Erabaru.net. Pada zaman dahulu, di Gunung Phoenix di Provinsi Shandong, Tiongkok, ada seorang pengikut spiritual yang hidup menyendiri, ditemani oleh seekor Serigala yang tinggal di dalam gua. Pengikut spiritual ini memiliki ilmu yang tinggi sehingga dia telah dianggap sebagai ‘Dewa Gunung’.

Setiap hari, dia bertugas mengawasi gunung dan mendaraskan kitab suci, sementara serigala akan selalu menjaganya.

Ilustrasi.

Serigala tersebut sangat menghormati dan mengagumi sang Dewa Gunung. Namun serigala tahu, karena ia hanya seekor hewan dan tidak memiliki tubuh manusia, ia tidak dapat berkultivasi menjadi Dewa seperti sang Dewa Gunung.

Dalam hatinya ia hanya ingin untuk berbuat baik, tidak memangsa manusia, agar dapat mengumpulkan cukup banyak kebaikan agar dilahirkan kembali sebagai manusia dalam kehidupan berikutnya.

Suatu hari, Serigala merasa sangat lapar, dan ia meminta makanan pada Dewa Gunung. Dewa Gunung berkata,: “Pergilah ke jembatan kayu pada siang hari ini. Akan ada sesuatu untuk dimakan.”

Serigala itu pun pergi ke jembatan kayu, dan mendapati seorang pria buta sedang berjalan dengan tongkatnya. Karena rasa laparnya sudah tak tertahankan, Serigala langsung menerjang pria buta tersebut hingga jatuh.

Pria buta itu memohon pada serigala,: “Tolong berbaik hatilah padaku! Ibuku di rumah sudah tua, menungguku membawa makanan untuknya. Jika kamu memangsaku, ibuku yang malang akan mati kelaparan. Tolong jangan mangsa aku!”

Ilustrasi.

Serigala yang memang telah bertekad untuk selalu berbuat baik, tidak tega untuk memangsa pria buta itu. Ia berbalik menuju ke desa terdekat. Setelah berusaha keras, ia menemukan beberapa potong tulang ayam. Ia pun kembali ke gua dalam keadaan masih lapar.

Beberapa hari kemudian, serigala itu merasa lapar lagi. Sekali lagi ia meminta makan kepada Dewa Gunung. Dewa Gunung berkata pada serigala,: “Pergilah ke jembatan kayu itu lagi di siang hari ini dan kamu akan mendapati makanan di sana.”

Saat Serigala turun gunung, salju mulai turun. Ia pergi ke jembatan itu dan mendapati seorang wanita tua yang sedang menggendong bayi. Serigala itu pun langsung menerjang wanita tua tersebut dan menyambar sang bayi dengan mulutnya.

Baru saja Serigala mau melarikan diri, wanita tua langsung berlutut dan memohon: “Tolong, berbaik hatilah… Bayi itu adalah satu-satunya cucu di keluarga saya. Jika Anda memangsanya, silsilah keluarga kami akan berhenti. Tolong jangan mangsa bayi itu!”

Kedua kalinya, Serigala menjadi tidak tega dan kehilangan nafsu makannya. Ia meletakkan bayi itu dan pergi ke desa terdekat untuk mencari makanan.

Salju menyelimuti segalanya membuat Serigala sulit untuk mendapatkan makanan. Rasa lapar yang hebat dan kelelahan, membuat Serigala itu akhirnya roboh dan mati.

Karena segala kebajikannya, Serigala berhasil bereinkarnasi menjadi manusia, terlahir sebagai seorang anak laki-laki dalam sebuah keluarga di desa yang sama. Bocah laki-laki itu senang bermain di kuil setempat. Bersama keluarganya, ia sering membakar dupa di kuil.

Ketika bocah itu berusia 13 tahun, ia memutuskan untuk menjadi biarawan di kuil Gunung Phoenix. Saat berusia 20 tahun, ia telah menjadi kepala biara di kuil tersebut.

Ilustrasi.

Selama ia berada di kuil, ia pun mendengar cerita dari biarawan seniornya tentang Dewa Gunung Phoenix dan teman Serigalanya yang setia. Menurut cerita, setelah Serigala itu mati karena tidak ingin memangsa manusia, Dewa Gunung itu sangat terpukul atas kematian teman setianya itu. Ia jadi kehilangan semangat untuk mengawasi gunung maupun mendaraskan kitab suci, dan telah mengabaikan tugasnya.

Setiap kali teringat nasib Serigala, Dewa Gunung akan kehilangan nafsu makan dan tidak bisa tidur, keterikatannya pada Serigala membuatnya jatuh sakit, dan akhirnya ia pun meninggal sia-sia di dalam gua.

Siapa sangka? Ternyata Dewa Gunung yang telah jatuh tingkatannya itu dilahirkan kembali menjadi seekor anak serigala berwarna kuning.

Tragis sekali! Dewa Gunung menjadi serigala dan Serigala itu menjadi kepala biara dalam kehidupan berikutnya.

Anak serigala kuning ini tumbuh dengan baik di tengah saudara-saudara serigalanya, dan disusui dengan baik oleh induknya.

Namun setelah induknya berhenti menyusui, ia mengalami kesulitan besar untuk mendapatk makanan karena ia enggan berburu. Akhirnya anak serigala kuning ini hanya makan sisa makanan dari saudara-saudara serigalanya, akibatnya ia sering merasa kelaparan.

Ilustrasi.

Serigala kuning ini tahu bahwa orang-orang sering mempersembahkan makanan dan buah-buahan di kuil Gunung Phoenix. Ia pun sering ke kuil untuk mendapatkan makanan dan buah-buahan untuk dimakan.

Suatu hari, ketika serigala kuning sedang berada di kuil mencuri buah, kepala biara tiba-tiba melihatnya. Ia sangat terkejut karena ingatannya langsung terbuka, ia mengetahui bahwa serigala kuning itu adalah Dewa Gunung majikannya di kehidupan sebelumnya.

Anak serigala kuning pun langsung menyadari apa yang sedang terjadi. Ia merasa sangat malu dan berlari keluar kuil, menuju ke sisi lain gunung.

Ia tidak ingin lagi hidup! Ia sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan tubuh manusia di kehidupan sebelumnya, menjadi begitu terikat pada perasaan, dan jatuh dari tingkatannya. Dalam kepanikannya, ia tergelincir jatuh ke jurang dan mati.

Cerita ini menggambarkan bahwa memiliki tubuh manusia adalah sangat berarti untuk dapat berkultivasi naik menjadi Dewa. Kehidupan demi kehidupan, entah berapa banyak manusia yang tersesat dalam jalur reinkarnasi dan tidak bisa kembali ke asal jati dirinya yang sejati.(yn)

Sumber: ntdindonesia

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular