oleh Cheng Xiaonong

Komunis Tiongkok telah mengejutkan masyarakat internasional dengan bermain cepat dan longgar dalam pembicaraan perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok selama dua tahun terakhir.

Komunis Tiongkok sudah melanggar dan dengan sengaja melanggar hukum internasional. Sebuah kebiasaan yang tidak hanya menyebabkan konflik ekonomi dan perdagangan antara Tiongkok dengan Amerika Serikat, tetapi juga memicu banyak kewaspadaan global terhadap Komunis Tiongkok. Dalam struktur dunia saat ini, Komunis Tiongkok umumnya mengabaikan norma dan peraturan internasional. Sedangkan peraturan tersebut berdasarkan kerangka institusional demokrasi dan supremasi hukum, tampaknya sulit untuk secara efektif menahan tindakan Komunis Tiongkok.

Kesimpulan yang Diambil dari Negosiasi Perdagangan

Pembicaraan perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok mencapai kesepakatan tahap pertama awal pada tanggal 11 Oktober lalu. Akan tetapi ada banyak skeptisisme internasional akan keabsahannya. Ini karena perilaku Komunis Tiongkok dalam negosiasi selama dua tahun terakhir, telah membuat banyak orang di komunitas internasional khawatir akan kreadibilitas Komunis Tiongkok.

Seperti kata pepatah, lebih mudah untuk menghancurkan integritas daripada membangunnya.

Sifat Komunis Tiongkok yang berubah-ubah dan tidak dapat dipercaya selama negosiasi Amerika Serikat-Tiongkok, telah memberi kesan tersendiri kepada semua negara.

Negosiasi perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok selama dua tahun terakhir dapat dibagi menjadi empat tahap.

Tahap pertama berlangsung hingga pertengahan Mei tahun ini. Kedua pihak telah melakukan negosiasi dengan lancar. Karena pelanggaran berulang-ulang oleh Komunis Tiongkok terhadap peraturan Organisasi Perdagangan Dunia dan konvensi internasional mengenai perlindungan hak kekayaan intelektual. Termasuk, pelanggaran terhadap kepentingan Amerika Serikat, Washington memulai negosiasi mengenai masalah yang relevan.

Kedua belah pihak pada dasarnya mencapai kesepakatan semua masalah yang terlibat dalam negosiasi. Amerika Serikat kemudian mengungkapkan, bahwa kedua belah pihak bahkan telah menyelesaikan tanda baca pada teks perjanjian, hanya saja menyisakan proses penandatanganan.

Tahap kedua adalah dari akhir Mei hingga akhir Agustus 2019, memasuki kondisi “meruntuhkan meja perundingan.”

Pembicaraan perdagangan kemudian menjadi macet. Penyebabnya, gara-gara Komunis Tiongkok tiba-tiba menolak menandatangani apa yang pada dasarnya merupakan kesepakatan yang disepakati.

Pada tahap ketiga, dari akhir Agustus hingga akhir September, pihak Komunis Tiongkok mengumumkan larangan impor produk pertanian Amerika Serikat. Kemudian menekan Amerika Serikat dalam upaya untuk melukai popularitas Donald Trump. Caranya dengan menyerang industri pertanian Amerika Serikat.

Pada tahap keempat, dari akhir September hingga awal Oktober, Komunis Tiongkok tiba-tiba berbalik arah dan memutuskan untuk menggandakan jumlah produk pertanian yang diimpor dari Amerika Serikat dibandingkan pada tahun 2017. Tak lain, untuk memecahkan kebuntuan negosiasi. Kedua belah pihak mencapai kesepakatan awal mengenai beberapa masalah ekonomi dan perdagangan.

Pertemuan delegasi perdagangan AS – Tiongkok di Shanghai berakhir pada 31 Juli 2019. (Ng Han Guan/POOL/AFP)

Sementara itu, pihak Komunis Tiongkok menunjukkan perilaku yang berubah-ubah, sikap pihak Amerika Serikat untuk mencari negosiasi pada dasarnya adalah tak berubah, kecuali mengenakan tarif setelah Tiongkok tidak bekerja sama pada awal negosiasi.

Dengan kata lain, wajah Tiongkok yang berubah-ubah bukanlah merupakan respons bolak-balik dari posisi negosiasi Amerika Serikat. Akan tetapi merupakan perubahan sikap berdasarkan kepentingan Komunis Tiongkok sendiri.

Pergeseran dari serangan Komunis Tiongkok kepada Amerika Serikat hingga menuju suatu penawaran, mungkin didasarkan pada dua perhitungan.

Pertama, karena ekonomi komunis Tiongkok terus menurun. Ekspor yang berkelanjutan ke Amerika Serikat telah menjadi kebutuhan yang membutuhkan segera relaksasi.

Kedua, Komunis Tiongkok, menilai bahwa Presiden Donald Trump kemungkinan akan memenangkan masa jabatan kedua. Komunis Tiongkok percaya adalah tidak bijaksana untuk terus menentang Donald Trump, sehingga perlu “memanaskan api” atau menggandakan jumlah impor pertanian Amerika Serikat. Itu dilakukan sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat.

Faktanya, pendekatan negosiasi Tiongkok adalah konsisten dengan sikapnya terhadap hukum dan peraturan internasional. Artinya, selalu dimulai dari kepentingannya sendiri dan tidak peduli melanggar prinsip itikad baik dalam negosiasi. Atau terhadap komitmennya kepada hukum dan peraturan internasional yang ditandatangani. Tidak peduli untuk berpegang pada kata-katanya juga.

Mengapa Sikap Komunis Tiongkok Terhadap Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO Dianggap sebagai ‘Kelakuan Buruk’?

Sudah hampir 20 tahun sejak Komunis Tiongkok bergabung dengan WTO, dan banyak masalah dalam negosiasi perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok. Saat ini sebenarnya berasal dari pelanggaran Tiongkok atas komitmen awalnya untuk mereformasi sistem ekonominya.

Kevin Hassett, salah satu penasihat ekonomi Donald Trump, mengatakan kepada BBC bahwa Tiongkok telah “bertingkah” sebagai anggota Organisasi Perdagangan Dunia.

Kevin Hassett mengatakan Organisasi Perdagangan Dunia telah memainkan peran historis yang sangat penting dalam membantu memodernisasi dunia. Akan tetapi telah mengecewakan Amerika Serikat dalam banyak hal.

Kevin Hassett berkata bahwa Amerika Serikat biasanya memenangkan kasus-kasus yang dibawa ke Organisasi Perdagangan Dunia. Akan tetapi perlu lima sampai enam tahun setelah kerusakan tersebut telah dilakukan.

Selain itu, karena hukumannya sangat tidak bermakna, beberapa negara lebih suka dihukum dan terus melanggar aturan.

“Kami tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa suatu negara akan memasuki Organisasi Perdagangan Dunia dan kemudian bersikap seperti Tiongkok. Merupakan hal baru bagi Organisasi Perdagangan Dunia untuk memiliki anggota yang mengalami banyak kesalahan,” kata Kevin Hassett.

Mengapa Komunis Tiongkok sejak lama menolak untuk menghormati komitmen reformasi ekonominya, yang merupakan prasyarat saat bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia?

Faktanya adalah bahwa Tiongkok hanya berharap mengambil keuntungan dari Organisasi Perdagangan Dunia. Akan tetapi tidak mau kehilangan “keuntungan” dari sistem terpusatnya oleh reformasi sistem ekonomi.

Dari sudut pandang ini, mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji sebenarnya menipu Organisasi Perdagangan Dunia dan komunitas internasional.

Share

Video Popular