Wang Xiang

Setidaknya tiga roket Katyusha ditembakkan ke Bandara Internasional Baghdad, pada (3/1/2020) Jumat dini hari. Serangan roket itu menewaskan tujuh orang termasuk seorang jenderal Iran dan komandan milisi Irak.

Televisi Irak dan tiga pejabat Irak mengkonfirmasi bahwa Jenderal Qassem Soleimani, pemimpin Pasukan Quds – Pengawal Revolusi Islam (IRGC), tewas Jumat itu dalam serangan udara di dekat Bandara Internasional Baghdad. 

Serangan roket itu juga menewaskan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan kelompok milisi Irak yang didukung Iran, yakni Popular Mobilization Forces (PMF) atau Pasukan Mobilisasi Populer.

Melansir laman The Associated Press (AP), kematian kedua orang itu merupakan titik balik potensial di Timur Tengah. Pejabat AS mengkonfirmasi bahwa roket itu adalah respon AS terhadap keduanya di Bandara Internasional Baghdad.

Pada tahun 2018, pemerintah Iran menyediakan 6,4 miliar dolar AS untuk Pasukan Quds, yakni pasukan khusus dari Pengawal Revolusi Iran. Tujuannya, untuk mendukung kelompok-kelompok teroris asing seperti Hezbullah dan Hamas untuk menyerang Eropa. AS memasukkan Pengawal Revolusi Islam sebagai organisasi teroris

Berbagai Sumber Mengkonfirmasi Jenderal Qassem Soleimani Iran Tewas 

Seorang politisi senior Irak dan pejabat keamanan mengkonfirmasi kepada Associated Press, bahwa korban tewas dalam serangan roket AS termasuk Mayor Jenderal Qasem Soleimani. Ia adalah komandan Pasukan Quds yang merupakan cabang dari Garda Revolusi Iran.

Sosok yang tewas lainnya adalah Wakil Komandan Popular Mobilization Forces (PMF) atau Pasukan Mobilisasi Populer yang didukung Iran, Abu Mahdi al-Muhandis. 

Dua pemimpin milisi pro-Iran juga membenarkan kematian pemimpin mereka, termasuk seorang pejabat dari Hizbullah yang juga membenarkan informasi terkait. Hizbullah terlibat dalam serangan terhadap kedutaan AS di Baghdad pekan lalu.

Pejabat yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan, al-Muhandis telah tiba di bandara dalam konvoi untuk menyambut Soleimani yang pesawatnya telah tiba dari Lebanon atau Suriah. 

Serangan udara terjadi tak lama setelah dia turun dari pesawat. Serangan itu menewaskan orang-orang yang menyambut kedatangannya, termasuk al-Muhandis.

Politisi senior itu mengatakan jenazah Soleimani diidentifikasi dari cincin yang dikenakannya. Sementara itu, pejabat Irak belum mengkonfirmasi identitas korban dan siapa yang bertanggung jawab atas serangan itu. 

Ahmed al-Assadi, juru bicara kelompok milisi Irak “Pasukan Mobilisasi Populer (PMF),” mengatakan, Amerika Serikat dan Israel yang melancarkan serangan tersebut.

Pejabat AS mengatakan kepada Reuters, bahwa AS telah meluncurkan serangan terhadap dua target yang berhubungan dengan Iran di Baghdad. Namun, pejabat yang tidak disebutkan namanya itu menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Reuters mengutip sumber kelompok milisi Irak – “Pasukan Mobilisasi Populer (PMF),” mengatakan bahwa anggota milisi menyambut “tamu-tamu penting” di Bandara Internasional Baghdad.  

Dua kendaraan yang membawa tamu itu terkena hantaman roket. Sehingga menyebabkan kedua tamu penting tersebut tewas terbunuh, tetapi sumber menolak mengungkapkan lebih lanjut identitas korban.

Pasukan Mobilisasi Populer Syiah (PMF) mengatakan dalam sebuah postingan di Facebook, bahwa direktur humasnya terbunuh karena “pemboman oleh Amerika Serikat yang pengecut.”

Menurut informasi keamanan yang dirilis tim media keamanan Irak, tiga roket Katyusha mendarat di dekat terminal kargo, membakar dua kendaraan dan melukai beberapa warga.

Sebelumnya, para pendukung kelompok paramiliter Irak yang didukung Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Baghdad pada hari Selasa 31 Desember 2019. Setelah Amerika Serikat mengirim pasukan tambahan ke Irak. Pasukan Mobilisasi Populer menarik diri dari sekitar kompleks Kedutaan. 

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah meningkat atas sanksi ekonomi AS yang merugikan ekonomi Iran. Kedua pihak saling menuduh atas serangan terhadap instalasi minyak, depot senjata milisi serta pangkalan militer yang menampung pasukan AS. Irak menjadi ajang konflik Iran-AS, karena pihak-pihak di Irak yang didukung Iran maupun AS.

Menteri Pertahanan AS: Sudah waktunya untuk Menjadikan Iran sebagai Negara Normal

Menteri Pertahanan AS Mark Esper menanggapi serangan terhadap kedutaan besar AS di Baghdad pada Kamis 2 Januari 2020. Ia mengatakan bahwa sudah waktunya bagi Iran untuk “berperilaku sebagai negara normal.”

“Kami berjuang bersama mitra kami di Irak untuk memastikan kekalahan abadi bagi ISIS,” kata Esper dalam program “The Newsroom.”

“Sesuai instruksi presiden, kita bisa mengalahkan seorang khalifah yang sudah dalam kesulitan jika kita mau. Sekarang, tujuan kita adalah menghentikan perilaku buruk Iran yang telah berlangsung selama lebih dari 40 tahun. Sudah saatnya bagi Iran untuk mulai bertindak sebagai negara normal.”

Senator AS: Keadilan ditegakkan

Senator AS dari Partai Republik, Marco Rubio mengatakan dalam cuitannya  : “Tindakan pertahanan AS terhadap Iran dan agen-agennya konsisten dengan peringatan eksplisit yang mereka terima. Mereka memilih untuk mengabaikan peringatan, karena mereka berpikir bahwa Presiden Trump tunduk pada tindakan dari departemen politik domestik kita. Tapi mereka benar-benar salah menilai.”

Sedangkan, Senator AS Tom Cotton juga dari Partai Republik mengatakan, bahwa selama beberapa dekade, Qasem Soleimani telah merencanakan pemerintahan teroris Iran. Qassem juga bertanggung jawab atas kematian ratusan warga Amerika.

“Malam ini, dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan dan semua tentara Amerika yang terbunuh oleh tangannya mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan: keadilan,” demikian cuitan Cotton.

Pada 27 Desember 2019, sebuah pangkalan militer AS di dekat Kirkuk, sebuah kota di utara Irak, diserang oleh roket dari kelompok milisi Syiah yang didukung Iran, Kataib Hezbollah. Serangan tersebut menyebabkan seorang kontraktor AS tewas dan 4 tentara AS terluka.

Pada 29 Desember 2019, Presiden AS Trump memerintahkan militer AS untuk meluncurkan pesawat tempur F-15 untuk membombardir lima pangkalan militer Hizbullah di Irak dan Suriah. Serangan udara itu menyebabkan setidaknya 25 kematian dan 55 luka-luka, termasuk setidaknya empat komandan Brigade Hizbullah.

Pada 31 Desember 2019, demonstran Irak yang memihak Iran menyerang Kedutaan Besar AS di Baghdad sebagai buntut dari serangan udara AS. Para pendemo itu dilaporkan berhasil menerobos dinding penjagaan, dan meneriakkan “Matilah Amerika” dalam kemarahan. Para demonstran melemparkan batu dan botol air ke petugas keamanan. 

Sebagian besar demonstran adalah pendukung milisi Syiah, Brigade Hizbullah, Asaib Ahl al-Haq, dan Hashd al-Shaabi.

Pada 1 Januari 2020, sebagian besar demonstran mengikuti seruan Hashd al-Shaabi atau Pasukan Mobilisasi Populer untuk menarik diri dari kedutaan besar Amerika Serikat. (jon)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular