Yan-hua/Sherry- NTDTV.com

Wabah pneumonia misterius yang mana baru-baru ini terjadi di Wuhan, Tiongkok,  telah mengguncang dunia internasional. 

Melansir dari NTDTV.com, pada Rabu, (9/1/2020) Taiwan juga menerima laporan yang mengkonfirmasi bahwa pneumonia Wuhan disebabkan oleh coronavirus baru. Laporan itu mengatakan tidak ada penularan dari manusia ke manusia. 

Akan tetapi,  pakar menilai Komunis Tiongkok kembali melanjutkan cara yang sama seperti wabah SARS yang melanda Tiongkok pada tahun 2002 silam, yakni memblokir berita dan menutupi fakta yang terjadi. Karena kebijakan komunis Tiongkok yang selalu tidak transparan, sehingga banyak negara di dunia telah siaga tinggi terhadap wabah pneumonia Wuhan, Tiongkok.

Pada Sabtu 11 Januari 2020, Komite Kesehatan Kota Wuhan mengumumkan perkembangan wabah tersebut. Laporan mengklaim bahwa 41 orang didiagnosis menderita pneumonitis, 7 diantaranya dalam kondisi serius. Dikarenakan, terinfeksi oleh coronavirus tipe baru, dan telah memakan korban jiwa pertama.

Meskipun pihak otoritas komunis Tiongkok mengatakan belum ada bukti, akan tetapi yang pasti tentang penularan dari manusia ke manusia, dan tidak ada staf medis yang terinfeksi. 

Namun demikian, Rumah Sakit Jinyintan (Baca Cin in Than), yang berspesialisasi dalam penanganan dan isolasi pasien, saat ini semua staf medisnya telah membatalkan liburan. 

Suasana itu jelas membuat was-was masyarakat setempat. Sebelumnya staf medis selalu memakai masker bedah biasa, akan tetapi sekarang mereka telah menggantinya dengan masker N95 yang lebih protektif.

Saat ini, departemen kesehatan dan anti-epidemi negara-negara tetangga seperti Hong Kong, Makao, Taiwan, Filipina, dan Jepang semuanya telah siaga tinggi dalam menangkal wabah Wuhan. 

Sampai pada tanggal 7 Januari 2020, di antara orang-orang yang kembali ke Hong Kong dari Wuhan, ada 30 kasus yang diduga pneumonia atau radang paru-paru Wuhan, Tiongkok.

Ho Pak-leung (Baca : He Po Liang) direktur Pusat Penyakit Menular, Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Universitas Hong Kong, mengatakan curiga virus itu ditularkan dari manusia ke manusia. Ia mengimbau otoritas Tiongkok untuk mempublikasikan peta gen virus sesegera mungkin untuk melacak sumber virus dan mencegah penyebarannya.

Profesor David Hui Shu-cheong, seorang ahli pengobatan pernapasan dari Chinese University of Hong Kong, memperingatkan bahwa masa inkubasi pasien saat ini hingga 14 hari. Ia juga mengatakan, kemungkinan penularan dari orang ke orang tidak dapat dikesampingkan.

Tidak ada vaksin untuk mencegah epidemi, setidaknya untuk saat ini, sementara itu, 

Centers for Disease Control  -CDC- Taiwan atau Pusat Pengendalian Wabah Penyakit Taiwan telah memasukkan Wuhan sebagai peringatan tingkat satu untuk tujuan perjalanan. 

Kantor Pusat Pengendalian Wabah Penyakit Taiwan juga mengirim surat kepada pejabat komunis Tiongkok yang meminta informasi tentang epidemi, tetapi belum mendapatkan tanggapan.

Pemerintah Filipina, Minggu 5 Januari 2020 menginstruksikan kepada The Bureau of Quarantine – BoQ atau biro karantina, untuk memperkuat penyaringan penumpang masuk, terutama dari Tiongkok.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Sosial Jepang juga mengatakan, bahwa mereka akan terus mengumpulkan informasi dan mengambil tindakan terkait. 

Jepang mengimbau warganya yang baru kembali dari Wuhan agar lebih waspada. Jika terjadi gejala batuk, demam, dan gejala lainnya diharap segera ke rumah sakit.

Pada Selasa, 7 Januari 2020, Kedutaan Besar AS di Tiongkok mengeluarkan peringatan terhadap pneumonia misterius di Wuhan, Tiongkok. AS mengatakan agar mengambil langkah-langkah pencegahan.

Ada banyak jenis coronavirus, dan SARS maupun Middle East Respiratory Syndrome -MERS- atau Sindrom pernafasan Timur Tengah termasuk dalam kategori coronavirus.

Heng he, seorang komentator peristiwa terkini di Amerika Serikat dilansir NTDTV mengatakan,  bahwa Komunis Tiongkok kembali melanjutkan cara yang sama seperti wabah SARS yang melanda Tiongkok pada tahun 2002 silam, yakni memblokir berita dan menutupi fakta yang terjadi. 

Pada November 2002, virus SARS pecah di Distrik Shunde, Provinsi Guangdong. Pada awalnya, pihak berwenang setempat tidak merilis informasi yang relevan, dan media tidak diizinkan untuk melaporkan wabah tersebut. 

Situasi awal pasien didefinisikan sebagai “infeksi saluran pernapasan yang tidak dapat dijelaskan.” Karena komunis Tiongkok menyembunyikan laporan terkait, SARS akhirnya menyebar ke hampir 30 negara di seluruh dunia. Akhirnya lebih dari 8.000 orang terinfeksi ketika itu.

“Di Tiongkok, apa yang disebut rumor di masyarakat sering kali merupakan fakta yang sesungguhnya. Hanya otoritas Tiongkok yang memiliki motivasi dan kemampuan untuk menciptakan desas-desus secara sistematis.  Hanya desas-desus pihak berwenang yang akan menyebabkan hilangnya nyawa seseorang dan konsekuensi serius. SARS adalah contoh yang tipikal. Tidak hanya merugikan Tiongkok, tetapi juga banyak negara lain, karena komunis Tiongkok memblokir berita dan menutupi kebenaran yang ada,” ungkap Heng He.  (sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular