Jack Phillips – The Epochtimes

Menyusul kejutan dari Presiden Donald Trump untuk mengunjungi pasukan AS, Taliban mengatakan pada hari Jumat 29 November bahwa mereka siap untuk memulai kembali perundingan damai dengan Amerika Serikat.  Hal demikian dilakukan di tengah konflik yang terjadi selama 18 tahun di Afghanistan.

“Taliban ingin membuat kesepakatan. Kami akan melihat apakah mereka ingin membuat kesepakatan. Itu harus menjadi kesepakatan yang nyata, tapi kita akan lihat,” demikian pernyataan Trump setelah ia tiba di Afghanistan pada hari Thanksgiving.

Trump mengatakan, Taliban hanya ingin melanjutkan pembicaraan damai karena pasukan Amerika “melakukan pekerjaan dengan baik” di negara itu.Trump hanya itulah satu-satunya alasan, Taliban ingin membuat kesepakatan. Oleh karena itu, Trump menyatakan sangat terkesan dan ingin mengucapkan terima kasih.

Berbicara kepada wartawan, Trump juga mengatakan bahwa “kami bertemu dengan mereka,” pernyataannya mengacu kepada Taliban. 

“Kami mengatakan harus ada gencatan senjata dan mereka tidak mau melakukan gencatan senjata dan sekarang mereka mau melakukan gencatan senjata, Saya percaya mungkin akan berjalan seperti itu.” 

Demikian yang disampaikan Trump di pangkalan udara Bagram yang terletak di dekat ibu kota, Kabul, Afghanistan. Presiden Donald Trump melakukan perjalanan pertamanya ke Afghanistan pada Hari Thanksgiving, dengan kunjungan kejutan untuk bertemu dengan pasukan AS di Afghanistan.

Trump tiba di Pangkalan Udara Bagram tanpa pemberitahuan saat pasukan menunggu makan malam Thanksgiving mereka. Awal tahun ini, Gedung Putih membatalkan negosiasi perdamaian dan Trump menyatakan pembicaraan itu “mati” setelah organisasi teroris mengklaim bertanggung jawab atas pemboman yang menyebabkan belasan orang tewas, termasuk seorang warga Amerika, di Kabul.

Tetapi pada hari Jumat lalu, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kelompok itu “siap untuk memulai kembali perundingan.”

Mujahid kepada kantor berita Reuters mengatakan, sikap pihaknya masih sama. Jika pembicaraan damai dimulai, maka akan dilanjutkan dari tahap di mana pembicaraan itu  berhenti. 

Para pemimpin Taliban telah terlibat dalam pertemuan dengan para pejabat AS di Doha, Qatar, selama sekitar seminggu terakhir dan mengatakan pembicaraan damai formal dapat dilanjutkan. 

Seorang komandan senior Taliban mengatakan, pihaknya berharap bahwa kunjungan Trump ke Afghanistan akan membuktikan bahwa ia serius untuk memulai lagi pembicaraan. Saat ini ada sekitar 13.000 pasukan AS serta ribuan tentara NATO di negara itu.

Selama kunjungan Kamis lalu di Afghanistan, Trump bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang menulis di Twitter bahwa kedua pemimpin telah “membahas kemajuan penting yang telah dibuat bersama dalam upaya militer di medan perang” serta perlunya gencatan senjata dengan Taliban.

Trump juga menyampaikan pidato kepada pasukan, menyebutkan kemenangan militer AS baru-baru ini di Suriah. 

Dia mencatat bahwa pemimpin kelompok teroris ISIS Abu Bakar al-Baghdadi “sudah mati” dan bahwa orang nomor dua nya juga mati. Trump mengatakan bahwa Al-Baghdadi membantai orang-orang, termasuk warga AS.

Trump kemudian mengatakan bahwa negara-negara Eropa, dari mana beberapa pejuang ISIS datang, harus berurusan dengan banyak teroris ISIS yang ditahan di Suriah.

Kunjungan Trump setelah sekitar satu minggu  kecelakaan helikopter di Afghanistan membawa jumlah kematian pasukan AS di Afghanistan tahun ini menjadi 19 jiwa. Setidaknya 2.400 orang Amerika telah tewas dalam konflik selama beberapa dekade.

Jenderal Khoshal Sadat, pejabat polisi berpangkat tertinggi di Afghanistan, mengatakan kepada CBS bahwa kehadiran Amerika Serikat masih “kritis”  selama 18 tahun.” Ia mengatakan, Al Qaeda berasal dari Afghanistan, dan negara itu masih memiliki sisa-sisa al Qaeda di kantong-kantong tertentu. 

“Kami juga melihat ISIS, dan kami telah melihat koneksi ISIS ke seluruh dunia. Akan sulit jika pasukan AS pergi, Kita harus membuat keputusan serius di mana kita ingin mengkonsolidasikan upaya kita,” demikian pernyataan Jenderal Khoshal Sadat.   (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular