- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Huawei Mengekspor Teknologi Pengawasan “Kecerdasan Buatan” Setidaknya ke 50 Negara

oleh Xu Zhenqi – Epochtimes.com

Sebuah laporan dari wadah pemikir di Amerika Serikat baru-baru ini menunjukkan bahwa perusahaan Tiongkok telah mengekspor teknologi pengawasan kecerdasan buatan – Artificial Intelligence (AI) ke lebih dari 60 negara. Negara-negara itu termasuk Iran, Myanmar, Venezuela, Zimbabwe dan negara-negara yang memiliki catatan hak asasi manusia buruk. Di mana perusahaan Huawei telah menjual teknologi pengawasan AI ke setidaknya 50 negara.

‘Carnegie Endowment for International Peace’ merilis laporan bahwa perusahaan Tiongkok telah mengekspor teknologi pengawasan kecerdasan buatan – Artificial intelligence (AI). Laporan itu dirilis karena kekhawatiran bahwa rezim otoriter Tiongkok akan menggunakan teknologi AI untuk memperkuat kemampuan mereka dan pengawasan. Selain itu, data luar negeri mungkin saja dapat dikirim ke Tiongkok.

Laporan menyebutkan, Beijing adalah penggerak teknologi otoriter global, karena teknologi sistem pengenalan wajah digunakan oleh komunis Tiongkok untuk menindak rakyatnya.

Menurut laporan itu bahwa teknologi yang terkait dengan perusahaan Tiongkok terutama Huawei, Hikvision, Dahua dan ZTE, menyediakan teknologi pengawasan AI di 63 negara, di mana 36 negara di antaranya telah menandatangani dengan komunis Tiongkok, inisiatif One Belt One Road (OBOR). 

Huawei adalah pemimpin pasar dalam ekspor teknologi pengawasan AI Tiongkok

Laporan itu  juga menyatakan bahwa Huawei adalah pemimpin pasar dalam ekspor teknologi pengawasan AI Tiongkok dan telah menjual teknologi tersebut kepada setidaknya 50 negara. Akan tetapi banyak di antara negara-negara itu memiliki catatan hak asasi manusia yang buruk.

Fan Shiping, seorang profesor di National Taiwan Normal University mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Epoch Times pada bulan Februari tahun ini bahwa Huawei memiliki hubungan erat dengan Partai Komunis Tiongkok dan merupakan andalan dari Golden Shield. Untuk membantu Huawei memperluas pasar 5G, komunis Tiongkok mengekspor model pengawasan untuk memperluas kekuasaan. Ini juga sesuatu yang membuat Amerika Serikat tambah khawatir.

Fan Shiping mengatakan, proyek Skynet dan Golden Shield komunis Tiongkok saat ini sebenarnya termasuk pengenalan wajah dan sistem kredit sosial. Huawei memainkan peran yang sangat penting.

“Teknologi tinggi Huawei membantu mempromosikan otoriterisme teknologi,” kata Fan bahwa komunis Tiongkok mengandalkan sistem ini untuk menekan atau mengendalikan masyarakat. Untuk negara-negara dunia ketiga atau negara otoriter, metode ini dapat digunakan untuk memantau oposisi.

Selain Huawei, Hikvision juga menjual peralatan pengawasannya ke seluruh dunia. Perusahaan tersebut menggunakan teknologi AI untuk memungkinkan pengenalan wajah berskala besar. Hikvision adalah perusahaan inti yang secara aktif dikembangkan oleh otoritas Tiongkok untuk memenuhi ambisinya menjadi pengekspor sistem pengawasan terbesar di dunia. Pemerintah Tiongkok memegang 42% saham perusahaan ini.

Kementerian Perdagangan Amerika Serikat menambahkan 28 entitas Tiongkok ke dalam Daftar Hitam kontrol ekspor pada 7 Oktober 2019 lalu dan melarang mereka membeli produk dan teknologi Amerika. Entitas-entitas itu termasuk 8 perusahaan Tiongkok, salah satunya adalah Hikvision, yang fokus pada kecerdasan buatan, pembelajaran lewat mesin, pengawasan elektronik.

OBOR digunakan komunis Tiongkok untuk menggiring negara lain masuk jalur ekonominya

Laporan ‘Carnegie Endowment for International Peace’ menyebutkan : Promosi produk Tiongkok seringkali disertai dengan pinjaman lunak untuk mendorong pemerintah asing membeli peralatan. Hal ini menimbulkan masalah yang mengkhawatirkan, karena pemerintah Tiongkok mensubsidi pembelian teknologi pengawasan canggih.

Manurut para kritikus bahwa pembangunan infrastruktur lintas-perbatasan yang merupakan proyek OBOR komunis Tiongkok itu bertujuan untuk menggiring negara-negara Asia, Afrika, dan Eropa masuk ke jalur ekonomi komunis Tiongkok.

Kantor Informasi dari Dewan Negara Tiongkok mengumumkan pada tahun 2016, inisiatif ‘Membangun Jalan Sutra Online dan Meningkatkan Sabuk dan Inisiatif Jalan’. Bloomberg pada 10 Januari tahun ini menerbitkan artikel panjang tentang investigasi terhadap proyek-proyek OBOR komunis Tiongkok. Blomberg menggunakan Zambia sebagai contoh untuk mengungkapkan proyek ‘Kota Aman’ yang didukung oleh ‘OBOR Digital’ yang sebenarnya lebih bertujuan untuk menggiring rezim Zambia meniru pengawasan gaya penindasan komunis Tiongkok.

Perusahaan ZTE berpartisipasi dalam pemasangan kamera pada proyek ‘Kota Aman’ di Lusaka, Zambia. Juru bicara Huawei, Hansen He telah berbicara tentang ‘Smart Zambia’ yang diprakarsai oleh Huawei.

Laporan mengatakan bahwa sebagian besar proyek infrastruktur digital Zambia dibangun dan didanai oleh modal Tiongkok. Hal itu menjadikan negara tersebut masuk salah satu negara yang berisiko tinggi terhadap krisis utang. Pada saat yang sama, kekhawatiran lain juga muncul  seperti apakah negara yang terdiri dari demokrasi multi-partai dan cukup lama berada dalam situasi stabil ini akan beralih ke mode penindasan komunis Tiongkok ?

Huawei telah mendirikan pusat data nasional untuk pemerintah Zambia menangani semua data dan database buat keperluan Zambia. Langkah itu menimbulkan kekhawatiran bahwa pusat tersebut dapat pula digunakan oleh komunis Tiongkok untuk mengumpulkan data atau intelijen yang mereka butuhkan.

Sebuah laporan dari wadah pemikir di Amerika Serikat baru-baru ini menunjukkan bahwa perusahaan Tiongkok telah mengekspor teknologi pengawasan kecerdasan buatan (AI) ke lebih dari 60 negara termasuk Iran, Myanmar, Venezuela, Zimbabwe dan negara-negara yang memiliki catatan hak asasi manusia buruk.  (sin)

Video Rekomendasi :