Cathy He – The Epochtimes

Serangan udara Amerika Serikat baru-baru ini yang menewaskan jenderal top Iran Qassem Soleimani mengirim pesan kuat kepada sekutu penting Iran, rezim Komunis Tiongkok. Analisa itu menurut seorang pakar Tiongkok.

Hal tersebut menandakan bahwa Washington akan mengambil tindakan tegas untuk berurusan dengan “aktor jahat,” termasuk rezim komunis Tiongkok – salah satu mitra ekonomi dan militer Iran.

 “Aktor jahat mengambil isyarat dari reaksi kami terhadap aktor jahat lainnya,” kata Gordon Chang, pakar Tiongkok dan penulis “The Coming Collapse of China,” memberitahukan kepada The Epoch Times dalam sebuah email. 

“Respons tegas terhadap salah satu dari mereka mengakibatkan yang lainnya menjadi ciut — dan sebaliknya,” ungkapnya. 

 Serangan itu terjadi saat Amerika Serikat dan rezim Tiongkok berada di puncak penandatanganan “fase satu” kesepakatan dagang. Tujuannya untuk yang meredakan ketegangan perang dagang yang diprakarsai oleh Amerika Serikat 17 bulan lalu. Tak lain, bermaksud memerangi pelanggaran perdagangan yang sudah berlangsung lama oleh Tiongkok.

 Qassem Soleimani, seorang jenderal berusia 62 tahun yang mengepalai Pasukan Pengawal Revolusi di luar negeri, tewas di Baghdad pada tanggal 3 Januari dalam sebuah serangan yang disahkan oleh Presiden Donald Trump. 

Jenderal Qassem Soleimani dianggap sebagai tokoh paling kuat kedua di Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai tanggapan, Iran berjanji untuk membalas dendam.

 Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan serangan tersebut  bertujuan untuk mengacaukan “serangan yang akan terjadi” yang akan membahayakan orang Amerika Serikat di Timur Tengah.

 Donald Trump mengatakan kepada wartawan di Florida bahwa serangan itu untuk menghentikan perang, bukan untuk memulai perang. Ia menambahkan bahwa sementara Amerika Serikat tidak mengejar “perubahan rezim” di Iran, “agresi rezim di wilayah tersebut, termasuk penggunaan pejuang mandat untuk mengacaukan negara-negara tetangganya, harus berakhir.”

 Pembunuhan Qassem Soleimani menandai peningkatan kebuntuan selama puluhan tahun antara Teheran dengan Washington. Ketegangan meningkat setelah pemerintahan Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015.

 Hubungan Tiongkok-Iran

 Sebagai sekutu Iran, rezim Komunis Tiongkok harus mendukung Teheran melawan Amerika Serikat. Itu disampaikan Juni Teufel Dreyer, profesor ilmu politik di Universitas Miami mengatakan kepada The Epoch Times dalam sebuah email.

 Pada tanggal 3 Januari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang mendesak Amerika Serikat “untuk tetap tenang dan menahan diri untuk menghindari meningkatnya ketegangan lebih lanjut.” Juru bicara itu menambahkan bahwa “stabilitas dan perdamaian di wilayah Teluk Timur Tengah harus dijaga.”

 Komunis Tiongkok adalah mitra dagang utama Iran, dan juga adalah pembeli minyak mentah terbesar sebelum sanksi Amerika Serikat terhadap minyak Iran mulai berlaku bulan Mei lalu. Analis mengatakan rezim Komunis Tiongkok terus melakukan impor sejak saat itu.

 Pemerintah Amerika Serikat pada bulan September memberlakukan sanksi baru terhadap beberapa entitas dan individu Tiongkok. Yang mana dikatakan secara sadar mentransfer minyak dari Iran yang melanggar embargo Washington.

 “Tiongkok membutuhkan minyak dan kemitraan dengan negara-negara yang menentang yang menentang Amerika Serikat: Iran adalah cocok memenuhi dua kebutuhan Tiongkok tersebut,” kata Teufel Dreyer.

 Robert Spalding, pensiunan Brigadir Jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat dan rekanan senior di Institut Hudson, lembaga pemikir yang berbasis di Washington, mengatakan kepada The Epoch Times, bahwa Beijing memanfaatkan  hubungannya dengan Iran. Selain itu, negara-negara lain seperti Korea Utara, untuk memaksa Amerika Serikat mengalihkan fokusnya dari berurusan dengan ancaman rezim Komunis Tiongkok.

 “Jadi itu semua adalah bagian pendekatan umum ini untuk mengganggu tatanan internasional dan…menghadirkan tantangan bahwa Amerika Serikat diperlukan untuk melangkah dan bertemu, karena pada akhirnya melemahkan Amerika Serikat,” kata Robert Spalding. 

Namun ia mencatat bahwa Beijing akan dapat menggunakan pendekatan ini — selama hal itu tidak berdampak pada harga minyak.

 Teufel Dreyer menambahkan: “Sejauh Iran, dan kelompok-kelompok teroris yang disponsori, dapat menyebabkan masalah bagi Amerika Serikat di sana, semakin baik bagi Tiongkok.”

 Rezim Tiongkok juga memiliki sejarah panjang memasok senjata, termasuk jet tempur, sistem rudal darat-ke-udara, rudal anti-kapal, dan serangan kapal selam ke Iran. 

Menurut laporan tahun 2019 oleh Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat, di mana embargo senjata PBB terhadap Iran akan dicabut pada bulan Oktober 2020, Iran sudah “mengevaluasi dan mendiskusikan perangkat keras militer untuk pembelian terutama dari Rusia dan, pada tingkat lebih rendah, Tiongkok.”

Gordon Chang menjelaskan: “Tiongkok selalu mendukung Iran karena Tiongkok berusaha mengganggu Amerika Serikat dan Barat, termasuk memasok, secara langsung dan melalui mandat, teknologi, peralatan, dan bahan-bahan untuk program senjata nuklir Teheran.”

Pada 31 Desember 2019, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengunjungi Beijing untuk bertemu dengan rekannya dari Tiongkok Wang Yi untuk keempat kalinya dalam setahun. Pertemuan itu menggarisbawahi hubungan dekat mereka. 

Beijing berharap untuk “memperdalam kerja sama praktis” dan “mendorong maju kemitraan strategis yang komprehensif” dengan Teheran, sebagaimana diungkapkan seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok. 

Tiongkok dan Iran, bersama dengan Rusia, pada awal Desember melakukan latihan angkatan laut bersama di Teluk Oman. Terlepas dari gerak retorika, rezim Komunis Tiongkok tidak mungkin menanggapi serangan udara Amerika Serikat dengan aksi nyata.

“Donald Trump baru saja menghajar salah satu mitra [Tiongkok] dan Tiongkok tidak dapat berbuat banyak akan hal itu,” kata Gordon Chang.

“Karena itu,  Xi Jinping harus berpikir ia muncul — seperti halnya sekarang – tidak berdaya karena presiden Amerika Serikat telah merampas aset Tiongkok,” ungkapnya. (Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular