oleh  James Gorrie 

Saat Komunis Tiongkok hadir dalam sensor internet, apakah dunia menjadi lebih mirip dengan Tiongkok? 

Komunis Tiongkok sejatinya membenci aliran informasi dan ekspresi gagasan yang bebas. Kepemimpinan Komunis Tiongkok mengetahui bahwa keberlangsungan eksistensi mereka bergantung pada kemampuan mereka untuk meredam individualisme, ekspresi politik, dan hak asasi manusia — semua gagasan dan hak yang diperjuangkan rakyat Hong Kong untuk mempertahankan sebanyak yang mereka mampu.

 Tidak mungkin bagi Komunis Tiongkok – atau rezim totaliter – dapat eksis di lingkungan terbuka seperti itu.

 Sayangnya, hasil kondisi Orwellian Komunis Tiongkok, sama tragisnya dengan Partai Komunis Tiongkok, seperti yang diprediksi.

 Menurut laporan tahun 2019, “Pengejaran Tiongkok atas Tatanan Media Dunia Baru” yang dikeluarkan oleh Reporters Without Borders, Tiongkok adalah salah satu negara yang paling sedikit mengecap kebebasan di planet ini, peringkat 176 dari 180 negara.

 Tetapi ada lebih banyak upaya penyensoran Komunis Tiongkok daripada yang disadari kebanyakan orang.

 ‘Kedaulatan Internet’ Hanya Permulaan

 Dengan apa yang disebut Great Firewall,  Komunis Tiongkok mengendalikan hampir setiap bagian informasi di Tiongkok melalui internetnya sendiri, mesin pencari, aplikasi obrolan, dan media sosial lainnya. Orang Tiongkok tidak diberi akses internet ke dunia luar. 

Semua yang diketahui kebanyakan rakyat Tiongkok dari internet, koran, televisi, dan radio adalah apa yang diizinkan oleh Komunis Tiongkok untuk mereka lihat, baca, atau dengar.

 Selain itu, melalui undang-undang dekripsi data yang sangat mengganggu, algoritma yang didukung kecerdasan buatan, dan ribuan tim pemantau konten, Komunis Tiongkok juga mengendalikan – dan melihat – sebagian besar data yang datang ke negara Tiongkok dari personil bisnis asing, akademisi, dan sumber lainnya. 

Dengan demikian, yang disebut “kedaulatan internet,” dan untuk Beijing, adalah sama pentingnya dengan kedaulatan teritorial.

 Tentu saja, ada alasan bagus. Kendali  kediktatoran atas suatu populasi berarti mengendalikan dan membentuk persepsi masyarakat, dan tentu saja, pemikiran masyarakat. Agar hal itu berhasil, maka harus ada hanya satu sumber informasi, yaitu yang berasal dari negara Tiongkok, atau rezim Komunis Tiongkok. Tidak mengherankan bahwa Tiongkok tidak memiliki saingan saat Komunis Tiongkok memenjarakan jurnalis dan netizen.

 Tetapi Tiongkok menjadi jauh lebih buruk.

‘Great Cannon’ Komunis Tiongkok Membunuh Situs Web Asing

 Komunis Tiongkok tidak hanya bekerja sangat keras untuk memblokir akses warganegara Tiongkok ke informasi yang tidak disukai oleh Komunis Tiongkok; rezim Komunis Tiongkok juga menghentikan seluruh dunia untuk tidak  melihat tindakan Komunis Tiongkok. 

“Great Cannon” Komunis Tiongkok adalah kode pemrograman yang memungkinkan rezim Tiongkok mengendalikan potensial situs web asing dan bahkan membatasi akses pengguna ke data. 

“Great Cannon” pertama kali digunakan pada tahun 2015 untuk menargetkan dan mengeksploitasi komputer asing tanpa jaminan yang berkomunikasi dengan Tiongkok.

“Great Cannon” memberi kesempatan bagi Komunis Tiongkok untuk menargetkan dan mengeksploitasi komputer asing yang berkomunikasi dengan situs web berbasis di Tiongkok.

 “Great Cannon” ini melucuti jutaan koneksi internet Tiongkok Daratan yang mengunjungi situs web yang tidak aman. 

“Great Cannon” mengunduh dan menjalankan JavaScript berbahaya milik rezim Tiongkok, yang memungkinkan rezim Tiongkok mengendalikan lalu lintas ke situs-situs yang tidak aman, membuat situs-situs yang tidak aman kewalahan, atau bahkan meluncurkan serangan dunia maya terhadap situs-situs yang menyinggung atau menentang rezim Komunis Tiongkok. 

Hal ini terjadi pada kasus dengan Github pada tahun 2015 dan di Hong Kong pada bulan Juni 2019. 

Terlebih lagi, Komunis Tiongkok secara rutin menyuntikkan perangkat lunak pada kelompok-kelompok oposisi di luar perbatasannya untuk memata-matai dan mendiskreditkan kelompok-kelompok oposisi tersebut.

 Besarnya Dana untuk Propaganda Global Komunis Tiongkok

 Selain mematikan situs-situs ofensif atau yang mengancam, media Komunis Tiongkok  membuat langkah besar dalam memperluas kehadirannya di seluruh dunia. 

Menghabiskan dana sebesar 1,3 miliar dolar AS setiap tahun untuk mendorong program televisi dan radio yang dikelola pemerintah,  Komunis Tiongkok ingin menyebarkan kisah Tiongkok kepada dunia, dalam versi Komunis Tiongkok. Menulis ulang sejarah menurut narasi yang disetujui oleh rezim Komunis Tiongkok. 

Ekspansi media Tiongkok adalah sangat besar, di mana China Global Television Network terlihat di 165 negara dan China Radio International terdengar dalam 65 bahasa.

 Ini adalah upaya yang berani dan gigih untuk mengubah sebagian besar pemikiran dunia dari gagasan Amerika menjadi pemikiran dunia yang menganut gagasan Komunis Tiongkok, kapitalisme negara yang tampak menindas dan sukse. 

Selanjutnya, disinkronkan secara baik dengan Institut Konfusius  di kampus-kampus di seluruh Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. 

Sejatinya, institut Konfusius ini adalah alat propaganda lainnya milik Komunis Tiongkok yang bertujuan membentuk pandangan orang-orang muda mengenai Tiongkok dan merongrong keluhan para pengunjuk rasa Hong Kong, serta konsep dasar peradaban Barat.

 Upaya Komunis Tiongkok memperluas kehadiran di seluruh dunia merupakan ancaman langsung terhadap demokrasi liberal terbuka di Barat:

 “Apa yang dipertaruhkan bukan hanya otoritas Tiongkok yang berusaha menyebarkan propagandanya sendiri … yang dipertaruhkan adalah jurnalisme seperti yang kita kenal,” kata Cédric Alviani, direktur biro Reporters Without Borders Asia Timur, kepada TIME Magazine.

 Hal ini adalah mengecewakan, jika tidak mengejutkan, betapa banyak negara otoriter seperti Rusia, Iran, Pakistan, dan lainnya berlomba untuk menyensor akses internet dan membatasi kebebasan rakyatnya sendiri.

Tidak diragukan lagi, Komunis Tiongkok memimpin jalan bagi para diktator di seluruh dunia untuk mempertahankan kekuatannya yang tidak sah.

 Yang lebih mengecewakan dan berbahaya adalah bagaimana Komunis Tiongkok memengaruhi media massa dan perusahaan hiburan di seluruh dunia, tentunya dalam upaya yang sangat produktif untuk menghentikan kritik dan membentuk kembali opini di seluruh dunia. 

Tampaknya perusahaan-perusahaan Amerika Serikat bertekuk lutut ke Beijing hanya untuk keputusan bisnis lain. Raksasa web dan teknologi seperti Facebook, Apple, dan lainnya dengan rela memenuhi tuntutan sensor Beijing dengan imbalan akses ke pasar Tiongkok yang berpenduduk 1,3 miliar jiwa.

Terlebih lagi, maskapai penerbangan dan penerbit menulis ulang peta mereka agar tidak menyinggung Komunis Tiongkok. Rupanya, Tibet dan Taiwan, misalnya, sama sekali bukanlah negara yang nyata.

 Komunis Tiongkok  menunjukkan kekuasaannya kepada dunia, dan kekuasaan Beijing adalah sangat berdarah dan kotor. Itu adalah ancaman yang jauh lebih berbahaya bagi peradaban Barat daripada sistem senjata apa pun yang dapat diterapkan Beijing melawan Amerika Serikat. 

Tidak banyak orang menyadari, bahwa Komunis Tiongkok sedang dalam proses membentuk kembali sebagian besar dunia dalam citra Komunis Tiongkok sendiri.

 Rakyat Hong Kong sangat menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh transformasi seperti itu, itulah sebabnya rakyat Hong Kong bersedia bangkit mengambil risiko berhadapan dengan kepemimpinan Komunis Tiongkok. 

Rakyat Hong Kong tahu bahwa masa depan mereka di bawah kekuasaan Beijing adalah masa yang suram. 

James Gorrie Adalah Penulis buku The China Crisis

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular