Erabaru.net. Kampung Kuta Ciamis merupakan salah satu kampung adat yang berada di Dusun Kuta, Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Awalnya di kampung ini hanya ada 5 rumah. Kelima rumah itu dihuni oleh pendiri Kampung Kuta. Jumlah itu kemudian bertambah hingga mencapai 125 rumah.

Ada beberapa warga meninggal, yang akhirnya rumahnya dirobohkan karena tak lagi ditempati. Kini ada 117 rumah di Kampung Kuta, semuanya dihuni oleh 275 jiwa. 

Konon, nama Kuta sendiri berasal dari “Mahkuta’. Nama itu diambil karena warga percaya kampung Kuta pernah dijadikan pusat Kerajaan Galuh ketika pemerintahan Prabu Permanadikusuma.

Berbagai tradisi masih dipertahankan oleh masyarakat Kampung Kuta. Bahkan sejumlah pantangan juga masih ditaati oleh warganya.

Mereka percaya jika tradisi dan pantangan itu dilanggar, maka kejadian yang tak diinginkan bisa saja terjadi. Tradisi dan pantangan itu ditaati agar terhindar dari bencana dan musibah.

Apa saja tradisi dan pantangan yang masih dipertahankan oleh masyarakat Kampung Kuta? Dikutip dari situs harapanrakyat.com, berikut ulasannya:

Pantangan yang Tak Boleh Dilanggar di Kampung Kuta Ciamis

Salah satu pantangan yang tak boleh dilanggar warga Kampung Kuta adalah membangun rumah dari tembok. Masyarakat kampung Kuta masih membangun rumah panggung dengan bahan-bahan dari alam seperti kayu dan bambu.

Adat istiadat di Kampung Kuta, Ciamis , Jawa Brarat (Harapanrakyat.com)

Apabila salah satu warganya nekat membangun rumah tembok, masyarakat Kampung Kuta percaya musibah bisa terjadi. Bahkan bukan hanya orang yang membangun rumah saja yang terkena, namun bisa berakibat pada warga lainnya yang ada di Kampung Kuta.

Warga tak segan untuk meminta orang yang membangun rumah dari tembok untuk merobohkannya. Hal ini dilakukan lantaran takut datang musibah.

Warja, salah seorang sesepuh di Kampung Kuta Ciamis menuturkan, pernah ada membangun rumah dari tembok. Orang itu meninggal. Rumah yang sudah dibangun itu kemudian dirobohkan dan diganti dengan rumah panggung. Hal itu sengaja dilakukan agar musibah tidak terjadi ke warga lainnya.

Di balik semua itu, pantangan membuat rumah dari tembok, karena rumah panggung dari bahan alami dipercaya tahan gempa dan tidak merusak alam. Berbeda jika membangun rumah dari semen yang membuat alam rusak.

Selain larangan membuat rumah dari tembok, rumah yang dibangun juga dilarang menggunakan atap dari genting.

Sementara larangan lainnya yang masih ditaati masyarakat ada kampung Kuta adalah mengubur jenazah, pamer harta dan kekayaan, serta dilarang ada pementasan seni yang ada lakon ceritanya seperti wayang.

Pantangan di Leuweung Gede yang Dirawat Warga Kampung Kuta

Leuweung Gede merupakan hutan larangan yang dianggap tempat suci oleh masyarakat adat Kampung Kuta Ciamis. Keberadaannya benar-benar dijaga. Bahkan terdapat sejumlah larangan yang tak boleh dilanggar saat hendak memasuki kawasan Leuweung Gede.

Suasana di Kampung Kuta, Ciamis , Jawa Brarat (Harapanrakyat.com)

Selain dilarang untuk menebang pohon atau merusak sumber daya hutan di hutan tersebut, ada juga larangan mengenakan baju dinas, memakai emas, baju-baju hitam, bawa tas, dan menggunakan alas kaki.

Ketika berada di dalam hutan, dilarang juga meludah atau berisik. Apabila dilanggar, warga percaya bisa mendatangkan malapetaka. Larangan tersebut, tentu ada tujuannya, yaitu untuk melestarikan alam yang ada di hutan.

Masyarakat adat Kampung Kuta percaya jika Leweung Gede tadinya akan dijadikan sebagai pusat kerajaan Galuh. Namun hal itu dibatalkan.

Meskipun begitu, masih terdapat sisa-sisa persiapan untuk menjadikan Leuweung Gede sebagai pusat kerajaan galuh. Diantaranya gundukan kapur, gundukan semen merah, dan peralatan pandai besi yang kini membentengi Kampung Kuta.

Nyekar di Leweung Gede Sebelum Bertanding Sepak Bola

Masyarakat adat Kampung Kuta Ciamis juga percaya Leweung Gede merupakan tempat suci. Karena seringkali dijadikan tempat berdo’a. Namun, di hutan keramat ini dilarang jadi tempat pesugihan. Namun warga percaya jika berdo’a memohon keselamatan di Leuweung Gede, maka akan terkabul.

Salah satunya adalah ritual Nyekar sebelum bertanding sepak bola. Sehari sebelum pertandingan berlangsung, warga Desa Karangpaninggal melakukan Nyekar dipimpin oleh sesepuh Kampung Kuta. Sepatu dan kaos tim sepak bola ditaruh di tanah sambil memanjatkan do’a.

Saat pertandingan berlangsung, para pemain seperti punya kekuatan lebih. Saat berlari terasa ringan. Bola pun seolah-oleh menempel pada kaki. Hal ini berbeda dengan kondisi lawan yang seringkali membuat kesalahan.

Padahal kemampuan bermain bola pihak lawan dinilai lebih unggul dibandingkan tim dari Desa Karangpaninggal yang jarang latihan. Tim sepak bola Desa Karangpaninggal kerap jadi juara. Bahkan ketangguhannya terkenal sampai sekarang.

Meskipun bisa Nyekar untuk berdo’a di Leweung Gede, namun tetap saja ada larangan pesugihan ataupun meminta kekayaan. Hal itu jadi pantangan yang tak boleh dilanggar di Kampung Kuta Ciamis. 

 

 

Share

Video Popular