Nicole Hao – The Epochtimes

Harga daging babi yang terus meroket dan ekonomi terus melambat terjadi selama setahun terakhir di daratan Tiongkok. Baru-baru ini, dua bank kecil mengalami bank runs atau Rush Money. Peristiwa tersebut terjadi ketika pemerintahan terkunci dalam perang dagang dengan Amerika Serikat. Dampaknya telah menyebabkan impor Tiongkok senilai miliaran dolar AS dikenai tarif oleh Amerika Serikat. Lebih parah lagi, menumpulkan sektor manufaktur Tiongkok.

Adanya peningkatan permasalahan pada beberapa bidang, komentator mengungkapkan tentang kekhawatiran bahwa pihak berwenang Komunis Tiongkok tidak memiliki instrumen untuk menyelamatkan ekonomi. Dalam beberapa minggu terakhir, dua bank kecil di daratan Tiongkok telah mengalami bank runs.

Bank Runs

Bank runs atau Rush Money adalah fenomena di mana nasabah menarik uang mereka secara besar-besaran dari bank secara bersamaan. Langkah tersebut dilakukan dikarenakan kekhawatiran bahwa bank bakal mengalami kebangkrutan. Bank run dapat menjadi bencana bagi bank, yang bakal memicu terjadinya kebangkrutan.

Yingkou Coastal Bank adalah bank swasta yang didirikan di kota Yingkou di Provinsi Liaoning, Tiongkok pada tahun 2010. Bank tersebut berfokus pada penyediaan layanan untuk usaha kecil dan menengah serta perorangan.

Pada 6 November, ratusan penduduk setempat berkerumun di dalam dan di depan cabang-cabang Bank Yingkou untuk mencoba menarik semua tabungan mereka dari bank.

Menurut laporan media lokal, orang -orang mengatakan bahwa mereka mendengar dari teman atau kerabat mereka bahwa bank berada di ambang kebangkrutan.

Akibatnya, tabungan mereka bisa hilang jika mereka tidak menarik dana mereka sebelum bank dideklarasikan bangkrut. Untuk meredakan kepanikan, pemerintah kota Yingkou menerbitkan pernyataan pada hari yang sama untuk menenangkan massa. Catatan itu mengatakan, “Yingkou Coastal Bank memiliki dana yang cukup dan semua bisnis beroperasi secara normal.”

Pada malam hari, pemerintahan kota itu mengadakan konferensi pers, di mana biro kepolisiannya mengumumkan bahwa mereka telah menahan sembilan orang yang diduga menyebarkan berita palsu bahwa bank itu dalam kesulitan besar. Sesaat sebelum bank beroperasi, berita yang muncul dari salah satu pemegang saham utama bank tersebut menjadi masalah keuangan.

Sebuah laporan situs berita Beijing pada 5 November, menunjukkan bahwa Huajun Holdings, sebuah perusahaan induk yang memiliki saham Yingkou Coastal Bank dalam jumlah cukup besar, diselidiki oleh pengadilan menengah Hangzhou di provinsi Zhejiang. Penyelidikan tersebut atas tuduhan bahwa mereka tidak memiliki cukup aset yang dapat dijual untuk membayar utangnya.

Laporan itu segera dihapus setelah Yingkou Coastal Bank diterpa isu bank run atau Rush Money. Akan tetapi Google masih menyimpan cache halaman web berita tersebut. Isu Rush Money Yingkou Coastal Bank terjadi hanya satu dari dua dalam hitungan minggu.

Pada 29 Oktober, Yichuan Rural Commercial Bank yang terletak di daerah Yichuan, kota Luoyang di provinsi Henan, Tiongkok mengalami nasib serupa.

Rush Money terjadi setelah pemerintah daerah menahan Kang Fengli, pimpinan bank, karena “melanggar disiplin dan hukum secara serius” pada malam 28 Oktober.

Menurut media setempat, Kang telah dituduh oleh penduduk setempat melakukan suap dan korupsi sejak Tahun 2018. Bahkan sebelum bank beroperasi, prospek Yichuan Rural Commercial Bank telah diturunkan peringkatnya.

Pada tanggal 31 Juli, Grup Pemeriksa Kredit Tiongkok Chengxin, perusahaan pemeringkat kredit nasional pertama Tiongkok menurunkan peringkat kredit Yichuan Rural Commercial Bank dari AA- menjadi A +. Hal demikian menunjukkan bahwa jumlah utang telah meningkat pada tingkat yang tak berkelanjutan.

Rush Money berakhir setelah pemerintah daerah, biro kepolisian, dan bank sentral Tiongkok terlibat dalam kasus ini. Pemerintah daerah juga mengganti Kang dengan wakil sekretaris partai Komunis kabupaten setempat pada 30 Oktober.

Kekhawatiran Ekonom

Ekonom memperkirakan bakal lebih banyak bank kecil dan menengah di daratan Tiongkok akan menghadapi masalah serupa pada tahun depan. Dikarenakan angka kinerjanya yang terus melambat.

Sebagai upaya menjaga stabilitas keuangan, bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China atau PBoC, mengumumkan akan menginvestasikan 10 miliar yuan atau 1,45 miliar dolar AS pada bank-bank bermasalah. Selain itu, juga membentuk dana asuransi simpanan pada 24 Mei lalu.

Terlepas dari upaya tersebut, para pakar tetap skeptis. Mereka meragukannya jika langkah-langkah tersebut mampu menghadapinya bersamaan faktor ekonomi yang terus melambat.

Yang Bin, ekonom dan wakil presiden Universitas Tsinghua, salah satu universitas top Tiongkok, kepada NTD berbahasa Tionghoa, media group The Epoch Times, pada 8 November mengatakan : rezim selalu mengatakan bahwa ekonomi Tiongkok tidak bermasalah. Akan tetapi, ia mengingatkan kepada semua orang ketika mengklaim unit produksi mencapai lima ribu kilogram, ternyata banyak orang meninggal dunia karena kelaparan. “

Apa yang disampaikan Yang Bin merujuk pada kebijakan rezim Komunis Tiongkok selama kampanye “Lompatan Jauh ke Depan,” sebuah kampanye industri yang dilancarkan pada tahun 1950-an. Dampaknya mengakibatkan “Kelaparan Besar ” di mana puluhan juta orang diperkirakan tewas.

Yang Bin mengatakan, penarikan dana secara besar-besaran secara bersama-sama hanya merupakan gejala bank-bank yang tidak beroperasi dengan baik.

Ia mengatakan “Saat ini, ekonomi Tiongkok tidak dalam kondisi yang baik. Bank kekurangan uang. Keuntungan dari setiap pemerintah daerah tidak positif, Itu normal bahwa ekonomi akan bertemu dengan beberapa masalah.”

Inflasi

Sementara itu, melemahnya keuangan mengekspos lubang di sektor keuangan, angka inflasi Tiongkok baru-baru ini mengungkapkan perjuangan lebih sistematis yang dihadapi ekonomi Tiongkok.

Biro Statistik Nasional Tiongkok merilis Indeks Harga Konsumen Tiongkok atau Consumer Price Index -CPI- Oktober pada 9 November. Rilis itu mengungkapkan bahwa naik 3,8 persen sejak Oktober tahun lalu. CPI telah melonjak tajam di Tiongkok didukung oleh pesatnya kenaikan harga pangan.

Secara rinci, harga makanan telah meningkat 15,5 persen dari bulan Oktober lalu dan dipimpin oleh harga daging babi yang meroket lebih dari dua kali lipat.

Harga daging lainnya juga mengalami kenaikan besar: Harga daging sapi naik 20,4 persen, domba mengalami kenaikan 16,1 persen, unggas 17,3 persen, dan telur 12,3 persen.

Tekanan harga ini telah dipicu oleh Flu babi Afrika yang menghancurkan persediaan daging babi domestik. Dampaknya memberikan knock-on effect atau dampak lanjutan pada harga makanan lainnya. Ini adalah biaya yang ditanggung secara langsung oleh orang-orang Tiongkok.

“Secara umum, kami telah makan lebih banyak sayuran daripada lainnya sejak musim panas,” hal demikian dituturkan oleh He Xin, seorang warga Beijing kepada The Epoch Times melalui sambungan telepon pada 27 November.

He adalah seorang ibu yang bekerja dan tinggal di Distrik Xicheng bersama suami dan putranya yang masih remaja. “Pada hari ini saya berbelanja ke pasar, perut babi seharga 41,5 yuan per 500 gram. Samcan sapi seharga 54 yuan per 500 gram, Siapa yang punya uang untuk makan daging setiap hari! demikian yang diutarakannya kepada The Epochtimes.

Penduduk Beijing ini berasal dari Provinsi Hunan. Dia mengatakan, bahwa keluarga di kota kelahirannya akan membuat sosis babi dan daging sapi sebelum tahun baru, tetapi tahun ini sangat sulit bagi warga.

Ibu itu mengatakan : “Harga daging babi terlalu tinggi, yang terburuk adalah banyak teman kami kehilangan pekerjaan di Provinsi Guangdong dan kembali ke kampung.”

Ketika harga pangan naik, angka Consumer Price Index menutupi cerita lain dalam perekonomian Tiongkok – yaitu pertumbuhan yang melambat.

Pertumbuhan harga konsumen inti tetap lemah, sementara harga produsen menurun selama setahun terakhir. Fakta ini semuanya menunjukkan melemahnya ekonomi yang berjibaku untuk menghasilkan permintaan. Kombinasi dengan meroketnya harga pangan, menjadi masalah yang sulit untuk ditangani oleh langkah-langkah kebijakan rezim.

Laporan Stabilitas Keuangan People’s Bank of China sendiri menyoroti tantangan yang dihadapi ekonomi Tiongkok.

Laporan yang diterbitkan pada 26 November menyatakan, bahwa ekonomi sedang “dipengaruhi oleh faktor domestik dan internasional, beberapa akumulasi jangka panjang dari kontradiksi dalam ekonomi Tiongkok secara bertahap diekspos, kegagalan keuangan cenderung terjadi, dan pertumbuhan ekonomi sedang menghadapi lebih banyak kesulitan. “

Laporan itu juga menunjukkan jumlah risiko yang menumpuk di sektor keuangan Tiongkok. Laporan mendaftar sebanyak 586 entitas keuangan dengan risiko tinggi, yang sebagian besar adalah bank kecil dan menengah berbasis di daerah pedesaan. Ini sama dengan 13 persen dari semua organisasi keuangan di Tiongkok.

Rapuhnya keuangan ini berisiko terekspos karena ekonomi menunjukkan tanda-tanda melemah lebih lanjut. Keuntungan di perusahaan industri Tiongkok menyusut pada laju tercepat dalam delapan bulan pada Oktober lalu.

Laba industri turun 9,9 persen pada Oktober year-on-year menjadi 427,56 miliar yuan , data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional menunjukkan pada 27 November, menandai penurunan terbesar sejak periode Januari-Februari dan dibandingkan dengan 5,3 persen, menurun pada bulan September lalu.

Sementara itu, total keuntungan dari industri yang dikelola negara adalah 1.471,55 miliar yuan – mengalami penurunan 12,1 persen relatif terhadap periode yang sama pada 2018 lalu.

Pemerintahan juga melaporkan pertumbuhan ekonomi paling lambat dalam 27 tahun pada Oktober lalu. Dikarenakan ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat yang menghantam sektor manufaktur. Angka-angka ini bahkan mungkin mengecilkan penurunan.

Data resmi pemerintahan Komunis Tiongkok kerap menunjukkan laporan yang mutlak indah dan sering kali dicurigai. Bahkan Perdana Menteri Li Keqiang, mungkin tidak mengandalkan data tersebut. Dia menciptakan ukuran baru untuk mengukur aktivitas ekonomi yang bernama “Indeks Li Keqiang”.

Indeks tersebut menggabungkan tiga indikator: volume kargo kereta api, konsumsi listrik, dan pinjaman yang disalurkan oleh bank. Namun demikian, People’s Bank of China dan Biro Statistik Nasional Tiongkok tidak mempublikasikan tiga indikator tersebut. (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular