tao News Corporation dan anggota komite tetap Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok, sebuah badan penasihat untuk Komunis Tiongkok, telah berulang kali mengkritik para pengunjuk rasa pro demokrasi selama lima bulan terakhir. 

Pada 3 Oktober lalu, dua hari setelah polisi menembak dan melukai seorang pemrotes berusia 18 tahun, harian Sing Tao memuat dua editorial yang ditulis oleh Charles Ho Tsu-kwok. Di mana ia mengkritik pemerintah Hong Kong karena “sangat lembek.” Ia mendesak pemimpin kota itu Carrie Lam untuk melarang pengunjuk rasa memakai topeng.

Dia mengklaim bahwa tanpa topeng, “perusuh” tidak akan memiliki keberanian untuk “secara terbuka melanggar hukum.” Pemerintah Hong Kong mengumumkan larangan topeng sehari kemudian.

Pada awal Januari, Dewan Urusan Daratan Taiwan melarang wartawan Wen Wei Po datang ke Taiwan hingga tiga tahun. Dikarenakan, diduga menguntit tiga aktivis pro-demokrasi Hong Kong.

Ming Pao belakangan ini juga mengundang kontroversi karena sikapnya yang pro-komunis Tiongkok selama gerakan Hong Kong.

Pada 13 Juni, sehari setelah polisi menggunakan kekuatan untuk pertama kalinya sejak protes massa pecah, yang menyebabkan 81 orang terluka, surat kabar itu memuat editorial yang menyebut protes itu sebagai kerusuhan dan menyalahkan sekelompok “radikal” atas konflik tersebut.

Setelah artikel itu, seorang penerjemah menolak menerjemahkan artikel itu ke dalam bahasa Inggris. Sekelompok karyawan Ming Pao juga memprotes artikel tersebut. Mereka menempelkan poster di jendela kantor yang mengatakan bahwa editorial itu tidak mewakili pendapat karyawan. 

Sekelompok karyawan juga menulis surat terbuka yang mengkritik artikel tersebut. Dikarenakan, mengabaikan peran polisi dalam meningkatkan aksi protes.

Reporter Without Borders kelompok advokat telah menurunkan peringkat kebebasan pers Hong Kong dari 18 menjadi urutan 73 dalam Indeks Kebebasan Pers terbarunya. Laporan itu  mengutip “pengaruh buruk Beijing.” Indeks yang sama juga menempatkan Tiongkok sebagai salah satu pelaku pelanggaran kebebasan pers terburuk di dunia.

Dalam jajak pendapat Mei 2019 yang dilakukan oleh University of Hong Kong, lebih dari 1.000 peserta memberikan kebebasan pers Hong Kong skor keseluruhan 5,81 pada skala 1 hingga 10, menandai rekor terendah sejak Tahun 1997.

Dalam sebuah laporan Juli, Asosiasi Jurnalis Hong Kong membunyikan alarm tentang “Pencekikan” media. Laporan mengatakan bahwa 12 bulan terakhir adalah “salah satu tahun terburuk” bagi kebebasan pers di Hong Kong.  (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular