- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Saat Xi Jinping Mengunjungi Myanmar, Kelompok Etnis Mengeluhkan Investasi Bendungan yang ‘Tidak Respek’

Reuters

Jalan-jalan di ibukota Myanmar, Naypyitaw, dihiasi dengan spanduk yang merayakan 70 tahun hubungan Myanmar-Tiongkok. Itu terjadi menjelang kedatangan Xi Jinping pada (17/1/2020). Kunjungan itu adalah yang pertama bagi Xi Jinping sebagai pemimpin Komunis Tiongkok. Namun demikian, bagi ribuan penduduk desa yang tinggal di utara Myanmar, dekat dengan perbatasan Tiongkok, ada peringatan lain yang tidak dapat dirayakan oleh siapa pun.

Sudah 10 tahun sejak penduduk desa diusir dari tanahnya untuk dibangun bendungan senilai  3,6 miliar dolar AS, sebuah proyek yang belum selesai didukung oleh Beijing. Proyek itu dinilai merupakan hubungan persahabatan antara dua negara bertetangga.

Namanya, Bendungan PLTA Irrawaddy Myitsone di Negara Bagian Kachin. Bendungan itu adalah satu dari sekian banyak proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar yang merupakan bagian inisiatif “One Belt, One Road” atau OBOR, juga dikenal sebagai inisiatif Belt and Road. Pemimpin Komunis Tiongkok itu, bermaksud mendiskusikan rencana besarnya untuk “jalan sutra abad ke-21” selama kunjungan dua harinya ke Myanmar.

Pembangunan bendungan PLTA Irrawaddy Myitsone ditangguhkan pada tahun 2011. Itu setelah protes masyarakat atas penggusuran dan kerusakan lingkungan hidup yang diperkirakan, termasuk banjir di daerah seluas Singapura. Akan tetapi penduduk desa tidak diizinkan untuk kembali ke rumah. Selain itu, pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi  mengindikasikan pembangunan bendungan PLTA Irrawaddy Myitsone masih dapat bergerak maju.

“Kerugian besar adalah tanah pertanian,” kata Pendeta Tu Hkawng, anggota etnis minoritas Kachin, yang sebagian besar beragama Kristen seperti dilaporkan Reuters.

Ia menambahkan, bahwa penduduk desa dipindahkan ke perumahan di bawah standar yang disediakan oleh Tiongkok. Bahkan, banyak penduduk desa yang terpaksa mencari pekerjaan melintasi perbatasan.

“Saya mengatakan struktur sosial kami hancur. Kami dulu saling membantu dan peduli. Hal-hal seperti itu telah hilang,” kata Pendeta Tu Hkawng.

Sebuah surat terbuka dari belasan kelompok masyarakat sipil Kachin yang diterbitkan sehari sebelum kedatangan Xi Jinping, meminta pemimpin Tiongkok tersebut untuk secara permanen membatalkan proyek bendungan tersebut. Surat itu mengatakan, investasi Tiongkok yang lebih luas di wilayah tersebut, termasuk perkebunan pisang secara besar-besaran, memiliki “dampak sosial dan lingkungan hidup yang luas termasuk masalah tanah dan ancaman terhadap situs-situs alam dan bersejarah.”

 Investasi Tiongkok “tidak menghormati tradisi dan nilai-nilai setempat dan gagal berkonsultasi dengan masyarakat setempat,” demikian bunyi isi surat terbuka tersebut.

 Xi Jinping bertemu penasihat negara Aung San Suu Kyi dan panglima militer Min Aung Hlaing di ibukota Naypyitaw, serta para kepala partai politik kecil.

Para pengunjuk rasa juga bermaksud berkumpul di luar Kedutaan Besar Tiongkok di Yangon pada hari Sabtu itu, untuk menentang “eksploitasi sumber daya alam” di Myanmar, termasuk proyek bendungan Irrawaddy Myitsone.

 Aung Soe Myint, seorang aktivis yang menentang bendungan Irrawaddy Myitsone, mengatakan, Aung San Suu Kyi harus berhati-hati dengan apa yang ditawarkan Tiongkok, atau berisiko tidak terpilih pada pemilihan umum yang diharapkan pada bulan November.

 “Jika Aung San Suu Kyi menyetujui keinginan Tiongkok, maka hal itu akan menjadi bunuh diri politik baginya,” kata Aung Soe Myint.

Hubungan yang Tidak Penting

 Myanmar memiliki hubungan yang penuh sejarah dengan Tiongkok, di mana banyak rakyat Myanmar curiga terhadap pengaruh Beijing di negara tetangganya yang lebih kecil itu. Tetapi hubungan Myanmar-Tiongkok menghangat, setelah Tiongkok menghindar untuk bergabung dengan dunia internasional untuk mengecam Myanmar. Dikarenakan, mengusir umat Muslim etnis Rohingya pada tahun 2017 silam.

 Lebih dari 730.000 etnis Rohingya dipaksa untuk melarikan diri dari barat Myanmar, setelah penumpasan militer. PBB mengatakan, mereka telah dieksekusi dengan “niat genosida.” Meskipun pemerintah Myanmar menyatakan, itu adalah operasi kontra-pemberontakan yang sah yang diluncurkan. Tak lain, sebagai tanggapan terhadap serangan militan terhadap pasukan keamanan.

 Tiongkok membela Myanmar di panggung global.  Dipandang sebagai penghalang terbesar bagi penuntutan para pemimpinnya di pengadilan kejahatan perang internasional. Tiongkok adalah investor terbesar kedua di Myanmar, setelah Singapura.

 Dalam tajuk rencana yang dipublikasikan di media pemerintah Myanmar, Xi Jinping mengatakan kunjungan itu adalah kunjungan “kerja sama Belt and Road yang berorientasi pada hasil.”  Selain itu, beralih dari “tahap konseptual ke perencanaan dan implementasi konkret” dari proyek-proyek seperti Koridor Ekonomi Myanmar-Tiongkok, yang menghubungkan Tiongkok ke Samudera Hindia, yang mengalami kemajuan lambat.

 Para pengamat mengatakan sementara bendungan Negara Bagian Kachin mungkin muncul dalam diskusi. 

Myanmar tampaknya tidak akan menyetujui dimulainya kembali secara penuh, jelang pemilihan umum yang akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. 

Propinsi Yunnan di Tiongkok, tempat tujuan listrik dari bendungan bendungan, kini memiliki surplus listrik.

 Berbicara dengan wartawan minggu lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Luo Zhaohui mengatakan, kedua belah pihak berhubungan dengan bendungan, dan setiap kerjasama akan “sejalan dengan rencana jangka panjang pihak Myanmar.” (Vivi/asr)

Video Rekomendasi :