oleh Hong Ning, Gu Xiaohua

Menyusul aksi protes warga Tiongkok terhadap rencana pembangunan krematorium oleh pemerintah daerah Kotapraja Wenlouzhen di Guangdong, Tiongkok  pada akhir bulan November 2019 lalu. Pada 16 dan 17 Desember 2019, protes kembali terjadi di Kota Boyang yang berjarak 27 km dari Kotapraja Wenlouzhen. 

Bentrokan cukup sengit terjadi antara petugas keamanan dengan warga setempat di Kota Boyang, Guangdong, Tiongkok. Warga melemparkan bom molotov untuk menyerang pemerintah. Seorang warga desa bermarga Liu  menggambarkan situasi yang terjadi kepada reporter Epochtimes. Penyebab terjadinya bentrokan kali ini masih saja persoalan pembangunan krematorium. 

Dilaporkan bahwa pemerintah setempat bermaksud tetap membangun krematorium dengan cara mengelabui warga seakan fasilitas penjernihan air bersih yang dibangun di desa Liangshan dari Boyang. 

Selain itu pembangunan sudah dimulai. Karena itu warga marah dan berunjuk rasa ke pemda setempat, kemudian muncullah konflik.

Pada 16 Desember 2019, sejumlah warga dengan membawa spanduk berjalan menuju kantor pemda untuk berunjuk rasa. Mr. Liu mengungkapkan bahwa pada saat puncak konflik warga yang menyerbu masuk ke dalam gedung pemda mencapai ribuan orang.

Pejabat pemda selain tidak mengatasi masalah, malahan mendatangkan sekitar 500 – 600 orang polisi anti-huru hara ke lokasi. Mr. Liu mengatakan bahwa sampai 3 kali terjadi konflik sengit antara polisi dengan warga. Insiden terjadi dari tanggal 16 sampai 17 sore baru mereda. 

Bentrokan yang paling sengit terjadi pada tanggal 16 Desember pada malam hari. Warga berupaya untuk membalikkan mobil pemadam kebakaran yang sedang disiagakan. Lalu melempar bom molotov. Pada 17 Desember polisi menggunakan bom air mata untuk menekan bentrokan.

Liu juga menyatakan bahwa alasan utama konflik adalah karena polisi mengusir keluar warga  desa yang telah memasuki kantor pemda. Lebih parah lagi, membubarkan unjuk rasa dengan cara kekerasan. 

Ia menyaksikan sendiri beberapa polisi anti-huru hara memukul seorang warga sampai ia jatuh di tanah dan tidak bisa bangun. Juga para wanita yang ikut protes juga dipukuli. 

Jumlah spesifik dari mereka yang mengalami cedera dalam bentrokan ini belum diketahui, tetapi ada kabar angin bahwa seorang warga ditolak berobat oleh rumah sakit setempat karena lukanya cukup serius. 

Kekerasan polisi memicu kemarahan warga desa. Selama konflik itu, warga desa melemparkan batu bata, telur, botol air dan lain sebagainya ke polisi, dan di depan kantor pemerintah, polisi berdiri menggunakan perisai untuk melawan warga. 

Pada saat itu, beberapa warga mencoba untuk menggulingkan sebuah mobil Damkar yang sedang disiagakan, kemudian polisi anti-huru hara berusaha menghalau dan mengusir warga untuk keluar gerbang.

Yang paling menegangkan adalah ketika beberapa warga melemparkan bom molotov rakitan ke bagian dalam gerbang pemerintah. Saat itu api membesar hingga sebuah bilik bilik keamanan terbakar. Dilaporkan bahwa warga juga menggunakan sejumlah kecil petasan untuk melawan membalas serangan.

Usai kejadian, pemda Boyang akhirnya berkompromi dan mengeluarkan surat komitmen untuk menenangkan kemarahan warga, mengklaim bahwa akan membatalkan pembangunan krematorium. Juga diputuskan untuk menguruk kembali galian lubang di Desa LiangShan. Pada saat penimbunan, setiap desa alami di desa Liangshan dapat mengirim 2 orang perwakilan  untuk melakukan pengawasan.

Warga desa lainnya mengatakan : “Pada awalnya, (otoritas) tidak transparan, dan tidak disebutkan apakah pembangunan diteruskan atau tidak. Warga desa khawatir jika  pembangunan krematorium di Wenlouzhen dibatalkan kemudian dialihkan ke Boyang, itu sama saja, maka mereka berunjuk rasa”.

Beberapa netizen menyesalkan tindakan pemerintah yang membiarkan protes terhadap pembangunan krematorium terjadi sampai 4 kali dalam 5 tahun terakhir. Pemerintah membangun fasilitas publik tanpa dengar pendapat publik. Akibatnya, masyarakat tidak percaya terhadap departemen terkait. Hal ini perlu direnungkan oleh pemda !

Netizen lain mengomentari : Sekarang diumumkan bahwa bekas galian akan diurug kembali. Ini jelas lokasi tersebut akan digunakan untuk krematorium, bukan fasilitas penjernihan air. Kalau itu untuk penjernihan air, untuk apa proyek itu dihentikan.

Sementara pemda setempat menghentikan proyek tersebut. Pada 17 Desember, Biro Keamanan Publik Kota Huazhou mengeluarkan pemberitahuan yang isinya meminta warga desa yang terlibat dalam kerusuhan untuk menyerahkan diri sesegera mungkin.

Saat ini, banyak warga desa diam tentang masalah ini dan takut menyebarkan video melalui  Internet. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular