Roger L. Simon 

Masih ingat  dengan istilah “tetap merahasiakan masalah dalam negeri dan menunjukkan persatuan kepada dunia”?

Di era Donald Trump, kalimat patriotik itu tidak hanya mati, namun juga terurai. 

 ronisnya, karena manifestasi terbaru dari penguraian ini adalah kematian Qassem Soleimani, yang berdasarkan analisis, adalah dalang teror yang bahkan lebih berbahaya untuk Amerika Serikat dan dunia dibandingkan dengan Osama bin Laden dan Abu Bakr al-Baghdadi, yang keduanya memang terkenal sangat jahat.

Baik Osama bin Laden atau pun Abu Bakr al-Baghdadi tidak pernah memiliki kekuasaan dari jarak jauh – bahkan saat Abu Bakr al-Baghdadi mengendalikan kekhalifahannya. Justru yang dilakukan Qassem Soleimani sebagai pemimpin militer sejauh ini sebagai sponsor terbesar negara untuk terorisme.

Bahkan baik Osama bin Laden atau pun Abu Bakr al-Baghdadi tidak dekat dengan pria yang merupakan kepala Pasukan Syiah Quds itu.  Ia merupakan orang paling kuat kedua di Iran dengan penduduk 80 juta lebih, di mana semua persenjataan dan teknologi Iran terkait dengan Tiongkok dan Rusia.

Selain ribuan orang Amerika yang tewas atau pun yang cacat seumur hidup akibat perbuatan Qassem Soleimani, nasib setidaknya sebagian ratusan ribu orang di Timur Tengah berada di tangan Qassem Soleimani.

Negara Lebanon yang pernah berjaya  secara praktis dihancurkan melalui Hizbullah yang dibangkitkan oleh Qassem Soleimani, yang ditirunya kepada Irak.

Dan, kemudian ada Yaman dan pemberontak Houthi milik Qassem Soleimani yang berperang secara serentak melawan Arab Saudi dan rakyat Yaman sendiri. Dan, tentu saja, Israel, tempat Qassem Soleimani memelihara situasi baku tembak antara Hamas atau klien Qassem Soleimani, Jihad Islam, dan, sekali lagi Hizbullah atau saat Hizbullah tidak sibuk mengekspor obat-obatan ke Amerika Serikat, di negara orang Yahudi.

Patut diingat bahwa Qassem Soleimani bertanggung jawab atas semua operasi ini sekaligus, ia adalah seorang superstar teror yang sesungguhnya.

Yang terpenting dari semua itu, Qassem Soleimani sangat mempengaruhi orang-orang supaya Perang Saudara Suriah tetap berlangsung. Kematian saat ini dengan jumlah terendah : 400.000 jiwa. Jumlah pengungsi: 5,7 juta jiwa. Qassem Soleimani mungkin telah mengubah Eropa seperti yang kita tahu selamanya.

Dan jangan lupakan Iran sendiri, di mana hanya dalam beberapa minggu terakhir, kenangan akan Qassem Soleimani adalah seluruh kematian ribuan demonstran damai anti-rezim Iran. Tidak ada yang tahu berapa banyak jiwa yang mati. Dan juga penyiksaan — spesialisasi yang dilakukan oleh Iran sejak tahun 1979. Hanya beberapa hari yang lalu, Iran kembali mengeksekusi seorang pria karena kasus homoseksualitas.

Namun demikian, Partai Demokrat Amerika Serikat yang seharusnya liberal dan progresif, semuanya takut akan  pembunuhan Qassem Soleimani. Namun, Donald Trump melakukannya.

Tidak hanya Demokrat Amerika Serikat yang sama ini secara jelas akan memuji tindakan jika hal tersebut dilakukan oleh salah satu dari mereka sendiri, sama jelasnya, bahkan banyak dari mereka akan menyerang Donald Trump. Andai Donald Trump membunuh Hitler pada tahun 1940, menyalahkan Donald Trump karena memperburuk konflik.

Adalah sesederhana itu – dan memuakkan – dan setiap orang jujur ​​di Amerika mengetahuinya, terutama dokter hewan, yang hampir semua dokter hewan memiliki teman yang terbakar oleh salah satu bom pinggir jalan milik Qassem Soleimani, bagi yang selamat, berjalan menggunakan kaki  palsu.

Dan ini mengesampingkan apa pun rencana Qassem Soleimani yang merupakan penyebab langsung dari pembunuhan itu. Jika kinerja masa lalu adalah indikasi, Qassem Soleimani  banyak memilikinya.

Sementara itu, kandidat Demokrat menunjukkan pengecut yang seragam dalam menghadapi aksi tersebut. Apakah ada salah satu dari mereka yang ingin anda miliki di samping anda di lubang perlindungan?

Tampaknya tidak mungkin, tetapi seburuk yang sudah terjadi selama tiga tahun terakhir, Trump Derangement Syndrome mencapai tingkat yang tidak terduga.

Istilah Trump Derangement Syndrome atau TDS digunakan para pendukung Trump untuk menyindir pengkritik tindakan sang presiden. Tentu dengan menyindir pengkritik yang tak rasional.

Tetapi penyebab yang lebih dalam dari kekacauan yang meningkat ini mungkin berasal dari peristiwa yang dimulai pada tanggal 11 September 2012 — perilaku pemerintahan Obama setelah tewasnya empat orang Amerika Serikat di Benghazi, Libya.

Seperti yang kebanyakan orang ingat, pemerintah Amerika Serikat menyuruh Susan Rice untuk memberitahu rakyat Amerika Serikat bahwa serangan teror yang mematikan itu terjadi karena reaksi emosional spontan terhadap video amatir anti-Islam yang jarang ditonton siapa pun. Itu bukanlah serangan yang direncanakan oleh kelompok teror, kata Susan Rice. Itu adalah kebohongan yang tercela.

Kenneth Timmerman menulis di New York Post pada bulan Juni 2014, “Sumber saya, sementara itu, mengatakan Suleymani terlibat dalam serangan yang bahkan lebih tertuju kepada Amerika Serikat — pembunuhan Duta Besar Christopher Stevens di Benghazi, Libya.”

Kemudian Kenneth Timmerman merinci  plot yang rumit dan cerdas di belakang peristiwa di Benghazi yang didalangi oleh dalang jahat Qassem Soleimani.

Jika hal ini adalah benar — dan tampaknya jauh lebih masuk akal daripada “penjelasan” Susan Rice – maka apa yang baru saja terjadi di Bandara Baghdad adalah contoh utama, dan sangat dibenarkan, seperti sebuah ungkapan: apa yang anda tabur, itulah yang anda tuai.

Analis Politik senior The Epoch Times, penulis novel The GOAT” yang kini tersedia di Amazon.

Artikel ini telah tayang di The Epochtimes

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular