Olivia Li – The Epochtimes

Seorang ahli medis Tiongkok yang pernah meyakinkan publik bahwa “Pneumonia Wuhan Dapat Dikendalikan”  didiagnosis dengan novel coronavirus setelah mengunjungi Kota Wuhan. Ia adalah salah satu konsultan medis utama untuk virus pneumonia Wuhan ini.

Wang Guangfa adalah Direktur Kedokteran Perawatan Respiratori dan Kritis di Rumah Sakit Pertama Universitas Peking, dikonfirmasi dengan media pemerintah Tiongkok pada 21 Januari bahwa ia didiagnosis mengidap coronavirus, yang juga dikenal sebagai Pneumonia Wuhan.

Wang tinggal di Wuhan setidaknya selama delapan hari sebagai anggota tim ahli Komisi Kesehatan Nasional, untuk menyelidiki pneumonia terkait SARS disebabkan oleh coronavirus yang baru diidentifikasi.

Namun demikian, bahkan surat kabar utama pemerintahan Komunis Tiongkok pun kesulitan mendapatkan tanggal pastinya Wang menginap di Wuhan. 

Seperti dilaporkan The Epochtimes, sejumlah laporan mengatakan, tim ahli medis dikirim ke Wuhan pada tanggal 31 Desember 2019, sementara media lainnya mengatakan delegasi telah tiba sebelum tanggal 31 Desember 2019.

Perbedaan dalam laporan-laporan ini patut dicatat, karena masyarakat Tiongkok menjadi semakin marah. Mereka menuntut pihak berwenang untuk mengungkapkan tanggal pastinya dari kasus yang pertama didiagnosis dan ketika petugas medis Wuhan baru menyadarinya akan bahaya virus baru yang misterius ini. 

Banyak orang-orang telah mengungkapkan dugaan kecurigaan mereka, bahwa sengaja tak diungkapkan kepada masyarakat sejak November tahun lalu.

Selain itu, tidak ada media pemerintahan Tiongkok yang mengungkapkan tanggal pasti kapan Wang didiagnosis. 

Adanya fakta ketika Wang terinfeksi, bisa menjadi bukti kuat penularan dari manusia ke manusia, dan otoritas medis Tiongkok tidak mau mengungkapkan konfirmasi penularan dari manusia ke manusia.

Pada 10 Januari 2020, Wang mengumumkan di China Central TV bahwa kondisi pasien Wuhan dan keseluruhan situasi penyebaran penyakit dapat dikendalikan. Ia juga menambahkan: “Mayoritas pasien diklasifikasikan sebagai ringan hingga sedang. Sampai sekarang, tidak ada satu pun kasus petugas medis yang terinfeksi oleh pasien.”

Infeksi Melalui Konjungtiva

Setelah Wang ditemukan terinfeksi, dia mengatakan dirinya telah mengunjungi pasien sebanyak dua kali selama tinggal di Wuhan.

Wang mengatakan kepada media pemerintah Tiongkok bahwa kunjungan pertamanya adalah di raungan ICU untuk memeriksa status seorang pasien yang terinfeksi parah di Rumah Sakit Jinyintan Wuhan, sebuah rumah sakit khusus untuk keadaan darurat kesehatan masyarakat dan penyakit menular di bawah yurisdiksi langsung Komisi Kesehatan Wuhan .

“Meskipun saya dekat dengan pasien, saya benar-benar dilindungi, dengan masker wajah medis (penutup akrilik yang menutupi seluruh wajah). Ada sedikit kemungkinan saya akan terinfeksi dari pasien itu,” kata Wang.

Pada tanggal yang berbeda, Wang mengunjungi beberapa klinik perawatan demam dan bangsal isolasi sementara untuk pasien suspek pneumonia. Kali ini, dia hanya mengenakan masker medis N95.

Setelah kembali ke Beijing, gejala penyakit pertama yang ia perhatikan adalah konjungtivitis di bagian bawah mata kirinya. 

Untuk diketahui, Konjungtiva merupakan lapisan tipis yang berada di mata yang berguna melindungi sklera atau area putih dari mata.

“Beberapa jam kemudian, saya mulai mengalami gejala demam dan catarrh,” kata Wang. Istilah medis “catarrh” mengacu pada gejal infeksi virus peradangan selaput, seperti dahak berlebih, lendir dan batuk.

Namun demikian, Wang belum pernah mendengar adanya kasus di antara pasien pneumonia Wuhan yang gejala pertamanya adalah konjungtivitis. 

Oleh karena itu, ia menolak kemungkinan terinfeksi dengan coronavirus Wuhan. Dia menerima pengobatan untuk influenza tetapi ternyata tidak efektif. Dia kemudian berkonsultasi dengan dokternya untuk melakukan tes sekuensing gen virus untuk mengetahui apakah dia terjangkit pneumonia Wuhan. Dalam retrospeksi, Wang mengatakan kemungkinan jalur  dirinya terinfeksi adalah melalui konjungtivanya. 

“Saya tidak memakai kacamata pelindung. Itu adalah titik rawan saya,” katanya.

Netizen Mempertanyakan Pernyataan Wang Tentang ‘Terkendali’

Ketika Wang dikonfirmasi menjadi korban lain dari coronavirus Wuhan, pengguna media sosial di daratan Tiongkok segera memberitahukan kepada teman-teman di jaringan mereka untuk tetap waspada.

“Bahkan seorang ahli penyakit menular, yang mengetahui bagaimana melindungi dirinya sendiri, terinfeksi. Itu memberitahukan kepada kita seberapa menular virus baru itu!” Demikian pesan yang mereka kirimkan.

Seorang pengguna media sosial menulis artikel di blog yang sejak itu menjadi viral. Ia mempertanyakan kepastian Wang bahwa penyakit ini dapat dikendalikan:

“Sejak awal, kami telah mendengar ungkapan, ‘dapat dicegah dan dikendalikan.’ Saya bertanya-tanya, apakah mereka mengidentifikasi sumber asal virus? Bagaimana kita mencegahnya jika kita bahkan tidak mengetahui dari mana virus itu berasal? Sekarang virus telah diidentifikasi sebagai coronavirus; maka jangan berharap  kita akan memiliki vaksin atau perawatan khusus segera. Selain itu, Wuhan adalah pusat transportasi yang mampu menyebarkan penyakit ke seluruh negeri. Ketika tidak ada banyak tindakan skrening di stasiun angkutan umum, apa dasar untuk klaim bahwa itu dapat dikendalikan?”

“Ungkapan yang sangat, ‘dapat dicegah dan dikendalikan,’ telah membuang banyak waktu untuk mencegah dan mengendalikan penyakit. Terpikir oleh saya bahwa lab P4 pertama di Tiongkok mulai beroperasi di Wuhan, yang dikatakan sebagai laboratorium keamanan biosafety tertinggi di dunia. Ketika lab diluncurkan pada tahun 2018, video publikasi yang diproduksi oleh pemerintah menggambarkannya sebagai instrument instrumen penting negara besar kita untuk memberikan perlindungan bagi warga negara kita ‘dan  tameng pelindung rakyat Tiongkok terhadap virus.’ Sungguh ironi! “

Lab P4 adalah laboratorium untuk penanganan penyakit biosafety level 4 (level tertinggi), yang merupakan penyakit yang memiliki tingkat kematian tertinggi dan tidak ada perawatan yang diketahui, seperti ebola. Laboratorium semacam itu mengikuti standar keamanan mikrobiologi tertinggi dan dukungan yang bekerja dengan virus dan bakteri berbahaya.

Laboratorium P4 di Wuhan tidak hanya yang pertama dari jenisnya di Tiongkok, tetapi juga yang pertama di Asia.

Pada 23 Januari 2020, virus telah menyebar ke setidaknya ke enam negara lain. Pihak berwenang mengisolasi Wuhan, sebuah kota yang berpenduduk sekitar 11 juta di Tiongkok, pada 23 Januari lalu. 

Transportasi umum ditutup dan bandara ditutup. Warga diserukan untuk tidak berpergian kecuali mereka memiliki keadaan khusus.

Di kota Huanggang yang berdekatan dengan Wuhan, dengan populasi 7,5 juta jiwa, dan Kota Ezhou, yang berpenduduk sekitar satu juta oang,  pejabat Tiongkok juga mengumumkan karantina kedua kota itu beberapa jam kemudian. Pejabat itu mengatakan, semua transportasi umum, bioskop,  warung internet, lokasi hiburan in-door, dan resort akan ditutup.

Sementara itu, di Beijing, semua kegiatan besar yang direncanakan untuk merayakan Tahun Baru Imlek dibatalkan. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular