- Erabaru - http://www.erabaru.net -

‘Perang Dingin’ yang Tak Pernah Berakhir : Komunis Tiongkok Sudah Bertempur Secara Terselubung Hampir Selama Tiga Dekade

Hong Wei

Orang-orang di dunia Barat telah bersorak sorai dan merayakannya, ketika negara komunis runtuh di Eropa Timur antara tahun 1989 dan 1990, dan kemudian Uni Soviet pada tahun 1991. 

Perang Dingin kemudian berakhir dan ancaman perang yang sesungguhnya lenyap. Saat itu, tampaknya telah tiba kedamaian dan kemakmuran yang pernah dicita-citakan semua orang.

Tetapi, eskalasi perang dagang AS-Tiongkok  pada Tahun 2018 dan semakin meningkat pada Tahun 2019, banyak orang percaya bahwa kita mulai menyaksikan Perang Dingin gaya baru. Sesungguhnya, Amerika Serikat tak ingin memulai babak baru Perang Dingin.

Sebenarnya, Washington akhirnya baru menyadari bahwa Perang Dingin sejatinya tak pernah berakhir. Dikarenakan, Komunis Tiongkok telah melancarkan pertempuran selama bertahun-tahun.

Sederhananya, orang Barat berpikir hanya sebatas memenangkan kemenangan nyata atas lawan-lawannya pada 28 tahun silam. Akan tetapi bukan sebuah kemenangan yang sempurna.

Komunis Tiongkok sejak itu melanjutkan Perang Dingin secara diam-diam, dengan cara yang sangat berbeda dari bekas Uni Soviet. Hingga pada Tahun 2018 ketika Amerika Serikat sadar dan menerima tantangan, yang akan kita sebut sebagai Perang Dingin gaya baru.

Kekeliruan Penilaian dari Pihak Barat

Konfrontasi Perang Dingin telah berlangsung hampir setengah abad antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dan sekutu mereka, setelah Perang Dunia kedua. Secara umum, dianggap bahwa Perang Dingin dimulai pada tahun 1947 dan berakhir pada tahun 1991.

Selama Perang Dingin, Presiden Amerika Serikat semuanya mengadopsi strategi penting yakni memecah kubu sosialis. Biasanya, mereka akan memisahkan rezim komunis Tiongkok dari sisa-sisa kubu komunis.

Setelah rezim komunis Tiongkok mengambil alih kekuasaan pada tahun 1949, kebijakan luar negerinya hanya menguntungkan Uni Soviet. Selain itu, dihasut oleh Stalin, Komunis Tiongkok turut berpartisipasi dalam Perang Korea untuk memerangi Amerika.

Namun, persekutuan Komunis Tiongkok dan Uni Soviet tidak berlangsung lama. Mantan pemimpin Komunis Tiongkok Mao Zedong berusaha bersaing dengan Uni Soviet, tak lain untuk mendominasi kubu sosialis.

Akibatnya, kedua negara menjadi bermusuhan satu sama lain di akhir 1950-an. Pada tahun 1964, konflik meningkat ketika Komunis Tiongkok dan Uni Soviet pecah kongsi ketika mencoba menyelesaikan perselisihan perbatasan, diikuti oleh banyak konfrontasi militer di sepanjang perbatasan pada tahun 1969.

Kala itu, Komunis Tiongkok mengerahkan 810.000 tentara, dan Uni Soviet mengerahkan 1.180.000 tentara dalam persiapan perang. Para pemimpin Komunis Tiongkok dievakuasi dari Beijing karena mereka khawatir Uni Soviet akan memulai perang nuklir melawan Komunis Tiongkok kapan saja.

Amerika Serikat turun tangan untuk membantu Komunis Tiongkok ketika percaya bahwa “komunisme monolitik” bukanlah sebuah ancaman. Pemerintahan Nixon mengancam akan memerangi perang nuklir melawan Uni Soviet dan dengan demikian membantu Komunis tiongkok mencegah krisis besar.

Pada tahun 1972, ketika mantan Presiden Nixon mengunjungi Tiongkok, Komunis tiongkok menganggapnya sebagai kesempatan berharga untuk menjalin hubungan dengan Barat untuk melawan Uni Soviet. Dengan kata lain, Komunis tiongkok mengambil inisiatif untuk memisahkan diri dari kubu sosialis.

Pada tahun-tahun berikutnya, Komunis Tiongkok tampaknya memainkan peran netral di tengah-tengah Perang Dingin, sehingga memberi kesan sangat berbeda dari negara-negara sosialis lainnya.

Setelah hancurnya Uni Soviet pada tahun 1991, Barat percaya bahwa Perang Dingin telah berakhir.

Meskipun beberapa orang menunjukkan bahwa Komunis Tiongkok masih merupakan negara yang menganut ideologi sosialis. Karena, masih terus melakukan pelanggaran hak asasi manusia secara serius. Komunis Tiongkok masih belum berupaya memperbaiki kesalahannya selama Pembantaian terhadap Mahasiswa Pro Demokrasi di Lapangan Tiananmen.

Kala itu, kebanyakan orang barat gagal melihat ancaman terbesar yang mengancam dari Komunis Tiongkok. Orang barat juga tidak menyadarinya pada periode selanjutnya, bahwa Komunis Tiongkok selama ini telah meluncurkan Perang Dingin gaya baru.

Rahasia ‘Perang Dingin’ Komunis Tiongkok

Amerika Serikat dan sekutu Baratnya tidak lagi waspada terhadap ancaman komunis setelah runtuhnya Uni Soviet. Selain itu, mereka membantu komunis Tiongkok bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO. Mereka menawarkan sejumlah besar dana dan menyediakan teknologi canggih. Mereka juga percaya bahwa Komunis Tiongkok pada suatu hari akan mereformasi sistem politiknya dan meningkatkan perlakuan terhadap hak asasi manusia. Komunis Tiongkok sepenuhnya mengambil keuntungan dari semua upaya niat baik ini.

Banyak pejabat komunis Tiongkok dengan cepat menjadi jutawan melalui korupsi. Mereka belajar mengenakan pakaian mahal, mengirim anak-anak mereka ke sekolah swasta di luar negeri, dan mentransfer aset mereka ke luar negeri.

Dengan sejumlah besar perusahaan yang didanai asing datang ke Tiongkok, jutaan pekerja murah Tiongkok tidak hanya bekerja untuk pengusaha asing, tetapi juga terus menerus mengumpulkan cadangan devisa untuk Komunis Tiongkok.

Komunis Tiongkok menemukan bahwa menarik investasi asing adalah metode yang lebih baik untuk mengeksploitasi rakyat Tiongkok. Karena, mereka kini dapat mengeksploitasi pekerja Tiongkok secara lebih efisien dan skala yang lebih besar.

Awalnya, para puncak pimpinan Komunis Tiongkok takut dengan runtuhnya Uni Soviet. Ketika satu-satu dari sedikit negara komunis beranjak pergi, mereka mengira Komunis Tiongkok akan menjadi sasaran seluruh dunia Barat. Tetapi, ketika negara-negara Barat lengah dan memberikan Komunis Tiongkok hadiah “modernisasi,” para pemimpin komunis Tiongkok sangat gembira bukan kepalang.

Mantan ketua Partai Komunis Tiongkok Deng Xiaoping kemudian mengusulkan strategi untuk “menjaga kerendahan hati dan menumbuhkan kekuatan kita secara diam-diam,” yang selalu dipuja sebagai pedoman paling penting oleh penerus Deng Xiaoping.

Berarti, ketika Komunis Tiongkok terus berperang dengan Perang Dingin, maka Komunis Tiongkok akan menjaga motivasi sebenarnya tetap terselubung, sehingga memberikan dirinya cukup waktu untuk mengumpulkan lebih banyak cadangan devisa, mencuri lebih banyak teknologi, dan menyusup ke Barat. Rencananya adalah akan menantang hegemoni Amerika Serikat.

Amerika Serikat juga memungkinkan Komunis Tiongkok untuk menguasai teknologi internet. Di dalam negeri, Komunis Tiongkok mendirikan firewall internet “Perisai Emas” untuk memblokir aliran informasi ke masyarakat Tiongkok.

Secara internasional, Komunis Tiongkok tidak hanya mempekerjakan sejumlah besar pakar internet sebagai bagian dari tim propaganda asingnya, tetapi juga melatih banyak hacker untuk mencuri informasi atau merusak situs-situs rahasia di negara-negara Barat.

Ini adalah wujud baru Perang Dingin, sangat berbeda dari yang sebelumnya karena perang sepihak dan bertempur secara rahasia. Dikarenakan tidak ada konfrontasi politik secara langsung. Sepenuhnya mengambil keuntungan dari globalisasi ekonomi. Amerika Serikat dan sekutu Baratnya telah ditipu sejak lama.

Komunis Tiongkok Menyeret “Perang Dingin” ke Medan Terbuka

Gempuran peperangan Komunis Tiongkok dalam perang dingin, secara diam-diam untuk menghancurkan negara-negara demokrasi Barat yang bebas. Namun demikian membingkainya bahwa hubungannya dengan Barat hanyalah sebatas kerja sama yang bersahabat. Itu terjadi sampai beberapa tahun terakhir, Komunis Tiongkok secara bertahap mulai menyeret Perang Dinginnya ke medan terbuka.

Secara diplomatis, Komunis Tiongkok telah menjadi semakin bermusuhan terhadap Barat, bersaing untuk mendapatkan suara di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan bahkan menjadi anggota Dewan Hak Asasi Manusia. Lebih jauh lagi, memperjuangkan peran kepemimpinan dalam organisasi internasional lainnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Komunis Tiongkok kini berbicara dengan nada yang jauh lebih arogan dan keras. Selain itu, Komunis Tiongkok mengendalikan dan memanipulasi negara-negara jahat seperti Korea Utara, Iran, dan Kuba – negara-negara yang melakukan kejahatan secara terbuka, dengan Komunis Tiongkok yang mendukung dan menginstruksikan mereka secara diam-diam.

Komunis Tiongkok juga telah merayu negara-negara di dunia ketiga dan negara-negara yang kurang berpengaruh dengan inisiatif “One Belt, One Road” atau OBOR, juga dikenal sebagai Belt and Road. Yang mana, OBOR ini hampir sama dengan membangun sebuah kubu multi-nasional gaya baru yang dipimpin oleh rezim Komunis Tiongkok. Tak lain, sebuah persiapan strategis bagi Komunis Tiongkok untuk mengerahkan kekuatan militernya secara global.

Untuk membangun militernya, Komunis Tiongkok mengambil setiap kesempatan untuk mencuri teknologi militer kelas atas dari negara-negara maju, menginvestasikan jumlah besar dalam modernisasi militer, melakukan latihan militer profil tinggi sejak sekarang. Kemudian membangun pulau-pulau buatan di Laut China Selatan sebagai pangkalan militernya. Walhasil, memicu kemarahan dari negara-negara tetangga. Yang terburuk dari semuanya, rudal jarak menengah dan jarak jauh Komunis Tiongkok terutama mengarah ke wilayah Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, ada baiknya menunjukkan bahwa Komunis Tiongkok sangat membanggakan kekuatan nasionalnya dengan membuat data ekonomi. Misalnya, Beijing mengklaim bahwa, sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, Komunis Tiongkok telah mempertahankan tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto yang tinggi.

Meskipun, data ekonomi komunis Tiongkok sangat meningkat, dan sebagian besar populasinya masih hidup dalam kemiskinan. Sama juga, ketika Komunis Tiongkok menyatakan bahwa telah mengembangkan teknologi terkemuka, biasanya berarti masih dalam tahap penjarahan dan replikasi. Tentunya, para peneliti komunis Tiongkok memiliki banyak hal untuk dipelajari dan bereksperimen untuk memahami sepenuhnya.

Dengan perkembangan pesat ekonomi ekspor Tiongkok, ambisi besar Komunis Tiongkok telah tumbuh secara eksponensial. Caranya dengan mencoba untuk mendapatkan kendali atas ekonomi global, memonitor data jaringan global, dan memainkan peran kepemimpinan dalam komunitas internasional.

Tak lain, memanfaatkan kekuatan keuangannya yang meningkat untuk memaksakan kontrol yang keras di dalam negeri — menganiaya para oposisi politik, praktisi spiritual Falun Gong, Tibet, Muslim Xinjiang dan umat Kristen dalam skala besar — sementara itu mempreteli kebebasan Hong Kong dan menyusup ke Taiwan untuk melemahkan sistem demokrasi mereka.

Dengan kata lain, Komunis Tiongkok secara bertahap telah berubah dari strategi lama “low profile” menjadi perang dengan Barat secara terbuka.

Namun demikian, kemenangan presiden Donald Trump pada Pemilu Tahun 2016 telah membawa perubahan besar di Amerika Serikat.

Selama kampanye, Trump menekankan bahwa defisit perdagangan yang sangat besar dengan Komunis Tiongkok dan pencurian kekayaan intelektual harus diselesaikan, yang mana membantunya mendapatkan dukungan kuat dari banyak pemilih Amerika.

Setelah inaugurasi, Trump mulai mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dengan Tiongkok dan mengenakan tarif. Langkah tersebut telah membantu orang-orang Amerika dan negara-negara Barat lainnya untuk menyadari faktanya bahwa selama ini Komunis Tiongkok ternyata telah berperang.

Orang-orang di Barat telah memberikan harapan bahwa Komunis Tiongkok akan meningkat dengan sendirinya. Lebih penting lagi, negara-negara Barat mulai merestrukturisasi strategi mereka sendiri dalam menghadapi Perang Dingin Komunis Tiongkok.

AS Menanggapi Tantangan ‘Perang Dingin’ Komunis Tiongkok

Presiden Trump telah mencapai tujuan perang dagang tahap pertamanya, dengan memberlakukan tarif pada produk-produk Tiongkok. Yaitu, Komunis Tiongkok telah kehilangan elemen kunci untuk pertumbuhan ekonominya. Dengan kekurangan valuta asing dan ekonomi yang memburuk, situasi nyata kekuatan nasional di Tiongkok telah terungkap.

Komunis Tiongkok harus mengekang ekspansi globalnya yang jahat dan dipaksa untuk menyerah. Saat ini, perang teknologi AS-Tiongkok juga sedang berlangsung.

Washington telah menargetkan dan menjatuhkan sanksi kepada Huawei, ZTE dan beberapa perusahaan teknologi tinggi BUMN lainnya yang telah melanggar aturan dan norma internasional.

Selain itu, FBI sedang menyelidiki para peserta dari “Thousand Talents Program” Komunis Tiongkok atau seribu talenta, sebuah program yang dirancang khusus untuk memfasilitasi pencurian kekayaan intelektual dan transfer teknologi terlarang.

Pada saat yang sama, para ahli keuangan di Amerika Serikat sudah mendiskusikan pertempuran berikutnya: “perang finansial.”

Setelah Manajer Umum Rockets Houston Daryl Morey memposting sebuah cuitan untuk mendukung para demonstran pro-demokrasi Hong Kong, Asosiasi Bola Basket Tiongkok menangguhkan hubungannya dengan Rockets. Sementara itu, Konsulat Tiongkok mengeluarkan pernyataan publik tentang ketidakpuasannya.

Peristiwa ini menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa Komunis Tiongkok tidak hanya dengan keras kepala berpegang pada ideologinya, tetapi juga mencoba untuk mempengaruhi rakyat Amerika melalui perang ideologinya.

Ketika kekerasan polisi meningkat di Hong Kong, Senat AS mempercepat suaranya untuk Rancangan Undang-Undang HAM Hong Kong dan mengesahkan RUU itu dengan suara bulat pada 19 November.

Selanjutnya, Trump tidak membuang-buang waktu dengan menandatanganinya menjadi undang-undang. Semua ini adalah manifestasi nyata dari sikap rakyat Amerika dalam melawan Perang Dingin gaya baru. Rencana Trump untuk membangun kembali militer Amerika Serikat dan strategi Indo-Pasifiknya secara langsung menunjuk pada pengekangan Komunis Tiongkok.

Dalam banyak pidatonya di depan publik, Trump telah berbicara tentang reorganisasi militer, yang menunjukkan tekadnya untuk mendorong kembali ekspansi militer Komunis Tiongkok dengan memperkuat militer AS.

Baru-baru ini, CIA dan “Aliansi Five Eyes” telah mengambil tindakan untuk menargetkan agen khusus Komunis Tiongkok. Five Eyes atau Lima Mata adalah aliansi lima negara yaitu Amerika Serikat, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Inggris.

Pembelotan mata-mata Komunis Tiongkok Wang Liqiang ke Australia, dan pengungkapan sejumlah besar rahasia Komunis Tiongkok, pastinya akan menyebabkan lebih banyak pembelotan. Kemudian banyak cerita yang terungkap, dengan masing-masing mengungkapkan episode yang menarik tentang kegiatan mata-mata Komunis Tiongkok dan infiltrasinya di Barat.

Saat berjuang di tengah-tengah perang dagang, Komunis Tiongkok mungkin menyadari bahwa mereka melakukan kesalahan dengan melepaskan strategi “low-profile”.

Sekarang khawatir bahwa ekonomi Tiongkok akan dipisahkan dari Amerika Serikat, dan kekhawatiran terhadap Barat akan kembali melakukan Perang Dingin melawan Komunis Tiongkok.

Kini, Komunis Tiongkok tidak dapat lagi menyembunyikannya, karena kebanyakan orang-orang telah melihat melalui Perang Dingin bahwa Komunis Tiongkok telah menggempur secara diam-diam.

Sifat sejati Komunis Tiongkok telah terungkap sepenuhnya melalui penanganan Beijing terhadap protes Hong Kong dan kebohongan besarnya dalam menghormati kebijakan “satu negara, dua sistem”.

Perang Dingin wujud baru telah dimulai secara menyeluruh. Ini bukan lagi monolog yang dimainkan oleh Komunis Tiongkok. Kini, Amerika Serikat dan sekutunya menganggapnya lebih serius. Perang Dingin ini tidak akan berlangsung selama beberapa dekade seperti sebelumnya, karena kubu demokrasi bebas melampaui Komunis Tiongkok secara substansial dalam semua aspek.

Partai Komunis Tiongkok mungkin segera runtuh, seperti bekas Uni Soviet, mantan “kakak lelakinya.” Ini juga nasib buruk Partai Komunis Tiongkok, sebuah rezim jahat yang mana dengan keras kepala memilih untuk terus bertempur. (asr)

Artikel ini sebelumnya telah terbit di The Epochtimes

Video Rekomendasi :