Epochtimes.com

Pada hari terakhir tahun 2019, pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping mengatakan dalam pidato Tahun Baru bahwa pendapatan per kapita rakyat Tiongkok akan mencapai USD. 10.000. Namun pada hari berikutnya, yakni pada tanggal 1 Januari 2020, Bank Sentral Tiongkok mengumumkan pelaksanaan pengurangan terhadap rasio cadangan simpanan lembaga keuangan sebesar 0,5 poin persentase mulai 6 Januari 2020. Seorang pejabat bank sentral menyebut bahwa penurunan rasio cadangan dimaksudkan sebagai upaya perbankan untuk mendukung usaha jangka panjang masyarakat yang nilainya mencapai lebih dari RMB. 800 miliar.

Para cendekiawan berpendapat bahwa alasan utama bank sentral Tiongkok menurunkan rasio cadangan perbankan tak lain adalah situasi ekonomi Tiongkok yang saat ini sedang memburuk.

VOA melaporkan bahwa pengangguran tidak diragukan lagi merupakan topik panas yang dibicarakan sebagian besar rakyat Tiongkok. Sedangkan di internet sapaan yang populer adalah, “Apakah Anda sudah di-PHK ?”

Terkait soal itu, seorang pria bermarga Huang  berusia 37 tahun adalah seorang mantan manajer perusahaan konstruksi. Huang sedang meminta uang kompensasi pengangguran berjumlah lebih dari RMB. 10.000 ketika Xi Jinping mengklaim bahwa penghasilan per kapita rakyat Tiongkok akan mencapai USD. 10.000.

Huang memberitahu VOA bahwa Tiongkok tidak memiliki data ketenagakerjaan dan PHK – Pemutusan Hubungan Kerja yang dapat diandalkan. Akan tetapi perusahaan konstruksi dimana ia bekerja memiliki tingkat PHK karyawan setinggi 60%. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Orang-orang terpaksa menyambut Tahun Baru dalam situasi menganggur.

Sesungguhnya banyak pabrik dan proyek-proyek pembangunan telah menghentikan kegiatan sejak beberapa tahun lalu karena pertumbuhan ekonomi menurun. Tetapi di tahun 2019, sebagai dampak dari perang dagang, badai PHK telah menyapu para pekerja ‘kerah putih’ dan menerpa keluarga kelas menengah.

Fenomena itu ramai dibicarakan di dunia maya. “Apakah Anda sudah di-PHK?” menjadi sapaan antar netizen di internet. Tulisan-tulisan yang menyedihkan banyak ditemukan.

Ada netizen yang menulis : “Kemarin perusahaan tutup. Akhir tahun mencari pekerjaan tidaklah mudah. Saya terpaksa tetap tinggal di kontrakan karena tidak ingin orang tua saya khawatir terhadap diri saya.”

Netizen lain menulis : “Bulan terakhir tahun 2019 saya kehilangan pekerjaan, Atasan kabur dengan membawa lari uang. Kemana meminta uang kompensasi. Ke Kantor Arbitrase Ketenagakerjaan ? Yang Anda peroleh tak lain adalah : Menunggu !”

Netizen lain menulis : “Tahun 2019 seperti naik roller coaster. Lulus, kerja, di-PHK, kerja lagi, di-PHK lagi …. Dalam waktu kurang dari setengah tahun telah berganti 2 pekerjaan. Tidak ada prestasi yang bisa dicapai.”

Seorang netizen lainnya menulis : “Semakin banyak warga di lingkungan kelas menengah dan atas kota tingkat dua yang terletak di wilayah barat tengah Tiongkok sekarang bekerja sebagai pemungut sampah. Bahkan juragan pengumpulnya juga ikut memungut. Mereka itu bukan pedagang barang untuk daur ulang lho. Dari awalnya yang hanya 6 hingga 7 pengumpul sekarang berkembang menjadi 20-an pengumpul.”

Dari data Indeks yang disajikan Baidu dapat dilihat bahwa jumlah pencarian kerja tahun lalu telah jauh melampaui jumlah rata-rata pencari kerja selama 8 tahun terakhir. Pada bulan April dan Mei 2019, jumlah pencari kerja melebihi 500.000 orang.

Lalu sesungguhnya berapa jumlah pengangguran di Tiongkok ?

Belum lama ini, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang mengeluarkan dokumen yang menuntut agar semua pihak menaruh perhatian tinggi agar lowongan pekerjaan tetap terjaga untuk menghindari kerusuhan akibat gerakan massa yang dapat mengancam stabilitas politik.

Sesungguhnya, otoritas Beijing telah berulang kali menekankan agar stabilisasi pekerjaan terjaga. Terutama sejak bulan Desember tahun lalu, otoritas telah mengadakan beberapa pertemuan intensif untuk menjaga agar lapangan kerja tetap stabil. Agence France-Presse/ AFP melaporkan bahwa upaya menstabilkan lapangan kerja telah menjadi prioritas utama bagi otoritas Beijing.

Qin Peng, seorang ekonom asal Tiongkok yang tinggal di Amerika Serikat menganalisis bahwa troika ekonomi Tiongkok sudah tidak ampuh lagi dan seluruh lapangan kerja sekarang terpukul. Kepada Radio Free Asia Qin Peng mengatakan bahwa ada statistik yang menunjukkan  bahwa jumlah pengangguran pada paruh pertama tahun 2019 mencapai 5 juta orang. 

Situasi semakin memburuk di paruh kedua, dan Qin Peng secara konservatif memperkirakan bahwa setidaknya 15 juta orang Tiongkok sudah menganggur. Adapun untuk tahun 2020, ia percaya bahwa jumlahnya akan meningkat, bahkan bisa mencapai 20 juta orang pengangguran.

Namun, pada bulan Desember tahun lalu, komunis Tiongkok mengumumkan hasil survei terhadap tingkat pengangguran dari 31 kota besar yang tidak termasuk pekerja migran yakni pekerja yang datang dari luar daerah. Tingkat penganggurannya adalah 4,7%, menurun 0,2% YoY – year over year dari tahun 2018.

Xia Yeliang, mantan dosen Universitas Peking mengatakan, angka pengangguran biasa telah ditetapkan oleh pihak berwenang, seperti pada era tahun 90-an angka itu ditetapkan sebesar 3,5%, lalu sejak tahun 2000, sudah diperbaiki menjadi sekitar 4%. Sekarang ini 4,5%. Lalu tingkat pengangguran disetel sedikit naik atau turun. Oleh karena itu, angkanya sekarang adalah 4,7%.

 Menurut data empiris yang terkumpul selama 20 tahun, Xia Yeliang percaya bahwa tingkat pengangguran riil sekarang setidaknya mencapai 8% -10%. Berdasarkan populasi kerja di seluruh perkotaan Tiongkok sebanyak 430 juta orang sebagaimana dilaporkan oleh pihak berwenang Tiongkok, maka Xia Yeliang berpendapat bahwa angka konservatif pengangguran  nasional adalah 50 juta orang.

Menurut Guo Quan, seorang mantan profesor di Universitas Normal Nanjing,  mengatakan jumlah pengangguran riil yakni pengangguran terdaftar plus pengangguran tersembunyi plus  pengangguran di pedesaan. Setelah dikalkulasikan dengan metode tersebut, ia menyimpulkan bahwa tingkat pengangguran aktual adalah sekitar 25,48%.

Jika tingkat pengangguran dihitung dengan metode Guo Quan, maka populasi kerja Tiongkok yang kehilangan pekerjaan sekarang jauh melebihi angka yang dihitung oleh Xia Yeliang.

Di bawah tekanan penurunan ekonomi, pengurangan biaya tenaga kerja telah menjadi pilihan pertama bagi perusahaan untuk melindungi diri mereka. Dan beredarnya berita tentang beberapa perusahaan raksasa teknologi yang mem-PHK karyawannya dengan cara yang tak manusiawi, bahkan sampai karyawan dipenjara karena perselisihan perburuhan, mencerminkan parahnya kemerosotan pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Pada 23 November 2019, seorang karyawan NetEase yang bertanggung jawab atas perencanaan game menulis : “NetEase mem-PHK karyawan, saya yang sedang sakit bahkan diusir oleh penjaga keamanan perusahaan. Ini adalah mimpi buruk yang saya alami di NetEase.”

Tulisan itu mengungkapkan bahwa sejak bergabung dengan NetEase pada tahun 2014, ia dianiaya, diawasi, diancam oleh perusahaan, bahkan dipaksa keluar dari perusahaan oleh personel keamanan dalam kondisi dirinya sedang mengidap penyakit terminal.

Dalam pesan Tahun Baru yang disampaikan pada akhir tahun lalu, Huawei menyatakan bahwa pihaknya perlu mengurangi beberapa manajer di tingkat eksekutif. Sebelumnya, Huawei juga menyatakan bahwa perusahaan terpaksa melepaskan sebagian pekerja biasa untuk mengurangi biaya tenaga kerja.

Baik Huawei maupun NetEase yang tergolong perusahaan besar teknologi saja terpaksa mengurangi karyawan demi mempertahankan diri. Bagaimana dengan kondisi industri lain yang berskala lebih kecil? Tampaknya tak sulit untuk dibayangkan. Dalam situasi sulit seperti itu, semakin sulit bagi Beijing untuk merealisasikan rencananya memakmurkan masyarakat pada tahun ini.

Qin Peng mengatakan bahwa hampir tidak mungkin untuk mencapai pendapatan per kapita USD. 10.000 bagi kebanyakan rakyat Tiongkok. Sekalipun angka itu benar, namun dilihat dari standar Perserikatran Bangsa Bangsa – PBB,  populasi miskin Tiongkok seharusnya melebihi 223 juta jiwa. Dalam keadaan seperti itu, sebenarnya adalah bohong jika otoritas Beijing mengatakan bahwa telah berhasil memberantas kemiskinan dan sedang menuju pembangunan masyarakat yang makmur.

He Qinglian, seorang ekonom yang tinggal di Amerika Serikat mengatakan kepada VOA bahwa tingkat pengangguran Tiongkok sudah sangat serius. Meskipun Beijing menggambarkan situasi negara itu begitu baik, juga menggambarkan antusiasme patriotik rakyat yang cukup tinggi. Namun, jumlah investasi asing tahun lalu telah turun sekitar 50% dibandingkan tahun 2018, dan cadangan devisa telah turun tajam. 

Lebih penting lagi, sejumlah besar perusahaan asing telah hengkang dari Tiongkok, dan status Tiongkok sebagai pabrik dunia telah lenyap. Pada saat yang sama ekspor menyusut parah dan konsumsi dalam negeri melamban.

He Qinglian berpendapat bahwa ‘Chinese Dream’ yang diusung Beijing pada tahun 2012 telah menjadi air yang tanpa sumber. Dan sekarang lebih cocok dikatakan hanya sebuah mimpi. (sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular