Reuters/The Epochtimes

Polisi anti huru hara dan pasukan keamanan bentrok dengan demonstran di ibu kota Iran, Teheran. Bentrokan itu juga terjadi di puluhan kota di Iran pada Sabtu (16/11/2019).  Laporan tersebut mengutip keterangan kantor berita Iran dan media sosial yang dilansir oleh Reuters.  Aksi protes terhadap kenaikan harga bensin berubah ke arah rezim Ayatollah Khomeini.

Laporan mengatakan para demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-rezim di seluruh negeri. Aksi digelar sehari setelah pemerintah menaikkan harga bensin reguler menjadi 15.000 real Iran per liter dari 10.000 real dan sesuai dengan jatah masing-masing. 

Televisi pemerintah mengatakan, polisi bentrok dengan massa yang disebut media pemerintah dengan narasi perusuh. Insiden itu terjadi di beberapa kota. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

Satu orang terbunuh dan beberapa lainnya cedera di kota Sirjan di provinsi Kerman pada hari Jumat lalu, menurut kantor berita ISNA mengutip seorang pejabat setempat mengatakan pada hari Sabtu lalu.

“Orang-orang menyerang gudang penyimpanan bahan bakar di Sirjan dan mencoba membakarnya,” demikian bunyi laporan kantor berita IRNA.

Menteri Dalam Negeri Iran, Abdolreza Rahmani Fazli kepada TV pemerintah mengklaim  pasukan keamanan “sejauh ini menunjukkan pengekangan” tetapi akan bertindak untuk memulihkan ketenangan jika para demonstran “merusak properti publik.”

Video yang diposting di media sosial dari dalam Iran menunjukkan pengunjuk rasa membakar bangunan dan bentrok dengan polisi anti huru hara. Video-video itu juga disiarkan oleh televisi Al-Hadats.

Dalam video-video lain, para pengunjuk rasa memblokir jalan-jalan dan membakar jalanan di Teheran dan beberapa kota lainnya. Beberapa meneriakkan slogan-slogan menentang pejabat tinggi.

Video dan gambar lain di media sosial tidak dapat diverifikasi oleh Reuters. Seorang saksi mata, yang meminta tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada Reuters melalui sambungan telepon bahwa orang-orang sangat marah di kota Shiraz. Ia sempat mendengar suara tembakan. Ratusan orang di jalanan. Massa  membakar mobil polisi pada pagi hari. 

Media Iran menjelaskan, aksi protes menyebar ke sedikitnya 40 kota besar dan kota kecil pada hari Sabtu 16 November. 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo mendukung para demonstran. Ia menulis dalam cuitannya di Twitter yang menyebutkan :  “Seperti yang saya katakan kepada orang-orang Iran hampir satu setengah tahun yang lalu: Amerika Serikat bersama Anda.”

Video di media sosial menunjukkan polisi anti huru hara menembakkan gas air mata dan menggunakan pentungan untuk membubarkan pengunjuk rasa di beberapa kota.

 Sebuah video yang dibagikan di Twitter menunjukkan pengunjuk rasa membakar sebuah bank. TV yang dikelola pemerintah menuduh “media yang bermusuhan” berusaha membesar-besarkan ukuran demonstrasi dengan “menggunakan berita dan video palsu di media sosial.”

Jaksa Agung Iran, Mohammad Jafar Montazeri mengatakan kepada TV pemerintah, bahwa para demonstran yang memblokir jalan-jalan dan bentrok dengan pasukan keamanan “jelas-jelas berakar di luar negeri.” Narasi yang disampaikannya membuat referensi terselubung ke Amerika Serikat.

Sementara itu, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mengutuk “penggunaan kekuatan mematikan dan pembatasan komunikasi  yang digunakan terhadap demonstran.”

Sekretaris Pers Gedung Putih Stephanie Grisham dalam siaran persnya mengatakan, Teheran secara fanatik mengejar senjata nuklir dan program rudal, dan mendukung terorisme. Tehran juga mengubah negara yang bangga menjadi kisah peringatan lain tentang apa yang terjadi. Hal demikian ketika kelas penguasa meninggalkan rakyatnya dan memulai perang salib untuk kekuasaan dan kekayaan pribadi.” 

Ungkapan Meningkatnya Biaya Hidup

Pengunjuk rasa melihat kecepatan internet yang lebih lambat dan akses yang terbatas, seperti diungkap dalam laporan media sosial. Langkah itu dinilai sebuah upaya nyata dari pihak berwenang untuk membatasi komunikasi antara demonstran.

Banyak rakyat Iran menilai negara penghasil minyak maka bensin murah sebagai hak nasional. Sedangkan kenaikan harga-harga memicu kekhawatiran tentang tekanan lebih lanjut soal biaya hidup. Meskipun ada jaminan dari otoritas Iran, bahwa pendapatan yang meningkat akan digunakan untuk membantu keluarga yang membutuhkan.

Perjuangan rakyat untuk memenuhi kebutuhan telah memburuk sejak tahun lalu, ketika Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian nuklir Iran tahun 2015 dengan enam kekuatan. AS akhirnya menerapkan kembali sanksi kepada rezim Iran.

Dikombinasikan dengan meningkatnya inflasi, meningkatnya pengangguran, kemerosotan dalam korupsi negara, kebijakan “tekanan maksimum” Washington telah semakin melumpuhkan perekonomian Iran.

Penguasa para mullah Iran, sangat ingin mencegah terulangnya kerusuhan pada akhir 2017 silam. Ketika itu, orang-orang menggelar protes di 80 kota besar dan kecil karena standar hidup yang buruk. Demonstran menyerukan kepada para pemimpin ulama Syiah untuk mundur. Para pejabat Iran mengatakan 22 orang tewas dalam aksi protes itu. (asr)

Share

Video Popular