Erabaru.net. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI, dr. Anung Sugihantono, M.Kes mengatakan, Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul telah melakukan upaya terpadu dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY untuk penanganan kasus Antraks di Gunungkidul.

Langkah yang dilakukan yakni penyelidikan epidemiologi secara terpadu, penyuluhan dan skrining kepada seluruh warga masyarakat yang kontak dengan ternak yang mati/sakit.

“Dilakukan pengambilan sampel berupa swab atau usap luka dan serum darah pada 20 orang, penyiraman formalin di lokasi yang terduga tercemar, dan penyuntikan vaksinasi, antibiotic, serta vitamin pada seluruh hewan ternak (50 ekor sapi dan 155 ekor kambing),” kata Dirjen Anung dalam di Gedung Kemenkes, Jakarta, Senin (20/1/2020). Laporan ini dikutip dari  berita yang disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.

Menurut laporan itu, upaya penanganan lainny adalah tidak mengonsumsi hewan ternak yang sakit atau mati mendadak. Langkah lainnya adalah Hewan yang mati karena antraks agar segera dikubur dalam tanah minimal sedalam 2 meter.

Selain itu, daging hewan yang disembelih karena sakit tidak boleh dibagikan kepada warga. Secara khusus kepada peternak sapi dan kambing untuk memvaksin hewannya.

Catatan Kemenkes RI, antraks di Gunung Kidul sudah pernah terjadi pada 21 Mei sampai 27 Juni 2019 di Kecamatan Karangmojo, sementara itu antraks yang baru-baru ini terjadi pada Desember 2019 merupakan kasus yang terjadi di Kecamatan Ponjong.

Menurut Kemenkes RI seperti yang diungkapkan Dirjen Anung, Kasus antraks yang ditemukan pada 28 Desember 2019 sampai 13 Januari 2020 di Gunung Kidul merupakan pengulangan kasus. Sebelumnya pada 21 Mei sampai 27 Juni 2019 ditemukan 3 kasus konfirmasi antraks kulit pada manusia.

“Pada 28 Desember 2019 kami mendapat laporan adanya 21 orang dengan tanda klinis baik gejala atau tanda yang positif antraks yang 1 warga di antaranya meninggal dunia. Namun sampai sekarang tidak ditemukan lagi kasus baru,” kata Agung. (asr)

Share

Video Popular