oleh Li Yun – NTDTV.com

Seluruh jalan menuju Hong Kong Polytechnic University (PolyU) telah diblokir polisi, termasuk jalan keluar universitas pada Minggu 17 November 2019 lalu. Semua reporter media di sekitarnya juga ditolak untuk masuk ke daerah yang telah diamankan oleh Kepolisian Hongkong. Pesan-pesan di Twitter dan Facebook melaporkan bahwa pemblokiran ala pembantaian mahasiswa Tiananmen pada 4 Juni 1989 sedang berlangsung di PolyU. Ratusan mahasiswa itu terpaksa melakukan perlawanan hidup mati.

Minggu 17 November 2019 sekitar jam 9 pagi, polisi anti huru hara Hongkong menembakkan gas air mata di luar kampus PolyU untuk membubarkan para mahasiswa. Situasi hampir seperti  medan perang. 

Markas militer komunis Tiongkok, yakni Gun Club Hill Barracks yang berada di sebelah dijaga ketat oleh tentara bersenjata dengan bayonet di moncong senjata.

Pada pukul 13:54, dalam kampus PolyU, terdapat 2 buah kendaraan meriam air dan 1 buah kendaraan lapis baja. Meriam air menyemprotkan cairan berwarna biru dengan membabi buta. Setelah itu menyemprotkan cairan putih. Lalu kedua warna itu disemprotkan secara bersamaan. dan gas air mata ditembakkan. Meriam gelombang sonik untuk kali pertama  digunakan untuk berurusan dengan mahasiswa pengunjuk rasa.

Menjelang pukul 6 sore, polisi dengan menggunakan kendaraan lapis baja  mendobrak dan menggilas melewati rintangan jalan yang sengaja dipasang mahasiswa untuk menguasai jembatan layang di depan Stadion Hung Hom. 

Polisi juga beberapa kali menembakkan gas air mata dan bola lada dari atas jembatan di timur Tsim Sha Tsui kepada kerumunan orang. 

Sementara itu ada polisi anti huru hara yang mengangkat senapan otomatis AR-15 untuk menakut-nakuti, dan untuk pertama kalinya senjata diarahkan kepada reporter media seakan-akan melepaskan tembakan.

Pada jam 8 malam, 2 buah kendaraan lapis baja digerakkan dengan cepat menuju kerumunan mahasiswa, tetapi dipaksa mundur oleh lemparan bom molotov mahasiswa.

Pada pukul 20:20, daerah sekitar PolyU dikelilingi oleh militer dengan senjata berat, dan warga dilarang mendekat. Para reporter media dan mahasiswa yang berada dalam kampus tidak diizinkan untuk keluar.

Pada saat itu, pesan-pesan tertulis di Facebook dan Twitter menyebutkan bahwa adegan pembantaian mahasiswa Tiananmen 4 Juni 1989 kembali muncul di PolyU. Kampus PolyU telah dikepung oleh polisi anti huru hara. Ratusan orang mahasiswa terpaksa melakukan perlawanan hidup mati.

Semua jalan untuk keluar masuk ke kampus dan dari kampus PolyU  diblokir. Siapapun termasuk reporter media tidak dapat lagi masuk ke dalam lokasi yang sudah dikuasai polisi. 

Netizen Hongkong mengatakan bahwa masih ada ratusan orang mahasiswa berada dalam kampus. Jika tidak ada dukungan, mereka hanya menghadapi 3 buah situasi akhir.

Situasi pertama,  terus melakukan perlawanan. Polisi akan menekan dengan kekuatan yang lebih besar, dan akan ada korban jiwa.

Situasi kedua, terus melakukan perlawanan. Polisi menunggu sampai persediaan sekolah seperti bom molotov, bahan-bahan pendukung, pasokan air, makanan dan obat-obatan, habis. Saat itu, ratusan mahasiswa  akan didakwa dengan melakukan kerusuhan, pembakaran dan mereka dapat terkena hukuman penjara sampai sepuluh tahun.

Situasi Ketiga, tidak lagi melakukan perlawanan. Polisi bisa langsung masuk ke dalam kampus untuk menahan mereka. Ratusan orang itu akan didakwa dengan melakukan kerusuhan, pembakaran dan mereka dapat terkena hukuman penjara sampai sepuluh tahun.

Pada pukul 15:00 pada hari itu, seorang reporter dari media ‘Maddog’ mendapat semprotan air dari kendaraan meriam air yang sengaja diarahkan kepadanya. Pemimpin redaksi dari media tersebut membenarkan bahwa reporternya mengalami patah tulang dan pendarahan otak. Reporter itu harus segera menjalani pembedahan otak untuk mengekstraksi stasis darah.

Media itu lebih jauh menyatakan kemarahan terhadap pemerintah dan polisi Hongkong yang telah melakukan semua jenis kekejaman terhadap warga Hongkong sejak bulan Juni 2019 lalu, terutama secara sadar menyerang reporter yang berada di garis depan. 

Tindakan tercela, seperti pembunuhan, melampaui garis bawah peradaban manusia. Pemerintah dan polisi Hongkong harus bertanggung jawab secara hukum atas kejadian itu dan akan dituntut terkait kompensasinya. (sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular