Gao Shan – Epochtimes.com

Dokumen internal Komunis Tiongkok baru-baru ini bocor. Dokumen mengungkapkan mekanisme operasional di kamp penahanan Xinjiang, Tiongkok. Pemantauan skala besar model Orwell, merujuk pada George Orwell yang terkenal dengan karyanya Nineteen Eighty-Four /1984.

Model Orwell itu menceritakan visi-nya mengenai keadaan di dunia pada tahun 1984, dalam masa kekuasaan suatu rezim yang mengamati setiap tingkah laku warga negaranya sampai tidak ada satu tempat pun yang lolos dari pengamatan, termasuk kamar tidur sendiri. Dikenal sebagai “mekanisme sistem pengawasan massal Orwellian dan ‘analitik prediktif’”.

Menurut International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) atau Konsorsium Internasional Jurnalis Investigatif, dokumen yang disebut “telegram atau China Cables” itu menggambarkan tindakan yang dilakukan pemerintah di Xinjiang dalam mengawasi, menahan, melakukan pendidikan ulang dan kerja paksa terhadap warga Muslim. “Telegram” itu termasuk pedoman kerja yang disetujui oleh pejabat keamanan tingkat tinggi di Xinjiang. Dokumen itu dianggap sebagai buku panduan untuk memandu operasional yang efektif di kamp tahanan. Saat ini, ribuan Muslim Uighur dan etnis minoritas lainnya masih ditahan di kamp-kamp penahanan itu.

Penyelidikan ICIJ itu menemukan bukti baru yang melemahkan klaim Beijing bahwa kamp-kamp penahanan, yang telah dibangun di Xinjiang selama tiga tahun terakhir, bertujuan memberikan pendidikan ulang yang diikuti masyarakat secara sukarela untuk melawan ekstremisme. Sekitar satu juta orang yang kebanyakan berasal dari komunitas Muslim Uighur, diperkirakan telah ditahan tanpa pengadilan.

Dokumen-dokumen yang bocor itu juga termasuk briefing intelijen yang sebelumnya tidak dipublikasikan. Dari istilah yang dikatakan pemerintah komunis Tongkok, briefing itu menginstruksikan bagaimana polisi Tiongkok menggunakan sistem pengumpulan dan analisis data yang masif. Sistem itu menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis penduduk di seluruh Xinjiang dan mengklasifikasikan daftar orang yang akan ditangkap dan ditahan.

Pengawasan ekstrim PKT terhadap Xinjiang, disebutkan Xinjiang telah menjadi sebuah penjaraterbuka. Gambar menunjukkan sejumlah polisi khusus sedang bergerombol di depan Stasiun Kereta Api Urumqi. (AFP)

Di antara dokumen-dokumen pemerintah komunis Tiongkok yang bocor, yang disebut “Telegram” itu memberi arahan tentang bagaimana personel kamp penahanan mencegah pelarian dari penjara, menjaga kerahasiaan sepenuhnya di kamp-kamp penahanan yang ada, menanamkan doktrin pada tahanan. Di samping itu juga memberi tahu soal cara-cara mengendalikan wabah penyakit menular, serta kapan mengizinkan tahanan bertemu dengan kerabatnya. Bukan itu saja, bahkan sampai cara-cara menggunakan toilet dan pekerjaan yang lebih spesifik pun diberikan arahan.

Dokumen-dokumen itu sebagian besar dari tahun 2017. Di antaranya dengan jelas menetapkan sistem “poin” yang bertujuan untuk memperbaiki perilaku tahanan, dan menjatuhkan hukuman atau memberi hadiah kepada tahanan berdasarkan system ini.

Telegram itu berasal dari komisi Partai Komunis Tiongkok yang bertanggung jawab atas aparat keamanan Xinjiang. Telegram, yang ditulis dalam bahasa Mandarin itu, adalah manual operasi untuk mengelola kamp penahanan.

Dokumen ditandai cap “rahasia” dan telah disetujui oleh Zhu Hailun, yang saat itu wakil sekretaris Partai Komunis Xinjiang dan pejabat keamanan top kawasan itu. Manual operasi itu mengungkapkan bahwa masa penahanan terpendek di kamp konsentrasi Xinjiang adalah satu tahun, meski tahanan sebelumnya pernah mengatakan bahwa beberapa orang akan dibebaskan lebih awal.

Beberapa briefing intelijen rahasia juga menunjukkan bagaimana pihak berwenang Tiongkok secara aktif mempromosikan platform kepolisian berbasis kecerdasan buatan, serta skala dan ambisinya.

Aksi bela Muslim Uighur di Depan Kedutaan Besar RRT di Jalan Mega Kuningan, Jakarta Pusat 21 Desember 2018 (Foto : M.Asari/Erabaru.net)

Platform itu mampu menganalisa hasil investigasi dan memprediksi kejahatan berdasarkan analisis data komputer. Para ahli mengatakan platform itu dapat digunakan di bidang kepolisian dan militer, menunjukkan kemampuan teknologi tinggi, dan membantu komunis Tiongkok menerapkan pelanggaran Hak Asasi Manusia skala besar.

Dokumen rahasia “Telegram” komunis Tiongkok mengungkapkan bagaimana sistem mengumpulkan sejumlah besar data pribadi melalui pencarian manual yang tidak sah, kamera pengintai, pengenalan wajah, dan metode lain untuk mengidentifikasi orang yang mungkin akan ditahan. Juga melakukan pemeriksaan terhadap ratusan ribu orang hanya karena menggunakan suatu aplikasi seluler populer.

Dokumen-dokumen itu juga merinci penangkapan warga Uighur dengan kewarganegaraan asing, serta instruksi yang jelas untuk melacak warga Uighur Xinjiang yang tinggal di luar negeri. Beberapa di antaranya telah dideportasi ke Tiongkok oleh pemerintah otoriter komunis Tiongkok. Kedutaan dan konsulat Tiongkok di berbagai negara juga dituduh ikut terlibat dalam jaringan pencarian global Komunis Tiongkok.

Yasinjan, seorang pengusaha Uighur yang tinggal di Istanbul, Turki, berteriak: “Komunis Tiongkok: Katakan padaku! Di mana kelima anak saya?”

Share

Video Popular