Isabel Van Brugen

Akun TikTok seorang remaja AS diblokir setelah dia memposting video yang menceritakan perlakuan Komunis Tiongkok terhadap Muslim Uighur dan etnis minoritas lainnya di Xinjiang. Perusahaan yang berbasis di Beijing tersebut dinilai berusaha “menutupi” fakta kebenaran.

Dalam sebuah video tiga bagian yang kini viral, dengan cerdiknya gadis itu membuat tutorial tentang melentikkan bulu mata. Gadis yang bernama Feroza Aziz tersebut adalah seorang siswa sekolah menengah berusia 17 tahun dari New Jersey, Amerika Serikat.

Ia memberitahukan kepada pemirsa untuk “menyebarkan kebenaran” tentang pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang. Di mana diperkirakan setidaknya satu juta muslim Uighur — kemungkinan lebih banyak — ditahan di jaringan kamp konsentrasi massal di wilayah tersebut.

“Kemudian kamu meletakkan [penjepit bulu mata] ke bawah dan menggunakan ponsel…untuk mencari tahu apa yang terjadi di Tiongkok, bagaimana mereka mendapatkan kamp konsentrasi, melemparkan Muslim yang tidak bersalah di sana, memisahkan keluarga satu sama lain, menculik mereka, membunuh mereka, memperkosa mereka, memaksa mereka makan daging babi dan minum alkohol, memaksa mereka pindah keyakinan, jika tak bersedia melakukannya mereka akan dibunuh,” demikian yang disampaikan Feroza dalam video tersebut.

“Mereka yang masuk ke sana tidak akan kembali. Ini adalah Holocaust lain, namun belum ada yang membicarakannya. Perlu diketahui, tolong sebarkan kondisi di Xinjiang sekarang,” demikian tambah Feroza.

Tak lama setelah video tersebut beredar, remaja Muslim Amerika Serikat tersebut mengatakan bahwa akun TikToknya diblokir lebih dari sebulan. Ia kemudian membagikan tangkapan layar di Twitter tentang pesan yang diterima. Isinya menyatakan bahwa pemblokiran tersebut disebabkan oleh “berbagai pelanggaran terhadap Pedoman Komunitas kami.”

Jaringan media sosial, yang dimiliki oleh ByteDance Beijing, kemudian mengeluarkan pernyataan publik yang meminta maaf karena menangguhkan akun TikTok Feroza. Akan tetapi terus menyangkal penangguhan itu ada hubungannya dengan “konten yang terkait dengan Tiongkok.”

Sebaliknya, aplikasi media sosial itu mengatakan dalam sebuah pernyataan dengan mengklaim akun remaja itu dimoderasi karena memposting video satir pada akun terpisah, yang sebelumnya dihapus “yang mana termasuk ada gambar Osama bin Laden.”

Seorang juru bicara TikTok kemudian mengklaim, bahwa video itu dihapus untuk 50 menit karena “kesalahan moderasi manusia.”

Dalam sebuah wawancara telepon dengan The Epoch Times edisi Amerika Serikat, Feroza mengatakan dia percaya pernyataan TikTok itu “mencurigakan” dan “tidak cocok sama sekali.” Dia menambahkan, video yang dia unggah bulan lalu di akun terpisah menyoroti krisis kemanusiaan di Xinjiang juga dihapus dari video Tiktok.

Dia menambahkan, meskipun akunnya telah dipulihkan, dia percaya hal demikian terjadi karena meluasnya liputan media setelah pelarangan tersebut terjadi.

“Saya pikir permintaan maaf itu sangat mencurigakan dan mereka menutupi apa yang terjadi,” demikian keterangan Feroza.

“Bagi mereka yang mengatakan bahwa akun saya dihapus karena video satir yang saya bikin pada akun sebelumnya yang keduanya dihapus — saya sangat ragu,”

“Saya pikir mereka memulihkan akun saya karena mereka terbelah di bawah tekanan dan mereka sadar bahwa dunia telah mengetahui kebenarannya,” demikian yang disampaikan Feroza.

Gadis 17 tahun tersebut menyebut dirinya sebagai aktivis hak asasi manusia. Ia juga mengatakan kepada The Epoch Times bahwa dia merasa sangat aneh bahwa TikTok tidak secara langsung meminta maaf kepadanya, sejak ia mengirim email kepada mereka pada pagi hari 26 November.

Feroza menambahkan, dirinya tidak mengetahui mengapa Tiktok mengeluarkan begitu banyak pernyataan publik dan masih belum berbicara kepada dirinya. Ia mengatakan, hal demikian sangat aneh.

Sejumlah pejabat Komunis Tiongkok justru mengklaim penahanan massal di antara populasi Uyghur, yang mayoritasnya sebagai Muslim, adalah bagian dari langkah-langkah untuk menindak terorisme, ekstremisme agama, dan separatisme di negara itu. Stempel-stempel tersebut adalah tuduhan yang kerap dilontarkan oleh Komunis Tiongkok.

Komunis Tiongkok selalu merujuk pada “ancaman ekstremis” sebagai pembenaran terhadap pengawasan secara ketat dan tindakan keras terhadap Uyghur dan kelompok etnis minoritas lainnya di wilayah Xinjiang.

Muslim Uighur di wilayah Xinjiang ditahan karena alasan seperti menghubungi teman atau kerabat mereka di luar negeri, bepergian ke negara asing, menumbuhkan jenggot, dan menghadiri pertemuan keagamaan. Hal demikian diungkapkan muslim Uighur yang memiliki anggota keluarga di kamp konsentrasi kepada The Epoch Times.

Catatan sumber tangan pertama kepada The Epoch Times juga mengungkapkan, upaya pihak berwenang untuk melucuti tahanan Uighur dari budaya dan bahasa mereka — seperti yang dilakukan Komunis Tiongkok kepada rakyat Tiongkok dan Tibet selama revolusi kebudayaaan. Cara tersebut memaksa mereka untuk mencela keyakinan dan mengikrarkan janji kesetiaan kepada Partai Komunis Tiongkok dan pemimpinnya. Jika tahanan gagal mengikuti perintah, mereka dapat dikenakan beberapa bentuk penyiksaan sebagai hukuman.

Share

Video Popular