Erabaru.net. Pihak Beijing  meminta perusahaan-perusahaan BUMN untuk berperan lebih aktif di Hong Kong, termasuk meningkatkan investasi dan menegaskan lebih banyak kendali perusahaan di pusat keuangan itu. 

Seperti diwartakan Reuters 27 Desember 2019, laporan itu diungkapkan oleh para eksekutif yang akrab dengan masalah tersebut, saat Beijing berupaya menenangkan kericuhan selama berbulan-bulan di Hong Kong.

 Pada pertemuan minggu ini di Shenzhen, kota yang berbatasan dengan Hong Kong, hampir 100 perwakilan senior perusahaan terbesar milik pemerintah didesak untuk melakukan bagiannya dalam membantu mendinginkan krisis politik terbesar Tiongkok dalam beberapa tahun. Laporan itu diungkapkan oleh tiga eksekutif, termasuk seorang eksekutif yang hadir kepada Reuters.

Pada pertemuan tersebut, Badan Usahan Milik Negara (BUMN) Tiongkok berjanji untuk berinvestasi lebih banyak di industri utama Hong Kong termasuk real estat dan pariwisata. 

Langkah itu dalam upaya menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat dan menstabilkan pasar keuangan. 

Dua eksekutif mengatakannya, dengan syarat tidak diungkapkan namanya untuk membahas pertimbangan internal. Tidak ada investasi spesifik yang dibahas atau disepakati.

 BUMN Tiongkok yang hadir mencakup raksasa minyak Sinopec dan konglomerat  Merchants Group, salah satu sumber mengatakan.

 Pertemuan tersebut diselenggarakan oleh Komisi Pengawasan Aset dan Administrasi Milik Negara, badan pusat yang kuat yang mengawasi sektor negara Tiongkok yang luas. Badan itu yang mencakup beberapa perusahaan terbesar di dunia dalam industri seperti baja, energi, pengiriman dan telekomunikasi.

 Komisi Pengawasan Aset dan Administrasi Milik Negara tidak menanggapi permintaan komentar melalui dari Reuters.

Pejabat di Sinopec dan China Merchants Group tidak menanggapi permintaan komentar melalui email dan panggilan ke kedua perusahaan tersebut tidak dijawab.

 Bukan hanya memegang saham di perusahaan-perusahaan Hong Kong, BUMN Tiongkok juga didesak untuk mengendalikan perusahaan tersebut. Selain itu, memiliki kekuatan pengambilan keputusan di dalam perusahaan itu, salah satu orang yang akrab dengan pertemuan itu mengatakan.

 “Elit bisnis di Hong Kong tentu saja tidak cukup. Kebanyakan elit bisnis di Hong Kong bukanlah salah satu dari kami,” kata eksekutif BUMN Tiongkok yang hadir dalam pertemuan itu kepada Reuters.

 Ketua Komisi Pengawasan Aset dan Administrasi Milik Negara dari Partai Komunis Tiongkok bernama Hao Peng, muncul di Hong Kong pada tanggal 25 Desember di sebuah forum untuk inisiatif infrastruktur “One Belt, One Road” atau OBOR. 

Ia mengatakan bahwa BUMN Tiongkok sedang mencari cara untuk bekerja sama dalam proyek-proyek besar di Hong Kong, menurut rilis berita Komisi Pengawasan Aset dan Administrasi Milik Negara.

Hao Peng, yang didampingi oleh sekelompok eksekutif BUMN Tiongkok, juga bertemu dengan Carrie Lam, Kepala Eksekutif Hong Kong.

Layanan Nasional

Sementara perusahaan besar Tiongkok adalah perusahaan yang mencari laba dan banyak yang diperdagangkan secara publik, perusahaan tersebut telah lama diharapkan untuk melakukan layanan nasional. Perusahaan itu mencakup mempertahankan tingkat pekerjaan yang tinggi dan membantu Beijing melaksanakan inisiatif seperti rencana infrastruktur OBOR.

Unjuk rasa besar selama berbulan-bulan dan kadang diwarnai dengan kekerasan di Hong Kong dipicu oleh RUU ekstradisi. Yang kini ditarik yang akan memungkinkan tersangka diekstradisi ke pengadilan Tiongkok Daratan. 

Unjuk rasa dipicu oleh apa yang dilihat oleh banyak warga Hong Kong sebagai perambahan pengaruh Komunis Tiongkok untuk mengikis model “satu negara, dua sistem.” Di mana Tiongkok memerintah Hong Kong sejak diserahkannya Hong Kong dari Inggris pada tahun 1997.

Pengaruh Tiongkok Daratan yang semakin melebar di Hong Kong mencakup pembelian aset perusahaan dan real estate.

Ekonomi Hong Kong pernah didominasi oleh rumah perdagangan Inggris sejak abad ke-19.

Para taipan Hong Kong mulai mengambil alih banyak bisnis di akhir abad ke-20, yang melahirkan konglomerat besar seperti CK Hutchison Holdings milik Li Ka-shing.

Beijing menekan bisnis Hong Kong untuk menjadi lebih patriotik, menyatakan ketidakbahagiaan Beijing selama pertemuan bulan Agustus dengan para elit bisnis Hong Kong bahwa para elit bisnis Hong Kong tidak bertindak secara memadai untuk menenangkan unjuk rasa Hong Kong, menurut sebuah laporan pada waktu itu oleh berita Xinhua yang dikendalikan partai Komunis Tiongkok.

Dalam pertemuan bulan lalu dengan sekitar 500 pemimpin bisnis dan politisi pro-Beijing dari Hong Kong, otoritas Tiongkok mendesak agar mereka “tidak takut dan bangkit” untuk menghentikan kekerasan di Hong Kong, Xinhua melaporkan.

Cathay Pacific Airways Ltd., peninggalan era kolonial Hong Kong, adalah perusahaan terbesar yang menjadi korban aksi unjuk rasa setelah Beijing menuntutnya menangguhkan staf yang mendukung aksi unjuk rasa. 

Ketua Cathay Pacific Airways Ltd. mengumumkan rencana untuk mundur pada bulan November, kurang dari tiga minggu setelah CEO Rupert Hogg pergi di tengah-tengah meningkatnya pengawasan regulasi.

 Operator kereta bawah tanah Hong Kong, MTR Corp, juga tunduk pada tekanan di bulan Agustus untuk membebani para pengunjuk rasa pro-demokrasi. Itu setelah media pemerintah Tiongkok menyatakan kecemasannya pada MTR Corp. Dikarenakan merasa fasilitasi MTR Corp turut menyebarkan aksi kekerasan oleh para pengunjuk rasa. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular