oleh James Gorrie

Garis keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump melawan Komunis Tiongkok tidak lagi merupakan kebijakan yang tidak lazim. Trump bukanlah satu-satunya pemimpin dunia yang memikirkannya

Belum lama ini, saya  telah menulis artikelnya mengenai Perang Dingin yang muncul antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Yang benar adalah bahwa Partai Komunis Tiongkok telah bersaing dengan Amerika Serikat atas dasar permusuhan setidaknya selama dua dekade terakhir.

Itu bukanlah berita besar, bahkan jika lawan politik presiden suka berpura-pura akan hal itu.

Mitra Strategis atau Pesaing Strategis?

Kembali pada tahun 2.000, bahkan sebelum menjabat sebagai presiden, George W. Bush menyebut Komunis Tiongkok sebagai “pesaing strategis.” Ini adalah perubahan pasti dari pemerintahan Clinton, yang menyebut Komunis Tiongkok sebagai “mitra strategis.”

Tetapi dengan adanya serangan 9/11, setiap perubahan kebijakan yang mungkin terjadi ditangguhkan, karena pemerintahan George Bush memfokuskan upayanya pada Perang Melawan Teror.

Setelah pemerintahan George Bush, sifat dasar hubungan Washington dengan Beijing berlanjut pada jalur “normalisasi” di bawah pemerintahan Obama, yang kurang lebih setuju dengan asumsi tatanan internasional liberal dasar yang menjadi dasar kebijakan ekonomi Amerika Serikat terhadap Tiongkok.

Pada dasarnya, dianggap bahwa semakin dalam Amerika Serikat terlibat dengan Tiongkok, maka semakin besar negara komunis terbesar di dunia itu akan menyerupai Amerika Serikat sebagai masyarakat yang terbuka dan liberal.

Seperti diketahui dunia, Tiongkok berkembang di bawah asumsi-asumsi itu, dengan melihat perkembangan ekonomi dan teknologi yang cepat dan luar biasa. Pada saat yang sama, dua dekade hubungan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok yang tidak seimbang secara metode telah merusak sektor manufaktur Amerika Serikat.

Dan, sikap santai Amerika Serikat juga mengakibatkan Tiongkok berhasil menembus sektor teknologi-tinggi di Lembah Silikon, dan area lain yang berfokus pada penelitian di Amerika Serikat. Komunis Tiongkok memperoleh teknologi dan kekayaan intelektual bernilai ratusan miliar dolar setiap tahun melalui pemindahan paksa atau pencurian.

Perang Dingin Menghantam Sebagian Besar Dunia

Jelas, Amerika Serikat sangat keliru dalam pendekatan internasionalis liberal yang diterapkannya.

Amerika Serikat memainkan perannya dengan melebih-lebihkan kemampuannya untuk mempengaruhi arah politik internal Tiongkok dan pengembangan pasar melalui perjanjian dagang yang sangat menguntungkan.

Singkatnya, saat Tiongkok tumbuh makmur, diharapkan untuk beradaptasi dengan tatanan yang dipimpin oleh Amerika Serikat, bukannya secara giat menggulingkan Amerika Serikat.

Dengan demikian, dalam setiap pengertian istilah yang penting, Komunis Tiongkok melancarkan Perang Dingin melawan Amerika Serikat sejak tahun 2000. Tetapi komunis Tiongkok tidak hanya mengobarkan Perang Dingin kepada Amerika Serikat; Komunis Tiongkok mengobarkan Perang Dingin kepada sebagian besar dunia.

Hanya sejak Donald Trump berkuasa, Amerika Serikat — dan juga seluruh dunia — sadar akan kenyataan itu.

Tentu saja, para pakar dan politisi yang tidak setuju dengan pendekatan Donald Trump untuk mengekang ambisi Tiongkok mengutuk kebijakan saat ini.

Mereka menyerukan kembalinya hubungan “normal” dengan Tiongkok, yang termasuk mengakhiri perang dagang saat ini dan melanjutkan pemberdayaan kebangkitan Tiongkok dengan mengorbankan Amerika Serikat. Tetapi nasi telah menjadi bubur.

Sadar Untuk Putus Hubungan

Ada beberapa dinamika dalam permainan yang bekerja melawan pemulihan hubungan Amerika Serikat-Tiongkok. Salah satunya adalah bagaimana sikap global telah berubah secara dramatis terhadap Tiongkok.

Hal tersebut hanya terjadi karena perang dagang dan pengumuman kebijakan Donald Trump menyebar ke seluruh dunia. Kini bisnis semua ukuran hengkang dari Tiongkok — dan Hong Kong — ke tempat lain yang lebih bersahabat. Eropa adalah tujuan utama.

Bagian penting dari pelarian bisnis itu adalah kecurigaan baru dan mendalam oleh Amerika Serikat dan sebagian besar orang Eropa yang kini bersandar pada Tiongkok.

Tentu saja, perang dagang telah berdampak, dan terus berlanjut. Tarif membuat biaya operasi di Tiongkok jauh lebih mahal. Tetapi saat datang untuk membangun kepercayaan antara Tiongkok dengan mitra dagangnya, Komunis Tiongkok tidak dimiliki penanganan yang adil, yang merupakan pertanda keangkuhan dan pengkhianatan.

Misalnya, penyisipan spyware yang disengaja oleh Komunis Tiongkok ke dalam peralatan infrastruktur jaringan Huawei yang digunakan di seluruh dunia mengungkapkan niat yang jauh lebih jahat daripada hanya menghasilkan uang atau bahkan merebut pangsa pasar yang lebih besar.

Hal itu memberikan argumen dan tuduhan niat jahat di pihak Komunis Tiongkok oleh Donald Trump, yang tentu saja berlangsung cepat.

Pengabaian Komunis Tiongkok terhadap Barat memiliki implikasi strategis yang luar biasa bagi sebagian besar dunia, tetapi khususnya Amerika Serikat dan Eropa. Faktanya, Amerika Serikat secara sadar melepaskan diri dari Tiongkok.

Komunis Tiongkok Ingin Putus Hubungan?

Apa yang cukup menarik mengenai perang dagang dan tekanannya adalah bahwa hal itu mungkin memiliki efek sebaliknya bagi pembuat kebijakan Tiongkok.

Mereka sebenarnya mungkin tidak ingin membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat, lebih memilih berpisah dari Amerika Serikat tidak peduli siapa yang duduk di Oval Office.

Perkembangan mengejutkan ini datang dari Wang Huning, penasihat kebijakan utama di lingkaran dalam Partai Komunis Tiongkok.

Wang Huning menulis di situs web Qiushi, sumber resmi kebijakan dan pemikiran ideologis Partai Komunis Tiongkok. Ia dianggap berpengaruh besar pada pandangan dan perencanaan strategis pemimpin Tiongkok Xi Jinping.

Dalam esai bulan Juni, Wang Huning berpendapat:

Pertama, Perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok hanyalah mengenai ketidakseimbangan perdagangan.

Kedua, Amerika Serikat adalah hegemoni ekonomi dan teknologi yang berupaya menjaga agar Tiongkok tetap tunduk.
Ketiga, Kekayaan intelektual pada dasarnya tidak ada dan setiap negara memiliki hak moral untuk mengaksesnya.

Ada wawasan lain mengenai pemikiran para pengambil keputusan di tubuh Komunis Tiongkok, tetapi hasilnya adalah bahwa Komunis Tiongkok tidak berniat mengubah perilakunya atau menyerah pada tekanan perang dagang.

Padahal, pemikiran Komunis Tiongkok justru sebaliknya. Komunis Tiongkok menganggapnya sebagai kewajiban ideologis moral mereka untuk melawan Amerika Serikat dalam hegemoninya, dan akan terus melakukannya dengan cara apa pun semampunya.

Lebih jauh lagi, menurut Steve Dickinson dari The China Law Blog, “adalah suatu kesalahan untuk berasumsi bahwa Presiden Xi Jinping tidak mau melihat Tiongkok berpisah untuk kedua kalinya.”

Pisah pertama bagi Tiongkok adalah berpisah dari Uni Soviet pada tahun 1966, yang memicu Revolusi Kebudayaan Mao Zedong yang sangat merusak.

Mampukah Tiongkok Berpisah dari Amerika Serikat?

Tentu saja, ada perbedaan besar, antara Tiongkok di zaman Mao Zedong dengan Tiongkok saat ini.

Di satu sisi, Tiongkok saat ini menjadi kekuatan ekonomi, militer, dan teknologi yang jauh lebih tangguh, di mana Tiongkok siap menghancurkan kehadiran Amerika Serikat di Laut Tiongkok, Taiwan, Hong Kong, provinsi di sisi barat, dan di tempat lain.

Jika Beijing bergerak melawan Taiwan atau Hong Kong, itu berarti Komunis Tiongkok berpotensi menghantam Amerika Serikat. Hal itu akan memperluas percakapan secara bermakna.

Di sisi lain, 1,4 miliar warga Tiongkok tidak begitu mempedulikan kewajiban ideologis atau moral untuk bertahan selama musim perampasan. Dengan sekitar 400 juta orang di kelas menengah yang terbiasa hidup dalam kemakmuran, tampaknya tidak mungkin mereka membiarkan hal tersebut terjadi tanpa perlawanan.

Terlebih lagi, ratusan juta lebih rakyat Tiongkok hidup dalam kemiskinan merasa tidak akan kehilangan banyak bila memberontak melawan kesulitan yang dipaksakan pemerintah.

Sebenarnya, Warga Tiongkok yang marah dan berjuang dapat menjadi ancaman yang jauh lebih besar bagi Partai Komunis Tiongkok daripada hanya sebatas tarif Donald Trump.

Mungkin Komunis Tiongkok akan menemukan kebijaksanaan untuk melanjutkan dengan hati-hati. Sejatinya, Partai Komunis Tiongkok sudah memisahkan diri dari rakyatnya sendiri, yang mungkin menyebabkan Tiongkok mengalami keretakan di sepanjang garis ekonomi dan etnis.

“Revolusi Kebudayaan” kedua dapat menjadi akhir Partai Komunis Tiongkok. Berpisah dari Amerika Serikat juga tidak akan mudah bagi Tiongkok. (Vivi/asr)

James Gorrie adalah Penulis Buku The China Crisis, Tulisan Ini Sudah Terbit di The Epochtimes

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular