Kebebasan vs Penindasan

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dalam dokumen tanggal 4 November menyatakan bahwa rakyat Amerika Serikat “percaya pada kebebasan dasar hati nurani, agama, ucapan, dan majelis.” Selain itu, bahwa rezim Tiongkok “tidak toleran terhadap perbedaan pendapat, secara agresif mengendalikan media dan masyarakat sipil. Bahkan, secara brutal menindas etnis dan agama minoritas.” Disebutkan juga, rakyat Amerika Serikat percaya bahwa Tiongkok mengekspor pendekatan tersebut kepada negara-negara berkembang di kawasan Indo-Pasifik.

“Praktek semacam itu, yang diekspor Beijing ke negara lain melalui pengaruh politik dan ekonominya, meruntuhkan kondisi yang telah mendukung stabilitas dan kemakmuran di Indo-Pasifik selama beberapa dekade,” demikian Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dalam bab mengenai “Menjagokan Pemerintahan yang Baik.” Ini adalah satu-satunya tempat dalam laporan tersebut di mana Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara langsung menunjuk kepada komunis Tiongkok.

David Shullman mengungkapkan analisis yang sama mengenai modus operandi rezim Tiongkok, saat ia mengatakan Tiongkok berusaha untuk menyokong pendirian legitimasinya dan berpengaruh pada dunia berkembang “dengan cara memanipulasi ruang informasi demi keuntungan Tiongkok, sebuah praktik yang kini biasanya disebut ‘kekuatan tajam’.

Beijing ingin melindungi investasinya yang berkembang, memastikan kendali Komunis Tiongkok atas ideologi dan informasi yang mungkin masuk ke Tiongkok, dan melegitimasi model pengembangan otoriter Tiongkok di luar negeri.”

David Shullman mengatakan, rezim Tiongkok mengendalikan media di luar negeri dengan cara mengadakan perjanjian media Tiongkok dengan negara lain. Caranya melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan milik Tiongkok dan “memajukan pertukaran informasi yang dimaksudkan untuk memengaruhi wartawan asing yang meliput Inisiatif Sabuk dan Jalan milik Tiongkok, mencakup melalui konferensi yang disponsori oleh Asosiasi Jurnalis Seluruh Tiongkok yang terkait dengan negara Tiongkok.”

David Shullman mengatakan bahwa “kecocokan ideologis yang disponsori negara Tiongkok” yang diadopsi oleh rezim Komunis Tiongkok, untuk “peraturan Partai Komunis Tiongkok yang otoriter” dan abadi akan diperluas menjadi “kendali ideologis di luar negeri.”

Alejandro Sanchez mengatakan, bahwa analisis mengenai bagaimana Indo-Pasifik sebagian besar telah berevolusi. Menurut pendapatnya, akan berarti bagaimana hubungan Tiongkok-Amerika Serikat berevolusi “dari mitra atau negara potensial yang dapat ‘bekerja sama dengan Amerika Serikat,’ menjadi lebih sebagai pesaing” di setiap bidang, termasuk pengaruh ideologis.

Alejandro Sanchez mengatakan, Perang dagang’ yang sedang berlangsung antara Beijing dengan Washington, sikap agresif Tiongkok terhadap Taiwan termasuk memanfaatkan diplomasi dolar untuk ‘membeli’ pengakuan sekutu-sekutu Taipei yang tersisa, meningkatnya kehadiran militer Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan, dan bagaimana sekutu Washington di wilayah tersebut peduli akan hal tersebut, sehingga semua sekutu di wilayah itu membuat skenario keamanan baru tersebut.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Menetapkan India sebagai ‘Mitra Strategis’

Pesan kata pengantar oleh Mike Pompeo untuk laporan tanggal 4 November, mendefinisikan India sebagai mitra strategis. Sementara laporan itu tidak secara khusus menyebutkan negara lain.

“Kami meningkatkan tempo dan ruang lingkup pekerjaan kami dengan sekutu, mitra, dan lembaga regional seperti ASEAN, negara-negara wilayah Mekong, negara-negara Kepulauan Pasifik, dan India, mitra strategis Amerika Serikat untuk mengatasi tantangan bersama dan memajukan visi bersama,” demikian ungkapan Mike Pompeo.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan, dalam laporan tersebut bahwa kemitraan strategis Amerika Serikat dengan India sedang menguat.

“Kemitraan strategis Amerika Serikat dengan India, sesama negara demokrasi berpenduduk 1,3 miliar jiwa yang memiliki visi Indo-Pasifik yang sama dengan Amerika Serikat, sedang menuju puncak baru,” demikian bunyi laporan itu.

Rukmani Gupta mengatakan, kemitraan strategis menunjukkan Amerika Serikat dan India memiliki visi bersama bahwa kedua negara tersebut bersedia bekerja sama secara erat. Akan tetapi tidak berarti apa pun telah didiskusikan.

“Tidak ada langkah atau tindakan kebijakan spesifik yang mendefinisikan ‘kemitraan strategis’. Baik India maupun Amerika Serikat telah menetapkan banyak negara ‘mitra strategis,” demikian menurut Rukmani Gupta.

Namun, Zack Cooper memberikan analisis yang berbeda mengenai kemitraan itu. Ia mengatakan bahwa tidak semua sekutu “perlu memiliki visi yang sama.”

Ia menguraikan, Tidak seperti NATO, setiap aliansi di Asia adalah terpisah dan dibentuk untuk alasan yang berbeda. Sering berfokus pada ancaman yang berbeda. Oleh karena itu, pertanyaan apakah Amerika Serikat mampu membuat setiap sekutunya untuk fokus pada apa yang terbaik dilakukannya untuk menatalaksana tantangan regional.

Zack Cooper memberi contoh, dengan mengatakan bahwa Korea Selatan perlu fokus pada Semenanjung Korea, Filipina perlu fokus pada wilayahnya sendiri dan perairan di sekelilingnya, dan Thailand bergulat dengan masalah dalam negerinya sendiri.

Lebih jauh Zack Cooper menilai, jika mengandalkan Jepang dan Australia untuk berperan penting dalam mendukung konsep Indo-Pasifik. Hal itu adalah tidak ideal. Untuk alasan ini, adalah tantangan untuk menambahkan negara lain yang khawatir akan wilayah Indo-Pasifik—seperti India dan Vietnam, adalah penting menjadi sekutu Amerika Serikat untuk menjalankan pendekatan tersebut.

Zack Cooper mengatakan, sebagai alasan ia mengharapkan Washington untuk bekerja sama dengan “para pemimpin negara lain yang khawatir pada kebangkitan Tiongkok, tanpa mempedulikan negara tersebut merupakan sekutu Amerika Serikat atau bukan.”

Alejandro Sanchez menyoroti keprihatinan yang sama, mengatakan adalah sulit untuk pemerintahan Donald Trump “untuk memelihara front persatuan.”

“Pemerintah-pemerintah ini umumnya melihat Tiongkok sebagai masalah keamanan, dan menginginkan Korea Utara tanpa nuklir, tetapi tentu saja ini tidak berarti bahwa negara-negara ini rukun satu sama lain. Ketegangan Korea Selatan-Jepang adalah contoh nyata,” demikian kata Alejandro Sanchez.

Alejandro Sanchez juga mengatakan, negara-negara tersebut kemungkinan kurang bersedia untuk terlibat konflik dengan Tiongkok — baik perdagangan, diplomatik, atau bersenjata — dibandingkan dengan Amerika Serikat.

“Thailand adalah kasus yang menarik, karena Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang, baru saja bertemu dengan Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha.Keduanya berbincang mengenai peningkatan perdagangan bilateral. Dengan kata lain, Beijing menggunakan diplomasi dolar untuk membeli aliansi dan kemitraan,” demikian menurut analisa Alejandro Sanchez.

Alejandro Sanchez mengatakan, bahwa Gedung Putih secara strategis bermitra dengan India untuk mengimbangi pengaruh Tiongkok di wilayah tersebut.

Alejandro Sanchez menjabarkan, Komunis Tiongkok memperkuat hubungan dengan Pakistan, Sri Lanka, dan negara-negara Asia atau Asia Tenggara lainnya melalui investasi sebagai bagian One Belt One Road milik Tiongkok. Ia melihat kapal-kapal Tiongkok beroperasi di Samudera Hindia. Karenanya, pemerintah Amerika Serikat sedang berusaha menyeimbangkan perkembangan tersebut dengan memperkuat hubungan pertahanannya dengan India.

Share

Video Popular