Erabaru.net Sejumlah praktisi Falun Gong menggelar aksi damai dalam rangka menentang penindasan Falun Gong di Tiongkok dalam rangka peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2019. 

Aksi tersebut digelar di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (14/12/2019).

Melansir dari id.falundafa.org, Falun Dafa juga disebut Falun Gong adalah sebuah latihan kultivasi peringkat atas di mana “berasimilasi dengan karakter tertinggi alam semesta – Zhen, Shan, Ren atau Sejati, Baik, Sabar.  Disebutkan, fokus dari latihan Falun Dafa adalah pada hati, mengultivasikan hati dan pikiran seseorang, atau “Xinxing.”

Pada saat peringatan Hari HAM sore itu, diperagakan aksi pengambilan organ yang dialami oleh praktisi Falun Gong. Terlihat contoh bagian organ dalam tubuh seperti hati yang diambil secara paksa. Menyertainya spanduk besar yang menyerukan “Hentikan Penindasan Terhadap Praktisi Falun Gong di China.”

Peragaan lainnya tentang keadaan praktisi Falun Gong yang dirantai dan dipukuli oleh aparat di Tiongkok. Selain itu, diperlihatkan kondisi praktisi Falun Gong yang dikerangkeng dalam kurungan besi yang sempit.

Suasana peringatan Hari HAM Sedunia 2019 di kawasan di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu 14 Desember 2019

Tak kalah kejamnya, peragaan lainnya adalah penusukan batang bambu runcing ke ujung jari-jari tangan praktisi Falun Gong hingga darah menetes. Tak terbayangkan seperti apa penderitaan dan kesakitan luar biasa yang dialaminya. Praktek penyiksaan-penyiksaan brutal tersebut adalah umumnya dilakukan di kamp penahanan Komunis Tiongkok.

Sejumlah praktisi lainnya  terlihat membentangkan spanduk yang bertuliskan “Dunia Membutuhkan Sejati-Baik-Sabar.” Tulisan lainnya bertuliskan “Help Stop Crimes Against Humanity.”  Tulisan lainnya adalah “Help Stop Forced Organ Harvesting in China” dan “Up to 1,5 Million Killed in China for Their Organ.”

Tak hanya itu, spanduk lainnya bertuliskan “Hentikan Penganiayaan dan Pengambilan Organ Terhadap Praktisi Falun Gong di China.” Spanduk lainnya lagi bertuliskan “Falun Gong Meditation Guided by Truth-Compassion-Forbearance.

Pada kesempatan tersebut juga dibentangkan spanduk lainnya yang memperingatkan bahwa “Paham Komunis Merusak Moral Manusia.”Tulisan lainnya juga berbunyi : “Tujuan Akhir Komunisme adalah Memusnahkan Manusia.”

Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia, Gatot Machali mengatakan dalam orasinya bahwa kini telah 20 tahun berlangsungnya penindasan genosida HAM terhadap Falun Gong yang diprakarsai oleh mantan pemimpin Komunis Tiongkok Jiang Zemin dan rezim Komunis Tiongkok.

Suasana peringatan Hari HAM Sedunia 2019 di kawasan di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu 14 Desember 2019

Menurut Gatot,  Jiang Zemin dan rezim Komunis Tiongkok telah menggunakan seluruh sumber daya negara untuk menindas Falun Gong. Seluruh media di Tiongkok, baik televisi, radio, koran dan saluran media lainnya secara serentak digunakan untuk memfitnah praktisi Falun Gong dengan narasi negatif, bawah Falun Gong adalah aliran sesat dan berpolitik. Padahal fakta sebenarnya tak seperti yang disebutkan.

“Fitnahan tersebut (Hoaks) membanjiri seluruh seluruh media yang dilansir secara terus menerus, yang tidak satu pun media bersuara berbeda, bukankah ini berarti telah mencuci otak seluruh rakyat untuk membenci Falun Gong?,” kata Gatot.

Menurut dia, apalagi berita tersebut kemudian juga dilansir ulang oleh media di luar negeri di banyak negeri yang akhirnya meneruskan hoaks tersebut. Hal demikian semakin memperparah keadaan para praktisi Falun Gong. Termasuk insiden paling fenomenal tentang hoaks bakar diri palsu di Tiananmen.

Gatot menjelaskan, strategi utama Komunis Tiongkok untuk menindas Falun Gong adalah menciptakan kebencian, jika tidak ada kebencian maka perlu diciptakan kebencian. Akibat strategi menciptakan kebencian inilah rakyat Tiongkok menjadi terbelah dan saling membenci.

Sehingga, kata Gatot, rakyat yang tak tahu menahu tentang Falun Gong akhirnya terseret arus ikutan membenci Falun Gong. Padahal hanya termakan isu dusta dan propaganda Komunis Tiongkok.

Suasana peringatan Hari HAM Sedunia 2019 di kawasan di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu 14 Desember 2019 , dengan peragaan penyiksaan yang dialami praktisi Falun Gong

Dengan demikian, maka penindasan apapun yang dilakukan oleh Komunis Tiongkok seakan menjadi rasional dan sewajarnya, sedemikian sehingga sebagai rakyat yang tercuci otaknya dengan otomatis mendukung dan setuju agar Komunis Tiongkok menindas terhadap Falun Gong. Seperti itulah, watak jahat budaya Partai Komunis Tiongkok.

Mengutip dari situs Minghui.org, data terakhir sejak dimulainya penindasan 20 Juli 1999 sampai hari ini, setidaknya 4.236 orang telah dikonfirmasi tewas akibat penganiyaan dan diperkirakan masih ribuan lebih banyak lagi kasus kematian namun masih belum bisa dikonfirmasi.

“Angka ini hanyalah puncak gunung es, ketika fakta kebenaran nanti telah diungkapkan dan pengadilan akhir terhadap pelaku kejahatan disidangkan, total jumlah kematian dan korban lainnya bakal bisa lebih mengejutkan lagi,” ujar Gatot.

Suasana peringatan Hari HAM Sedunia 2019 di kawasan di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu 14 Desember 2019 , dengan peragaan penyiksaan yang dialami praktisi Falun Gong

Gatot mengatakan, puncak penganiayaan yang paling mengerikan tersebut dan telah menjadi sorotan dunia internasional adalah perampasan organ tubuh secara hidup-hidup dari puluhan ribu praktisi Falun Gong untuk kebutuhan industri transplantasi organ di tiongkok yang melibatkan pejabat Komunis Tiongkok sampai ke tingkat Politbiro.

Lalu mengapa rezim komunis Tiongkok menindas Falun Gong? Gatot mengatakan, praktek tersebut diakibatkan selain sifat dengki-iri Jiang Zemin terhadap popularitas Falun Gong. Hal lain dikarenakan nilai-nilai moral Sejati-Baik-Sabar adalah bertolak belakang dengan ideologi Komunis yang bohong, Jahat dan Teror.

Suasana peringatan Hari HAM Sedunia 2019 di kawasan di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu 14 Desember 2019 , dengan peragaan penyiksaan yang dialami praktisi Falun Gong

Maka dari itu, bagi negara Komunis yang juga ateis, filosofi Falun Gong yang bisa membuat orang berwatak baik menjadi ancaman baginya yang berwatak amoral dan jahat. Komunis Tiongkok ketakutan pada prinsip Sejati-Baik-Sabar dan takut pada keyakinan ratusan juta praktisi yang kokoh dan penuh kedamaian.

Gatot mengatakan, sebuah penindasan kerap dapat berlangsung karena sebagian orang masih membisu dan belum bersikap di tengah kejahatan manusia ini, seolah tengah menunggu kebangkitan nurani dan rasa keadilan kita semua. Karena pada seruan mengakhiri dua dekade kejahatan komunis Tiongkok terhadap praktisi Falun Gong maka akan terus disuarakan fakta kebenarannya.

“Kami akan terus mengungkapkan fakta-fakta kejahatan kemanusiaan rezim Komunis Tiongkok ini bersamaan mengajak agar bergabung membubuhkan petisi melalui https ://Faluninfo.net/act-now//. Setiap terkumpulnya 100.000 tandatangan akan diteruskan ke Komisioner HAM PBB,” katanya.  (asr)

Share

Video Popular