Eva Pu – The Epcohtimes

Aktivis mahasiswi Hong Kong, Joey Siu mengatakan, krisis politik yang kini terjadi di Hong Kong, harus berfungsi sebagai seruan kebangkitan bagi dunia bebas untuk tegak bersama menentang komunis Tiongkok. Siu yang baru berusia 20 tahun, telah menjadi pembela vokal untuk gerakan pro-demokrasi di kota kelahirannya.

Dia adalah salah satu pendiri Delegasi Urusan Internasional Lembaga Tinggi Hong Kong. Sebuah kelompok yang menggabungkan 11 serikat mahasiswa dan mengatur pertemuan dengan pejabat internasional untuk membangun dukungan terhadap aksi protes pro demokrasi Hong Kong.

Baru-baru ini, Joey Siu mengungkapkannya dalam sebuah wawancara dengan program The American Thought Leaders oleh The Epoch Times Edisi Amerika Serikat yang dipublikasikan  (7/12/2019). 

Ia menjelaskan, melindungi nilai-nilai yang dimiliki bersama di Hong Kong, serupa dengan melawan ancaman yang ditimbulkan oleh Komunis Tiongkok di seluruh dunia.

Pemerintahan Boneka Beijing

Aksi Protes di Hong Kong kini telah memasuki bulan ke-enam, dimulai dengan seruan untuk mencabut RUU Ekstradisi yang sekarang sudah ditarik. RUU itu memungkinkan rezim Komunis Tiongkok mengirim individu ke daratan Tiongkok. Bahkan, para orang-orang yang diinginkan tersebut bakal menghadapi persidangan dalam sistem hukum Komunis Tiongkok.

Para demonstran telah memperluas tuntutan mereka, agar digelar investigasi independen atas dugaan penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi dan seruan hak pilih universal.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam, secara konsisten menyampaikan stempel bahwa pedemo pro demokrasi Hong Kong sebagai “perusuh.”

Carrie Lam juga menolak untuk menanggapi tuntutan lebih lanjut para pemrotes. “Sangat jelas bahwa pemerintah Hong Kong sebenarnya adalah boneka yang dimanipulasi oleh Partai Komunis Tiongkok,” kata Joey Siu dalam wawancara dalam program The American Thought Leaders The Epochtimes.

Joey Siu menuturkan : “Ketika Anda berjuang untuk hak asasi manusia dan demokrasi di Hong Kong, Anda harus melawan Partai Komunis Tiongkok, karena Anda tahu bahwa mereka sebenarnya yang suka memberikan semua instruksi dan yang sebenarnya merencanakan masa depan Hong Kong. ”

Perlakuan yang Berbeda

Polisi Hong Kong telah mengakui melakukan sebanyak 6.022 penahanan dan menembakkan sekitar 16.000 putaran gas air mata. Polisi Hong Kong juga mengakui menembakkan 10.000 peluru karet selama enam bulan aksi protes. Pengakuan tersebut berdasarkan keterangan pers terbaru dari kepolisian Hong Kong.

“Kami tak pernah berpikir bahwa Hong Kong pada suatu hari akan menjadi medan perang, di mana ada gas air mata dan peluru karet yang terbang di sekitar kota hampir setiap minggu,” kata Siu.

Meskipun ada peningkatan perlawanan dari beberapa pengunjuk rasa garis depan, seperti melemparkan bom bensin dan membakar, Siu mengatakan dirinya tak ingin menyalahkan mereka.

Lebih jauh diungkapkan, ketika Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet, bahkan mengendarai meriam air serta menembakkan peluru tajam. Kemudian, perlawanan demonstran dilakukan karena mereka berada dalam situasi tersebut.

“Sebenarnya karena pertahanan diri, kami harus melindungi diri kami sendiri dan saudara-saudari kami yang juga berada di garis depan,” tambah Joey Siu.

Joey Siu mengatakan, skala kekuatan yang digunakan oleh para demonstran dan polisi “tidak akan pernah sama.” Ia mencatat bahwa polisi dilengkapi dengan senjata, gas air mata, dan semprotan merica. Sedangkan para demonstran hanya memiliki perisai yang terbuat dari kasur, meja, atau kursi.

“Tidak ada pemrotes yang dengan sengaja mencoba untuk melukai salah satu kepolisian, jika tidak ada pemicu dari kepolisian. Kami harus menggali lebih dalam untuk memahami apa penyebab meningkatnya tingkat kekuatan,” kata Joey Siu.

Aktivis mahasiswa itu mengkritik pemerintah Hong Kong, karena “tidak melakukan apa-apa tentang” meningkatnya dugaan kekerasan polisi, terutama penghinaan verbal terhadap pengunjuk rasa, laporan pelecehan seksual, dan kekerasan berlebihan yang digunakan selama pengepungan polisi di kampus City University of Hong Kong dan Polytechnic University.

Banyak mahasiswa yang terjebak di dalam Polytechnic University Hong Kong, dibiarkan begitu saja tanpa makanan dan tanpa air.

Lebih miris lagi, beberapa dari mereka yang terluka, tidak mendapatkan pertolongan pertama yang membantu mereka menangani luka-luka mereka. Perlakuan seperti itu adalah tindakan yang “tidak dapat diterima.”

“Bahkan ketika Anda mencoba untuk menangkap pengunjuk rasa, atau bahkan Anda mencoba untuk mengatasi protes di daerah tersebut — bagaimana Anda bisa memutuskan semua makanan dan pasokan medis? Dan bagaimana Anda bisa menangkap jurnalis yang mencoba melaporkan dan mencatat sejarah? “

Meningkatkan Kesadaran Publik

Joey Siu menguraikan, bahwa salah satu tujuannya adalah menarik atensi komunitas internasional terhadap ancaman nyata yang ditimbulkan oleh rezim.

Jerman, misalnya, mengizinkan raksasa telekomunikasi Huawei, untuk mengerjakan infrastruktur 5G-nya. Meskipun terjadi peningkatan pengawasan atas hubungan perusahaan dengan negara yang dapat menimbulkan ancaman keamanan nasional.

Joey Siu juga menyatakan keprihatinannya atas ekspansi di Afrika dari program Belt and Road Initiative atau OBOR, sebuah proyek investasi infrastruktur yang diluncurkan Komunis Tiongkok pada 2013. Tujuannya, untuk membangun jaringan perdagangan di seluruh Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa.

Sejumlah kritikus telah menyampaikan peringatan tentang resiko proyek OBOR tersebut. Menamainya sebagai “diplomasi perangkap utang.” Pasalnya, menjadikan negara-negara tersebut dibebani dengan utang besar. Lebih parah lagi, mungkin tidak mampu membayar utang dalam skala besar itu.

Kini, Komunis Tiongkok mengendalikan pangkalan militer di negara Afrika, Djibouti, serta beberapa pelabuhan di Samudra Hindia.

Siu mengatakan, di Hong Kong telah dipasang “lampu jalan cerdas” yang tak terhitung jumlahnya. Lampu intelijen tersebut dapat membuka jalan menjadi sebuah negara pengawasan massal.

Siu mengungkapkan, bahwa dia baru-baru ini memahami pelanggaran HAM “sulit dipercaya” yang dilakukan oleh rezim Komunis Tiongkok.

Selama masa kanak-kanak, dia telah berjalan melewati stand-stand yang didirikan oleh praktisi Falun Gong saat berbelanja atau ke perpustakaan. Di mana orang-orang membagikan pamflet, tentang pengambilan organ secara paksa yang dilakukan terhadap praktisi Falun Gong yang dipenjara di Tiongkok.

Pengikut Falun Gong, sebuah latihan spiritual yang terdiri dari latihan meditasi dan serangkaian ajaran moral pada prinsip Sejati-Baik-Sabar. Praktisi Falun Gong di Tiongkok telah dianiaya secara brutal oleh rezim Komunis Tiongkok sejak Tahun 1999 silam.

“Saya benar-benar berpikir itu tidak nyata, bahkan dengan melihat foto-foto, bahkan dengan melihat semua video, saya tak percaya itu benar-benar terjadi di dunia,” katanya. Ia seraya menambahkan, paparan laporan yang banyak tentang praktik mengerikan tersebut berangsur-angsur telah meyakinkan dirinya.

Pada Juni lalu, pengadilan independen di London, Tribunal Tiongkok setelah menggelar penyelidikan selama setahun. Tribunal Tiongkok menyatakan bahwa pengambilan organ yang disetujui negara dari tahanan nurani yang hidup telah berlangsung selama bertahun-tahun “dalam skala yang signifikan.” Putusan tersebut juga telah dilaporkan ke Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss.

Joey Siu mengatakan, menjadi vokal dalam isu tersebut sangat penting, tak hanya untuk masa depan Hong Kong, tetapi untuk dunia.

Ia mengatakan, orang-orang harus menentang Komunis tiongkok. Selain itu, semuanya harus waspada dengan masalah tersebut sehingga pemerintahan Komunis Tiongkok tidak akan dapat memonitor semua orang di sekitar Anda.

Joey Siu mengajak, “Kita harus tegak dalam solidaritas, jika tidak, suatu hari rezim jahat akan datang untuk menekan kebebasan dan hak asasi manusia mu.” (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular