Nicole Hao – The Epochtimes

Dua orang dilaporkan telah ditahan oleh otoritas Komunis Tiongkok. Dikarenakan berusaha membongkar bagaimana Huawei, raksasa teknologi yang terkait dengan militer negara itu, melanggar sanksi AS yang melarang penjualan peralatan elektronik ke Iran.

Yang Zhanqing, salah seorang pendiri LSM Tiongkok Changsha Fengneng, kepada Epoch Times berbahasa Tionghoa pada 5 November menuturkan bahwa tujuh orang mantan karyawan Huawei telah berbicara dengannya tentang peran yang mereka mainkan dalam proyek-proyek perusahaan Iran.

Menurut Yang, setidaknya dua dari orang-orang ini telah ditahan karena berbicara secara vokal. Huawei adalah perusahaan teknologi terbesar di Tiongkok. Perusahaan tersebut mempelopori dorongan Beijing untuk mendominasi jaringan 5G global.

Amerika Serikat menuding Huawei menjual peralatan ke Iran dengan komponen buatan AS. Tindakan tersebut melanggar sanksi yang dijatuhkan Washington kepada Iran. Desember lalu, kepala keuangan Huawei Meng Wanzhou, juga putri pendiri perusahaan Ren Zhengfei, ditangkap oleh polisi Kanada di Vancouver atas permintaan pihak berwenang Amerika Serikat. Dia ditahan dengan jaminan, karena Amerika Serikat menyelidiki perannya dalam dugaan tindakan Huawei.

Pelaporan Pelanggaran dari Whistleblower

Changsha Funeng adalah organisasi layanan hukum non-pemerintah yang berbasis di Changsha, ibukota Provinsi Hunan di Tiongkok. Kelompok tersebut sebagai spesialisasi dalam membantu para oposisi dan individu-individu rentan lainnya.

Yang Zhanqing mendirikan Changsha Funeng pada Tahun 2016 dengan Cheng Yuan, yang mana pada Juli 2019 telah dipenjara, bersama dengan dua pengacara hak asasi manusia lainnya.

Pemenjaraan dilakukan oleh Kantor Kementerian Keamanan Komunis Tingkok di Changsha dengan tuduhan kejahatan “merongrong kekuasaan negara.” Menurut Yang, salah seorang yang bekerja dengan Changsha Funeng adalah Li Hongyuan. Ia adalah mantan karyawan Huawei yang mana 251 hari ditahan tanpa tuduhan apa pun telah menimbulkan kegemparan di media sosial Tiongkok.

Li Hongyuan, yang telah bekerja untuk Huawei selama 13 tahun. Lalu diberhentikan dari pekerjaannya dan mengalami salah tangkap oleh polisi, setelah berupaya mengungkap korupsi di dalam perusahaan. Dia akhirnya dibebaskan karena kurangnya bukti.

Pada 5 Desember 2019, Yang Zhanqing mengatakan bahwa Li Hongyuan juga mencoba mengungkap fakta bahwa Huawei telah menjual mesin pertukaran telepon Iran dan inverter surya yang menggunakan chip Intel buatan AS.

Karena informasi inilah Li belum disidang, karena “Huawei menganggap penjualan peralatan yang diembargo ke Iran sebagai rahasia bisnis. Pasalnya, akan menjadi bukti kejahatan yang dilakukan Huawei jika terekspos ke publik.

Yang Zhanqing, kini tinggal di Amerika Serikat. Kepada The Epoch Times, ia memberikan dengan nama dan informasi pribadi lainnya dari mantan karyawan Huawei yang telah berbicara dengannya tentang transaksi perusahaan dengan Teheran. Untuk melindungi identitas mereka, nama-nama tersebut diungkapkan dengan menggunakan nama samaran.

“Kami memiliki grup WeChat yang membahas bagaimana mengekspos Huawei melakukan bisnis dengan Iran. Kelompok itu memiliki tujuh atau delapan mantan karyawan Huawei pada waktu itu, ” demikian yang diungkapkan Zhanqing, merujuk pada acara pada tahun 2018 lalu.

Mereka yang berada dalam kelompok itu berencana mendatangi media dengan cerita-cerita mereka. Para mantan karyawan tersebut akan membocorkan apa yang mereka ketahui. Dengan harapan mendapatkan keuntungan dalam kasus hukum mereka, saat mereka berjuang untuk mendapatkan kompensasi setelah pekerjaan mereka diberhentikan. “Mengekspos proyek terkait Iran adalah salah satu solusi mereka,” demikian yang diungkapkan Yang Zhanqing.

Pada sebuah pesan teks yang disajikan Yang, seorang mantan karyawan Huawei yang menggunakan nama samaran “Radish” mengatakan, bahwa ia bekerja untuk sebuah proyek bernama Irancell antara Tahun 2012 dan 2014. Proyek tersebut bertujuan membangun jaringan komunikasi seluler di negara tersebut.

Dia melakukan beberapa perjalanan ke Iran untuk membantu pemasangan sistem. “Paspor saya saat ini memiliki visa Iran,” demikian yang ditulis Radish dalam grup WeChat itu.

Mantan karyawan lain yang disebut “Winter” dalam kelompok itu mengungkapkan bahwa Huawei memiliki “beberapa proyek” di Iran.

Yang Zhanqing mengatakan, “beberapa mantan karyawan terlibat dalam penjualan produk Huawei ke Iran. Mereka dibayar 100 dolar AS per hari untuk tunjangan perjalanan bisnis. Mereka juga memiliki catatan perjalanan Iran mereka serta kwitansi pembayaran perusahaan.”

Huawei ‘Mewakili Otoritas Negara’

Pada tahun 2018, Yang Zhanqing mengatur dua mantan karyawan bernama samaran “Zhang Lu” dan “Sishui Liunian” untuk bertemu dengan seorang reporter dari outlet media Hong Kong.

Zhang Lu adalah nama samaran Li Hongyuan, pria yang ditahan selama 251 hari. Akan tetapi pada 16 Desember, sehari sebelum pertemuan yang dijadwalkan, Zhang Lu dan Sishui Liunian tidak bisa lagi dihubungi.

Istri Sishui Liunian mengirimkan pesan kepada Yang Zhanqing tentang pemberitahuan penahanan dari biro keamanan publik Shenzhen. Pesan tersebut menunjukkan bahwa Sishui Liunian ditahan di Pusat Penahanan Nomor 2 Shenzhen. Yang Zhanqing tidak dapat menghubungi Sishui Liunian atau keluarganya.

Zeng Meng, mantan karyawan Huawei lainnya, dicegah memperbarui kontrak kerjanya di kantor Huawei North African karena alasan usia. Merasa bahwa dia telah diintimidasi, Zeng juga membongkar ke media sosial untuk mengekspos kesalahan-kesalahan Huawei.

Pada 30 Desember 2018, Zeng Meng ditahan di Thailand dan diekstradisi ke Shenzhen pada 8 Januari.

Mirip dengan kasus Li, Huawei menggugat Zeng, awalnya karena “membocorkan rahasia dagang.” Kemudian karena “penipuan” setelah polisi gagal menghasilkan bukti untuk sidang pertama.

Dia akhirnya dibebaskan pada 29 Maret. Yang Zhanqing mengungkapkan bahwa kasus-kasus tersebut menunjukkan pengaruh Huawei terhadap rezim Komunis Tiongkok.

Yang Zhanqing menjelaskan, Sampai batas tertentu, Huawei sudah menjadi mewakili otoritas negara. Huawei bisa melakukan apa saja yang diinginkan karena memiliki dukungan kuat.

Selain itu terungkap, bahwa lebih 60 mantan karyawan yang diberhentikan secara salah oleh Huawei. Yang Zhanqing mengatakan bahwa dirinya sangat prihatin seperti penahahan yang dialami Li Hongyuan dan Zeng Meng karena berbicara ke publik. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular