Reuters/The Epochtimes

Pada tanggal 24 Januari 2020, terlihat hanya sedikit penumpang di stasiun kereta api di kota Wuhan, Tiongkok.  Mereka dengan memasang wajah berani saat tiba di kota pusat penyebaran Coronavirus yang sudah memakan korban dan menginfeksi warga. Insiden itu menimbulkan kekhawatiran terjadinya pandemi.

 Pihak berwenang mengisolasi Wuhan, sebuah kota berpenduduk 11 juta jiwa dan pusat transportasi utama, di mana biasanya pada liburan Tahun Baru Imlek adalah transportasi paling sibuk sepanjang tahun. Itu terjadi ketika saat jutaan warga mudik untuk berkumpul dengan keluarganya.

 Jutaan orang di kota-kota sekitar Wuhan  hampir terdampar setelah jaringan transportasi umum ditutup. Langkah itu dilakukan untuk menghentikan penyebaran Coronavirus. 

 Pada satu kereta berkecepatan tinggi yang membawa wartawan Reuters yang berhenti di stasiun Wuhan pada 24 Januari Jumat sore hari itu, hanya sekitar 10 orang penumpang yang turun. Tidak ada penumpang yang naik sebelum kereta melanjutkan perjalanannya ke kota Changsha.

 Meskipun berhenti di Wuhan, sebenarnya pemberhentian di Wuhan telah dihapus dari jadwal perjalanan kereta cepat itu.

 “Pilihan apa yang saya miliki? Ini adalah Tahun Baru Imlek. Kami harus berkumpul dengan keluarga kami,” kata seorang pria bermarga Hu yang turun dari kereta cepat itu.

 Bandara Wuhan tidak ditutup, tetapi hampir semua penerbangan telah dibatalkan. Tiga penerbangan internasional yang tiba pada hari Jumat itu berangkat tanpa penumpang, sebagaimana dikatakan seorang pejabat bandara.

 Perusahaan tumpangan kendaraan terbesar di Tiongkok, Didi Chuxing, menutup semua layanan di Wuhan mulai tengah hari pada hari Jumat itu. Ia menambahkan bahwa kapan dimulainya kembali layanan transportasi tergantung pada perintah pemerintah.

“Tolong kurangi keluar sebanyak mungkin, dan jaga diri anda dan keluarga anda,” kata perusahaan itu kepada para pengemudi dalam sebuah pernyataan.

Peta kendali lalu lintas di peta Baidu di Tiongkok — yang setara dengan Google Maps— menunjukkan jalan raya yang menuju Wuhan dan di sekitar Wuhan ditutup.

Polisi di satu pos pemeriksaan jalan raya mengatakan diperlukan izin khusus untuk meninggalkan Kota Wuhan.

Masker Wajah, Pembatalan Rencana Kegiatan

Berada di tepi Sungai Yangtze yang luar biasa dan secara historis cenderung menyebabkan banjir yang menghancurkan, Wuhan membentang melintasi 8.500 kilometer persegi  — sebuah kota setara lima kali ukuran London Raya — dan mencakup wilayah pedesaan serta kawasan perkotaan yang luas.

Beberapa foto yang beredar di media sosial menunjukkan koridor rumah sakit penuh sesak, saat orang-orang — semuanya mengenakan masker wajah — menunggu konsultasi.

Pemerintah berjanji memastikan Wuhan diperlengkapi dengan baik. Pada hari Jumat itu sebanyak 32 ton pasokan, sebagian besar peralatan medis dan masker, tiba menggunakan dua pesawat. Perusahaan e-commerce terbesar kedua di Tiongkok, JD.com Inc., mengatakan JD.com Inc menyumbangkan satu juta masker medis dan persediaan lain seperti disinfektan.

“Keluarga saya telah menimbun banyak makanan, dan saat kami membutuhkan sesuatu, kami pergi ke supermarket terdekat dengan mengenakan masker,” kata seorang warga Wuhan berusia 30 tahun yang bekerja di jasa keuangan kepada Reuters melalui media sosial, yang menolak menyebutkan namanya.

Pihak berwenang memperingatkan agar tidak menaikkan harga barang.

Zou Tianjing, yang berusia 30 tahun, seorang wanita  distributor minuman beralkohol, mengatakan ia batal menghabiskan Tahun Baru Imlek di rumah, membaca dan menonton film.

“Banyak orang tidak menyadari betapa serius situasi ini. Sehari sebelumnya, orang-orang mengenakan masker tetapi masih mengunjungi bar,” kata Zou Tianjing, berbicara pada hari Kamis.

Hugo Guo, seorang mahasiswa berusia 22 tahun yang telah kembali ke rumah untuk liburan di Wuhan, mengatakan pembatasan itu tidak banyak berdampak pada dirinya, meskipun semua rencana makan malamnya dengan teman dan keluarga dibatalkan.

Mahasiswa itu mengatakan, dirinya paling khawatir apakah dirinya dapat kembali ke kampus pada waktu yang tepat. Apa yang disampaikannya terkait jadwal kulihanya semester baru akan dimulai Februari mendatang di universitasnya di Shanghai.

Seorang warga asing, yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengatakan penghentian layanan transportasi menyebabkan masalah meskipun ia dapat berkeliling, meskipun lambat.

“Saya dapat pergi ke mana pun saya ingin pergi. Namun, saya tidak boleh meninggalkan Wuhan,” ungkap warga asing itu. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular