TikTok Menghadapi Serangan Balik

Berita penangguhan akun Feroza oleh TikTok — yang memiliki lebih dari 700 juta pemirsa global — menghadapi pengawasan secara ketat.

Aplikasi video tersebut sebelumnya mendapatkan kecaman setelah pedoman moderasi bocor awal tahun yang menyatakan bahwa video berisi referensi pembantaian Lapangan Tiananmen pada tahun 1989, kemerdekaan Tibet, dan Falun Gong, di antara kriteria lainnya, harus disensor.

Sementara pedoman itu tidak membuat referensi spesifik ke Xinjiang yang berisi “topik yang sangat kontroversial, seperti separatisme, konflik sekte agama, konflik antara kelompok etnis, misalnya membesar-besarkan konflik sekte Islam” harus dimoderasi, demikian dilaporkan oleh The Guardian.

Sementara itu, laporan terbaru diterbitkan dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI) atau Institut Kebijakan Strategis Australia berjudul “Memetakan lebih banyak raksasa teknologi Tiongkok: Kecerdasan Buatan dan Pengawasan,” menemukan bahwa ByteDance secara aktif “berkolaborasi dengan biro keamanan publik di seluruh Tiongkok, termasuk di Xinjiang” untuk menyebarluaskan propaganda Komunis Tiongkok di wilayah tersebut.

Perusahaan teknologi tersebut menandatangani “perjanjian kerja sama strategis” pada bulan April dengan Biro Pers dan Publisitas Kementerian Keamanan Publik Komunis tiongkok. Tujuannya untuk “mempromosikan” pengaruh dan kreadibilitas “departemen kepolisian secara nasional” terkait Douyin versi TikTok di Tiongkok.

“Berdasarkan perjanjian tersebut, semua tingkat dan divisi unit polisi dari Kementerian Keamanan Publik hingga polisi lalu lintas tingkat kabupaten akan memiliki akun Douyin mereka sendiri untuk menyebarkan propaganda,” demikian bunyi laporan ASPI.

“Perjanjian tersebut juga dilaporkan mengatakan bahwa ByteDance akan meningkatkan kerjasama offline dengan kepolisian, namun tidak jelas apa kerjasama offline tersebut.”

“Beijing telah menunjukkan kecenderungan untuk mengendalikan dan membentuk media berbahasa Mandarin di luar negeri,” demikian tulisan Fergus Ryan, Danielle Cave, dan Vicky Xiuzhong Xu dalam laporan tersebut.

Laporan tersebut menyebutkan, pertumbuhan meteorik TikTok sekarang menempatkan Komunis Tiongkok pada posisi di mana ia dapat mencoba melakukan hal yang sama pada platform yang sebagian besar non-Tiongkok gunakan- dengan bantuan algoritma kecanggihan Kecerdasan Intelektual.”

Tak Surut Membicarakan Fakta Kebenaran

Meskipun menerima banyak komentar penuh dengan nada kebencian dari akun media sosial yang tampaknya berasal dari Tiongkok, Feroza kepada The Epoch Times mengatakan, bahwa dirinya berencana terus memposting video di platform media sosialnya untuk membangkitkan kesadaran tentang berbagai masalah.

“Saya tahu bahwa apa yang saya sampaikan adalah kebenaran. Saya tahu bahwa jutaan orang di seluruh dunia sangat bahagia sehingga saya bisa menyebarkan kesadaran tentang masalah ini,” demikian pernyataan Feroza.

Feroza juga menambahkan, Ia akan terus membantu orang-orang Uighur, dan krisis kemanusiaan apa pun yang terjadi di dunia. Ia akan menyuarakan tentang Kolombia, Afghanistan, Venezuela, Somalia — di mana saja yang membutuhkan bantuan. “

Berbicara tentang beredarnya sejumlah video di TikTok dengan cara serupa sejak dia memposting videonya, Feroza mengatakan dia yakin hal demikian menandakan bahwa aplikasi tersebut dapat digunakan sebagai platform untuk aktivisme.

Feroza mengatakan, “Kami sudah melihatnya di Instagram, Twitter, Facebook, jadi mengapa anak muda tidak dapat menggunakan TikTok sebagai bentuk aktivisme baru?

Feroza juga mendesak agar orang -orang memperhatikan isu-isu yang mungkin tidak mendapatkan perhatian media yang pantas mereka terima.

Terlepas dari terbongkarnya dokumen rahasia dan tekanan intensif dari komunitas internasional yang mengecam Beijing, Komunis Tiongkok terus menyangkal perlakuan buruk terhadap etnis Uighur atau yang lainnya di Xinjiang. (asr)

Share

Video Popular