Amerika Serikat Mengunjungi Negara-Negara Indo-Pasifik

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Mark Esper memulai kunjungannya ke empat negara Indo-Pasifik — Korea Selatan, Thailand, Filipina, dan Vietnam — pada tanggal 13 November.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengatakan, kunjungan kedua Mark Esper dalam tiga bulan ke wilayah Indo-Pasifik, yang mana Mark Esper menyebutnya sebagai “teater prioritas” Amerika Serikat. Adalah untuk memperkuat kerja sama dan “menyoroti komitmen Amerika Serikat untuk kemitraan baik yang lama maupun baru.”

Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengatakan dalam sebuah laporan berjudul “Kunjungan Mark Esper ke Wilayah Indo-Pasifik Menyoroti Keseriusan Amerika Serikat pada Aliansi.” Membuat aliansi dan mitra baru adalah “upaya kedua dalam Strategi Pertahanan Nasional Amerika Serikat.”

Laporan tersebut menyoroti Komunis Tiongkok dan Rusia sebagai dua ancaman terbesar.

Kashish Parpiani, Research Fellow, Observer Research Foundation, Mumbai, India mengatakan, bahwa Departemen Pertahanan Amerika Serikat mendefinisikan kunjungan Mark Esper dalam konteks Tiongkok dan Rusia adalah “tidak mengejutkan.”

Kashish Parpiani menilai, kunjungan Mark Esper sepenuhnya sejalan dengan pengumuman Strategi Keamanan Nasional pemerintahan Donald Trump, yakni mengenai kembalinya era ‘persaingan kekuatan besar,'”

Departemen Pertahanan Amerika Serikat mendefinisikan ancaman Komunis Tiongkok yang berasal dari “ekonomi Tiongkok yang tumbuh cepat.” “Tiongkok berinvestasi dalam Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok — yang bukanlah tentara nasional, tetapi merupakan kekuatan militer Partai Komunis Tiongkok — dan modernisasi kekuatan, meningkatkan pelatihan dan mencari kemampuan baru,” demikian bunyi laporan resmi tersebut.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengatakan, bahwa pemimpin Tiongkok Xi Jinping menyatakan bahwa ia ingin Komunis Tiongkok mendapatkan supremasi militer pada tahun 2050. “Kemampuan militer ini – kecerdasan buatan, rudal hipersonik, kapal induk, dan banyak lagi – dirancang khusus dengan mempertimbangkan militer Amerika Serikat.” demikian bunyi laporan Kemenhan AS.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat menggambarkan, kemampuan Amerika Serikat untuk “mengerahkan di mana saja di dunia dan memasok pasukan.” Sebagai keuntungan terbesarnya atas Tiongkok dan mengatakan bahwa bagian “keunggulan terbesar Amerika Serikat” adalah “sistem aliansi” Amerika Serikat.

Menyoroti pentingnya kunjungan Mark Esper ke wilayah Indo-Pasifik, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengatakan, bahwa strategi militer Tiongkok bertentangan dengan Amerika Serikat. Hal demikian merupakan salah satu bagian usaha mengerahkan seluruh kekuatan oleh rezim Tiongkok.

“Rezim Tiongkok menggunakan diplomasi, pengaruh politik, dan kebijakan ekonomi dalam hubungannya dengan kekuatan militer. Inisiatif ‘One Belt, One Road’ Tiongkok adalah upaya senilai 1 triliun dolar AS. Tujuannya untuk mengubah sistem internasional saat ini. Yang mana, telah melayani Indo-Pasifik dengan sangat baik sejak tahun 1945, menjadi sistem yang memusatkan segalanya di Beijing,” demikian bunyi pernyataan laporan tersebut.

Alejandro Sanchez percaya, bahwa meskipun “deklarasi positif ini, dan beberapa perkembangan penting, Washington sedang mengirim pesan yang bertentangan ke wilayah tersebut. Misalnya, KTT ASEAN dan Asia Timur baru-baru ini, di Thailand dihadiri oleh delegasi tingkat-rendah, dengan penasihat keamanan nasional baru, Robert O’Brien, sebagai perwakilan paling senior. Tanpa dihadiri oleh Donald Trump, Mike Pence, Mike Pompeo, atau Mark Esper.”

Kashish Parpiani menafsirkan, kunjungan Mark Esper ke empat negara Indo-Pasifik sebagai upaya Amerika Serikat untuk menebus pengiriman delegasi tingkat-rendah ke KTT Asia Timur baru-baru ini.

Kashish Parpiani menilai, kunjungan tersebut adalah untuk meredakan kekhawatiran negara-negara Indo-Pasifik setelah pertemuan puncak Asia Timur yang baru-baru ini selesai di Thailand. (Vivi/asr)

Share

Video Popular