Eva Pu – The Epochtimes

Pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping akhirnya membentuk kelompok kendali epidemi pada hari Sabtu 25 Januari 2020 lalu, di tengah wabah pneumonia yang telah memakan korban dan warga-warga yang menderita sakit.

Dalam pertemuan darurat dengan lingkaran dalam politik terdekatnya, Xi Jinping memperingatkan “situasi gawat” dan “percepatan penyebaran” epidemi. Ia mengatakan gugus tugas baru harus fokus menangani situasi dengan sangat mendesak. Hal tersebut harus menjadi tugas prioritas yang tertinggi untuk semua tingkatan organ pemerintah, menurut kantor berita resmi komunis Tiongkok,  Xinhua.

Tim  tersebut bertepatan dengan Tahun Baru Imlek, hari libur nasional selama seminggu saat puluhan juta rakyat Tiongkok yang tinggal di luar negeri dan di dalam negeri Tiongkok, pulang kampung. Hal ini meningkatkan kekhawatiran penyebaran Coronavirus lebih lanjut.

 Sejauh ini, Coronavirus menyerang setidaknya belasan negara dan wilayah di luar Tiongkok Daratan, termasuk Amerika Serikat, Australia, Prancis, Malaysia, Nepal, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Vietnam, Jepang, Taiwan, Malaysia dan Hong Kong. Di Tiongkok sendiri, satu-satunya provinsi yang belum melaporkan infeksi adalah Tibet.

Menjelang liburan, pihak berwenang Tiongkok secara efektif mengkarantina setidaknya 16 kota di tengah Provinsi Hubei, tempat wabah Coronavirus dimulai. Beijing, ibukota Tiongkok, juga menghentikan layanan kereta yang keluar dari Beijing.

Di seluruh Tiongkok, perayaan liburan dan pertemuan utama masyarakat dibatalkan serta kegiatan wisata dihentikan.

Laurie Garrett, seorang mantan analis kesehatan global di Dewan Hubungan Luar Negeri AS dan seorang jurnalis sains pemenang Pulitzer Prize, mengatakan langkah-langkah yang diambil oleh pihak berwenang Tiongkok adalah “terlambat.” 

“Bila pihak berwenang Tiongkok lebih transparan dan mengambil tindakan cepat tanpa berusaha menyembunyikan wabah tersebut, maka wabah tersebut “dapat  dikendalikan dengan mudah tiga minggu lalu,” kata Laurie Garrett kepada The Epoch Times.

 Laurie Garrett menambahkan bahwa pembatasan perjalanan adalah tidak mengejutkan. Dikarenakan tidak ada vaksin atau pengobatan untuk Novel Coronavirus 2019 —Pneumonia Wuhan — dan infeksi telah menyebar ke seluruh Tiongkok, pemerintah Tiongkok terpaksa beralih ke buku pedoman SARS tahun 2003 miliknya. Dan itu berarti seluruh kota-kota di Tiongkok harus dikarantina, pergerakan populasi bangsa Tiongkok harus dibatasi, dan perilaku penyebaran penyakit yang potensial harus dibatasi. 

Selama wabah SARS (sindrom pernapasan akut yang parah) pada 17 tahun silam, Laurie Garrett mengatakan banyak daerah wisata di Tiongkok berubah menjadi kota hantu karena kegiatan olahraga, komersial, dan acara kebudayaan ditunda atau dibatalkan. Mereka yang berada di kota-kota yang dikarantina hanya memiliki sedikit pilihan, beberapa di antaranya adalah terus-menerus mengukur suhu tubuhnya sendiri untuk memastikan tidak terinfeksi SARS atau pergi ke rumah sakit yang penuh sesak dengan pasien.

Pada Sabtu pagi 25 Januari, seorang dokter Tiongkok dari Wuhan meninggal dunia akibat tertular Coronavirus yang mematikan, korban pertama di antara petugas kesehatan yang dipastikan oleh pihak berwenang Tiongkok.

“Pemerintah Tiongkok akan mengambil tindakan yang sangat drastis selama beberapa minggu ke depan, dan ini akan menjadi masa sulit bagi rakyat Tiongkok,” kata Laurie Garrett.

 Maskapai penerbangan Tiongkok meminta semua maskapai penerbangan dan agen perjalanan domestik untuk mengembalikan seluruh uang pembelian tiket kepada penumpang dari Tiongkok Daratan untuk tiket yang dibeli sebelum hari Jumat 24 Januari. 

Kemudian pada hari Sabtunya, Hong Kong memerintahkan semua taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama ditutup hingga tanggal 17 Februari sebagai bagian liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang. 

Kemudian, pemerintah Hong Kong menyatakan darurat wabah setelah adanya lima kasus infeksi lagi dipastikan dan 122 kasus yang diduga dilaporkan. Kereta kecepatan tinggi dan penerbangan ke Wuhan, pusat penyebaran wabah, juga telah ditunda.

 Vietnam Airlines dan Jetstar Pacific di Vietnam, Cathay Pacific dan Hong Kong Airlines di Hong Kong, Qantas Airways di Australia, dan AirAsia di Malaysia juga mengeluarkan kebijakan serupa. Sedangkan dari Indonesia, maskapai Lion Air mulai Minggu 26 Januari 2020, menghentikan sementara penerbangannya dari Denpasar melalui Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, tujuan Bandar Udara Internasional Tianhe Wuhan.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menganjurkan membatalkan perjalanan yang tidak penting ke Wuhan.Lembaga itu menyarankan tindakan pencegahan bagi siapa saja yang mengunjungi kota lain di Tiongkok. (Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular