oleh : Cathy He dan Frang Fank – The Epochtimes

Selama bertahun-tahun, Komunis Tiongkok kerap mendorong narasi dan propagandanya melalui media-media di luar perbatasannya. 

Sejak tahun 2017, kampanye pengaruh Komunis Tiongkok ini telah dipercepat dengan taktik baru, menurut laporan yang  dirilis oleh Freedom House yang berbasis di AS pada 14 Januari 2020. 

“Jurnalis, konsumen berita, dan pengiklan di negara-negara mulai dari Swedia hingga Rusia, Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Australia menghadapi intimidasi atau penyensoran konten politik yang oleh partai Komunis Tiongkok dianggap tidak diinginkan,” kata Sarah Cook,  Analis riset senior dan penulis laporan Freedom House, dalam siaran persnya.

Dalam sebuah wawancara telepon dengan The Epoch Times edisi Amerika Serikat, Cook menjelaskan, bahwa Beijing memiliki tiga tujuan di balik kampanye pengaruh mereka yakni:

Pertama, mempromosikan citra positif Tiongkok dan Komunis Tiongkok ;

Kedua, mempromosikan keterbukaan Tiongkok terhadap keterlibatan ekonomi, khususnya investasi Tiongkok di negara lain; dan

Ketiga, menekan sudut pandang dan cakupan topik yang kritis terhadap Komunis Tiongkok.

Gambaran Positif

Cook mengatakan, bahwa Beijing menambahkan tujuan baru pada tahun 2017 yakni :  menghadirkan Tiongkok sebagai model untuk pembangunan politik-ekonomi untuk negara-negara berkembang.

Pesan-pesan Beijing, sementara secara sengaja menggambarkan Tiongkok dengan cara yang positif, “menghilangkan dimensi negatif objektif dari sistem politik otoriter Tiongkok dan perkembangan ekonomi yang pesat,” menurut laporan itu.

Contoh penghilangan tersebut termasuk pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan terhadap minoritas etnis dan agama, serta sisi gelap dari keterlibatan luar negeri Tiongkok, seperti pembuatan kesepakatan yang korup dan akumulasi utang publik yang tidak jelas,” laporan itu sebagaimana diungkapkan dalam laporan Freedom House.

Komunis Tiongkok dituding menempatkan negara-negara berkembang dalam “jebakan utang,” setelah negara-negara ini bergabung dengan inisiatif investasi besar-besaran “One Belt, One Road” atau OBOR, juga dikenal sebagai Belt and Road. 

Diluncurkan pada 2013, proyek ini bertujuan untuk membangun rute perdagangan yang menghubungkan daratan Tiongkok, Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin.

Share

Video Popular