Wu Ying – Epochtimes.com

Dunia luar meramalkan bahwa pada tahun 2020, persaingan teknologi antara Amerika Serikat dengan  Tiongkok akan memanas. Para ahli mengatakan bahwa talenta seringkali merupakan faktor kunci dalam memperoleh keunggulan teknologi, tetapi Tiongkok jauh tertinggal dari Amerika Serikat dalam memikat para talenta teknis.

Setelah menjabat pada bulan Januari 2017, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara aktif mencegah ancaman dari komunis Tiongkok. Selain perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok, hal mencolok lainnya adalah persaingan di sektor teknologi antar kedua negara yang terus berkembang.

Pada awal tahun 2019, seorang eksekutif teknologi di Beijing menyebutkan dalam sebuah artikel bahwa jumlah talenta teknis yang dikembangkan secara aktif oleh pemerintah Tiongkok dalam waktu singkat akan melebihi jumlah yang dikembangkan oleh Amerika Serikat. Namun, sebuah artikel yang diterbitkan dalam edisi terbaru majalah ‘The Diplomat’ menyebutkan bahwa walaupun Beijing dalam 20 tahun terakhir ini telah memprioritaskan pengrekrutan para talenta teknis internasional, namun Beijing masih menghadapi kesulitan besar. Washington masih tetap memiliki keunggulan dalam hal jumlah dan kualitas para talenta teknis.

Artikel menyebutkan bahwa meskipun komunis Tiongkok memperkenalkan Program Seribu Talenta dan merekrut para talenta teknis internasional, tetapi pada akhirnya program tersebut tidak berjalan dengan baik. Alasan utamanya adalah bahwa komunis Tiongkok tidak mau meninggalkan aturan totaliter dan terus mengontrol rakyat secara ketat.

Menurut artikel tersebut bahwa sejak Program Seribu Talenta diluncurkan Beijing pada tahun 2008, mereka telah berhasil merekrut lebih dari 7.600 orang ilmuwan dan insinyur yang dapat digolongkan sebagai para talenta teknis. Namun, hampir semua dari mereka itu adalah para ilmuwan dan insinyur asli dan warga negara Tiongkok, hanya kurang dari 400 orang atau sekitar 5% yang warga negara asing.

Selain rencana merekrut para talenta teknis gagal dalam menarik minat para ahli internasional sebagaimana yang diharapkan pemerintah, pada tahun 2016, Beijing hanya mengeluarkan 1.576 kartu identitas penduduk tetap. Meskipun angka tersebut mencapai lebih dari 2 kali lipat tahun sebelumnya, namun masih tertinggal jauh di belakang Amerika Serikat yang pada periode yang sama telah mengeluarkan 1,2 juta kartu hijau untuk perekrutan para talenta.

Hasil survei majalah ‘Nature’ tahun 2012 yang dilakukan terhadap 2.300 orang para pakar sains dan teknologi internasional menunjukkan bahwa hampir 60% dari responden  mengatakan bahwa komunis Tiongkok pada tahun 2020 akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam bidang sains dan teknologi. Akan tetapi hanya 8% dari mereka yang mempertimbangkan untuk pindah dan tinggal di Tiongkok. Sedangkan 56% lainnya memilih tinggal di Amerika Serikat.

Hambatan terbesar dalam merekrut para talenta internasional bagi komunis Tiongkok adalah terkait dengan politik dan budaya tempat kerjanya. Bagi komunis Tiongkok, banyak dari faktor-faktor itu sulit ditawar apalagi diubah. Salah satunya adalah partai komunis merupakan bagian  inti dari manajemen di tempat kerja Tiongkok dan kurangnya evaluasi kinerja.

Ilmuwan asing yang memilih untuk bekerja di Tiongkok sering dipaksa untuk belajar menangani masalah politik di ‘laboratorium Tiongkok’. Banyak orang mengeluh bahwa untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik atau promosi jabatan. Koneksi sangat dibutuhkan, hubungan pribadi dengan eksekutif penelitian atau kader partai komunis tidak dapat ditinggalkan. Akibatnya, para ilmuwan asing atau para warga negara Tiongkok yang merantau atau  studi di luar negeri yang kemudian kembali ke daratan Tiongkok akan mengalami gagal bersaing dalam hal koneksi, dengan para peneliti asal Tiongkok.

Selain itu, masalah lain seperti hambatan dalam masalah bahasa, sensor internet yang terjadi di mana-mana, dan lingkungan yang keras juga merupakan alasan mengapa Beijing tidak mampu menarik minat dari orang luar negeri yang berbakat.

Artikel dalam ‘The Diplomat’ memberikan contoh, seperti yang disampaikan oleh seorang ahli kimia bernama Olaf Wiest yang memilih untuk bekerja paruh waktu saja di Universitas Peking, alasan utamanya adalah karena ‘firewall’ komunis Tiongkok.

Giulio Chiribella, seorang fisikawan Italia yang mengajar di Universitas Tsinghua karena direkrut masuk Program Seribu Talenta, memilih mundur setelah 3 tahun bekerja. Dia beralasan karena prospek masa depan tidak jelas, hambatan bahasa, dan tidak ingin membesarkan anak di Beijing.

 Ulf Leonhardt, fisikawan teoretis terkenal hanya menghabiskan satu musim panas mengajar di South China Normal University, karena ia menemukan bahwa sebagian besar dana hibah dan gajinya disalahgunakan oleh staf manajemen universitas.

Para warga asal Tiongkok yang baik studi maupun bekerja di perantauan kemudian pulang ke Tionghoa mungkin dapat mengisi kekurangan dari program perekrutan Seribu Talenta Beijing, tetapi kenyataannya adalah bahwa jumlah warga asal Tiongkok yang telah memperoleh gelar doktor di Amerika Serikat memilih untuk tinggal di Amerika Serikat tidak menurun. Itu disebabkan karena mereka tidak puas dengan lingkungan dan kondisi kerja di daratan Tiongkok. (sin) 

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular