Steven W. Mosher

Pada bulan Februari Tahun 1947, Presiden Amerika Serikat Harry Truman memutuskan untuk membantu perjuangan pemerintah Yunani dalam melawan pemberontakan komunis.

Kala itu, Truman, mengatakan kepada rakyat Amerika Serikat, bahwa perang saudara di Yunani adalah ujian kritis kemampuan Amerika Serikat untuk menghadapi komunisme internasional.

Namun demikian, terlepas dari retorika anti-komunis Truman, ia mengabaikan ancaman komunis yang jauh lebih penting. Yakni, Ancaman yang bahkan mengancam negara terpadat di dunia itu.

Saat tentara Merah Komunis Tiongkok pimpinan Mao Zedong sedang bergerak, tetapi “deep state” atau negara dalam negara pada zaman itu, menasihati Harry Truman untuk tidak campur tangan.

Kala itu, penasihat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memberitahukan kepada Harry Truman bahwa Mao Zedong dan para pengikutnya bukanlah komunis sejati, melainkan hanyalah “reformis agraria.”

Saat Harry Truman menyadari hal yang sebaliknya terjadi, pemerintah Tiongkok Nasionalis, sekutu lama Amerika Serikat, telah diusir dari Tiongkok Daratan. Sebuah kediktatoran komunis, yang bersekutu erat dengan Uni Soviet, telah diciptakan.

Ini hanyalah yang pertama dari banyak kesalahan-kesalahan langkah yang dilakukan Amerika Serikat ketika berurusan dengan rezim Komunis Tiongkok selama beberapa dekade.

Dari pengakuan Jimmy Carter mengenai Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1979 — hampir tanpa syarat — hingga promosi Bill Clinton untuk keanggotaan Tiongkok dalam Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO tentang kebijakan Amerika Serikat-Tiongkok didorong oleh ramuan aneh mengenai kenaifan dan keserakahan yakni kenaifan mengenai kesediaan Komunis Tiongkok untuk melakukan reformasi politik dan ekonomi. Selain itu, keserakahan didorong oleh kekayaan yang dibayangkan akan terjadi pasar raksasa Tiongkok.

Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar orang Amerika Serikat akhirnya telah memahami beberapa kebenaran yang mendasar mengenai rezim Komunis Tiongkok.

Penutupan ribuan pabrik di Amerika Serikat dan hilangnya jutaan pekerjaan manufaktur di Amerika Serikat telah merusak citra negeri paman SAM itu.

Pekerja pabrik yang pekerjaannya telah di-outsourcing-kan ke Tiongkok, tidak mungkin memendam perasaan hangat mengenai negara yang praktik predatornya mengarah pada pemecatan para pekerja pabrik tersebut.

Bagai badai salju yang sedang berlangsung mengenai laporan pelanggaran hak asasi manusia yang beraneka ragam di Tiongkok — termasuk yang terburuk di dunia — turut memperkuat antipati terhadap rezim Komunis Tiongkok di kedua ujung spektrum politik.

Tetapi, Steven W. Mosher percaya bahwa dorongan utama untuk kejelasan terbaru di mana orang Amerika Serikat memandang Komunis Tiongkok adalah Presiden Donald Trump sendiri. Dengan ketangguhannya dan bicaranya yang jelas, telah mengkristal dalam benak banyak pemilik perasaan yang tak tenang akan perilaku goliat komunis itu.

Pusat Penelitian Pew mulai menilai sikap orang Amerika Serikat terhadap orang Tiongkok pada tahun 2005. Penelitian tersebut menemukan bahwa sikap warga AS cenderung negatif sejak saat itu.

Faktanya, sekitar 60 persen masyarakat Amerika kini memiliki kesan yang tidak baik terhadap Komunis Tiongkok. Adalah penting untuk dicatat bahwa pergeseran ini bukanlah merupakan respons terhadap pergeseran opini elit, tetapi sebagian besar adalah pendorongnya.

Elit Washington, apakah yang bekerja di Departemen Luar Negeri, lembaga pemikir, atau media elit, sebagian besar menentang upaya untuk mendefinisikan kembali Komunis Tiongkok sebagai kekuatan yang bermusuhan.

Amerika Serikat lebih suka melanjutkan “pertunangan” tanpa hasil dengan Komunis Tiongkok daripada menentang Komunis Tiongkok, dan menciutkan rasa ngeri dalam membayangkan “perang dingin” gaya baru.

Dengan kata lain, konsensus baru tentang Komunis Tiongkok muncul terlepas dari pendapat para elit.

Dalam pengertian ini, merupakan semacam pemberontakan populis di pihak orang Amerika yang biasa terhadap elit globalis, “deep state” dan para pembuat opini atau apa pun yang anda ingin sebut mereka yang percaya diri sebagai atasan intelektual yang lebih baik.

Diperlukan beberapa dekade untuk melaporkan kerusakan yang disebabkan oleh keterlibatan elit Amerika Serikat dengan Komunis Tiongkok, untuk menyebar kembali ke jajaran yang ditinggikan. Tetapi sifat tantangan dari rezim Komunis Tiongkok — yang jauh lebih kompleks dan berbahaya daripada yang ditimbulkan oleh Uni Soviet — adalah kini yang dikenal secara umum.

Hasilnya adalah konsensus baru — yang kini mencakup mayoritas rakyat di kedua partai di AS, pihak militer, dan sebagian besar unsur media arus utama dan alternatif. Yang mana menyatakan bahwa rezim Komunis Tiongkok merupakan ancaman eksistensial bagi Amerika Serikat, baik di bidang ekonomi maupun strategis.

Konsensus baru tersebut mengakui, bahwa tidak keterlibatan seperti yang dijanjikan, secara fundamental mengubah Tiongkok menjadi negara yang menghormati aturan hukum baik di dalam dalam negeri maupun di luar negeri.

Sebaliknya, konsensus baru melihat bahwa kebijakan masa lalu Amerika Serikat untuk menenangkan Komunis Tiongkok dengan menempatkan Komunis Tiongkok “sebagai pembuat keputusan” adalah telah gagal. Amerika Serikat perlu bekerja sama dengan sekutunya untuk menahan agresi Komunis Tiongkok di bidang ekonomi dan teritorial. Serta meminta pertanggungjawaban atas pelanggaran hak asasi manusia serta, setidaknya terkait teknologi kritis, melepaskan kedua ekonomi Amerika Serikat.

Bahkan para globalis seperti Fareed Zakaria, yang mundur karena pemikiran keras mengenai “penahanan” dan “pelepasan” di mana Komunis Tiongkok menjadi perhatian, kini mengakui bahwa hal itu dijalankan oleh “rezim represif yang terlibat dalam kebijakan yang sepenuhnya tidak liberal. Dari melarang kebebasan berbicara hingga menahan umat agama minoritas.”

Tentu saja, hal ini tidak mulai menggambarkan mimpi buruk mengenai totaliter yang ada di zaman sekarang adalah Komunis Tiongkok.

Rezim Komunis Tiongkok sibuk terlibat dalam pembentukan kediktatoran digital teknologi-tingkat tinggi, yang mana sebelumnya hanya ada di halaman novel fiksi ilmiah distopia.

Tujuannya adalah untuk memonitor semua orang, setiap saat, tepat waktu. Dengan menggunakan kamera pengintai video, penyadapan elektronik, teknologi pengenal-wajah, pemindaian retina, kecerdasan buatan, data besar, dan lain-lain, Komunis membuat kemajuan setiap hari ke arah tujuan ini.

Seseorang mungkin berpikir bahwa metode-metode kendali ini pada waktunya akan diekspor — tentu saja demi keuntungan, kepada rezim-rezim penindas lainnya di seluruh dunia, seperti Venezuela.

Kebijakan luar negeri Komunis Tiongkok saat ini merupakan ancaman global paling bermakna terhadap kepentingan Amerika Serikat. Juga terhadap tatanan internasional berbasis peraturan yang dibuat Amerika Serikat setelah tahun 1945.

Rezim Tiongkok terus meningkatkan pengeluaran dana militernya berdigit ganda setiap tahun.

Menurut angka-angka yang dipublikasikan, pengeluaran pertahanan Tiongkok yang sebenarnya yang tidak dapat dianggap remeh.

Kini Komunis Tiongkok memiliki anggaran militer terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, Komunis Tiongkok sering menggunakan cara non-kinetik untuk memaksa negara lain untuk melakukan penawarannya, seperti memaksakan pariwisata terlarang di Tiongkok atau melarang ekspor logam tanah jarang ke negara-negara yang kritis terhadap kebijakan Tiongkok. Bahkan, memancing dan menyuap para pemimpin negara-negara miskin penerima pinjaman yang sebenarnya adalah perangkap utang yang disamarkan.

Para pemimpin komunis Tiongkok sangat sadar. Ketika meningkatkan kekuatan ekonominya untuk mencapai tujuan politis dengan cara tersebut, memang melanggar tatanan internasional. Yang mana, negara-negara berdasarkan pada taat kepada peraturan. Akan tetapi, selama kepentingan tercapai, komunis Tiongkok tidak mau ambil pusing.

Seperti pernyataan Deng Xiaoping yang terkenal, “Tidak masalah apakah kucing putih atau hitam selama kucing itu menangkap tikus.” Sejak dulu perilaku Komunis Tiongkok memang hitam.

Konsekuensi internasional dari mengabaikan ancaman yang tumbuh dari Komunis Tiongkok selama beberapa dekade terakhir adalah sangat besar. Keberadaan Korea Utara yang kini dipersenjatai dengan nuklir, penyebaran rezim otoriter di Amerika Latin dan Afrika. Termasuk ancaman terhadap kebebasan navigasi di Laut China Selatan dan tempat lain. Ancaman itu terus-menerus untuk Hong Kong dan Taiwan, dan melemahkan institusi internasional.

Untungnya, kini Amerika Serikat memiliki pemerintahan di Washington. Yang mana, tidak hanya mengakui tantangan yang ditimbulkan oleh rezim Komunis Tiongkok, tetapi juga bersedia mengutuknya atas tindakan Komunis Tiongkok di dalam dan luar negeri.

Sebagaimana Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo baru-baru ini menyampaikannya di sebuah pidato di Institut Hudson yang berbunyi :

“Partai Komunis Tiongkok adalah partai Marxis-Leninis yang berfokus pada perjuangan dan dominasi internasional.”

Pompeo kemudian mengatakan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya harus menjaga Tiongkok di “tempat yang tepat,” yang berarti tentu saja menjaga kerusakan beraneka ragam dalam batas-batasnya sendiri.

Mengingat militer Komunis Tiongkok terus membangun dan berambisi hegemonik, NATO harus menganggap dirinya sebagai benteng tidak hanya terhadap Rusia, tetapi juga terhadap Tiongkok yang bahkan lebih berpotensi mengancam.

Dengan kekuatan dan tujuan Amerika Serikat dikombinasikan dengan sekutunya dan dikerahkan dengan kuat, Komunis Tiongkok akan terhalang untuk terlibat dalam jenis-jenis petualangan yang terang-terangan dapat mengakibatkan konflik terbuka.

Memuat rezim Komunis Tiongkok dengan cara ini, akan membantu memastikan bahwa kontradiksi internal yang sama dengan negara totaliter mana pun akan meningkat dan pada akhirnya akan mengarah pada kehancuran.

Ini bukan untuk mengatakan bahwa Komunis Tiongkok akan mereformasi dirinya sendiri.

Sebaliknya Steven W. Mosher berpendapat bahwa sistem politik itu sendiri hanya akan hancur, dengan cara yang sama dengan sistem Soviet yang hancur. Mungkin meninggalkan Tiongkok sebagai koleksi unit politik berukuran provinsi.

Runtuhnya dinasti sering terjadi dalam sejarah Tiongkok dan tidak ada alasan untuk berpikir bahwa hal tersebut tidak dapat terjadi lagi.

Hal ini akan memberikan kesempatan aspirasi demokrasi bagi rakyat Tiongkok — yang sudah dipajang di Taiwan dan Hong Kong — untuk mencapai jantung Tiongkok itu sendiri. Ini hanyalah soal masalah waktu. (Vivi/asr)

Steven W. Mosher selaku Presiden dari Population Research Institute dan penulis “Bully of Asia: Why China’s Dream is the New Threat to World Order” dalam opininya di The Epochtimes 

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular