Eva Pu – The Epochtimes

Rezim Komunis Tiongkok kemungkinan tidak melaporkan skala wabah Coronavirus yang sebenarnya, menurut seorang ahli epidemiologi Harvard. Kekhawatiran akan merebaknya epidemi merebak setelah penyakit menular yang disebabkan oleh Coronavirus menghantam sebagian besar wilayah Tiongkok dan menyebar ke lebih dari belasan negara secara global.

Angka resmi mencatat virus mirip-pneumonia itu menginfeksi ribuan orang dan menekan skor, meskipun para ahli mengatakan jumlah total infeksi jauh lebih besar daripada yang dilaporkan oleh rezim komunis Tiongkok.

Dalam sebuah studi baru-baru ini oleh Imperial College London, para peneliti menemukan bahwa “penularan dari manusia ke manusia yang berkelanjutan” adalah “satu-satunya penjelasan yang masuk akal mengenai skala wabah di Wuhan.”

Para peneliti mengatakan bahwa setiap orang yang terinfeksi dapat menginfeksi rata-rata 2,6 orang lain, dan pihak berwenang perlu menghalangi penularan lebih dari 60 persen kasus untuk mengendalikan wabah tersebut.

Studi lain, saat ini dalam pra-cetak, oleh para ahli Inggris dan Amerika Serikat, yang dirilis pada  23 Januari, menyebutkan jumlah reproduksi sekitar 3,8, meskipun kemudian direvisi menjadi 2,5.

Dengan jumlah reproduksi 3,8, Tiongkok perlu mengendalikan 72 persen hingga 75 persen penularan untuk mencegah penyebaran virus— “tugas yang hampir mustahil, dengan mengkarantina seluruh kota,” kata Michael Lai, ahli biologi molekuler di Academia Sinica Taiwan yang menetap di Amerika Serikat.

Tiongkok telah mengkarantina 17 kota, menunda pembukaan sekolah, dan memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek selama seminggu hingga tanggal 2 Februari, dalam upaya untuk mengekang penyebaran penyakit tersebut.

Meskipun ada upaya seperti itu, 5 juta orang meninggalkan pusat virus Wuhan sebelum karantina diberlakukan pada tanggal 23 Januari.

Para ahli studi pre-print tersebut memperkirakan bahwa kurang dari 10 persen infeksi diidentifikasi di Wuhan sejauh ini.

 “Jika epidemi terus berlanjut di Wuhan, kami memperkirakan epidemi di Wuhan akan jauh lebih besar pada tanggal 4 Februari,” tulis para peneliti, memproyeksikan lebih dari 190.000 kasus infeksi terjadi pada saat itu di Wuhan saja.

Dikatakan bahwa wabah besar tersebut juga dapat berkembang di kota-kota besar seperti Shanghai, Beijing, Guangzhou, Chongqing, dan Chengdu.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Guangdong pada tanggal 25 Januari menyebutkan angka reproduksi 2,9, mengatakan penyakit tersebut “mungkin memiliki risiko pandemi lebih tinggi daripada SARS” – wabah besar yang berasal dari selatan Tiongkok dari tahun 2002 hingga 2003, yang secara resmi menewaskan sekitar 800 di seluruh dunia .

Risiko Pandemi

“Saya akan mengatakan ada risiko pandemi yang sangat tinggi,” kata Dr. Eric Feigl-Ding, seorang ahli epidemiologi di Universitas Harvard, mengutip kesimpulan dalam laporan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tiongkok.

Dr. Eric Feigl-Ding mengatakan risiko itu diperburuk sebagai akibat dari pasien tanpa gejala yang menyebarkan virus tanpa sadar.

Pada 26 Januari, Menteri Kesehatan Tiongkok, Ma Xiaowei, mengatakan kepada wartawan bahwa Coronavirus, tidak mirip SARS, menular selama masa inkubasinya, yang dapat bertahan hingga 14 hari — yang berarti dapat ditularkan bahkan saat orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala.

Sebuah studi tanggal 24 Januari di The Lancet mengidentifikasi seorang pasien Coronavirus, berusia 10 tahun, yang tidak menunjukkan gejala apa pun sebelum pemeriksaan kesehatan. Dua pasien lain dalam penelitian yang sama tidak memiliki tanda-tanda demam.

 Temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa tindakan skrining saat ini, yaitu memeriksa suhu tubuh, adalah tidak efektif dalam mendeteksi penyakit tersebut.

 Baru-baru ini, dua pasien dari Wuhan lolos pemeriksaan skrining di Prancis dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi sampai masing-masing satu dan lima hari kemudian.

 Dr. Eric Feigl-Ding mengatakan sifat Coronavirus ini “membuat pengendalian jauh lebih sulit” daripada dalam kasus SARS, yang tidak menular selama inkubasi.

 Ia juga menyarankan bahwa banyak angka resmi mengenai infeksi dan kematian didasarkan pada data yang tidak mutakhir, karena kemungkinan ada “tumpukan” administratif.

 Antara tanggal 25 Januari hingga 26 Januari, jumlah pasien yang dilaporkan melonjak hingga 50 persen, dari sekitar 2.000 menjadi sekitar 3.000. Ada sejumlah kesempatan di mana kematian tidak dilaporkan sampai setidaknya satu hari kemudian, sehingga menyulitkan pihak luar untuk mengukur situasi yang sebenarnya, kata Dr. Eric Feigl-Ding.

 Tumpukan besar dalam kasus yang menunggu pengujian menunjukkan “ada banyak kasus yang diduga [yang] tidak dipastikan. Saat ada tumpukan pengujian, semuanya tertunda, yang memengaruhi model prediksi semua orang,” kata Dr. Eric Feigl-Ding.

Ia mengatakan bahwa ia mengharapkan Organisasi Kesehatan Dunia  mengumumkan keadaan darurat global atas situasi ini segera. Pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia  berhenti memberi label wabah darurat kesehatan global.

Pada 26 Januari, Organisasi Kesehatan Dunia menilai tingkat risiko wabah adalah “sangat tinggi” di Tiongkok dan juga “tinggi” pada skala internasional. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat pada tanggal 27 Januari menganjurkan agar para wisatawan menghindari “perjalanan yang tidak penting” ke Tiongkok.

 Virus ‘Tangguh’

Pihak berwenang Tiongkok mendeteksi empat generasi penyebaran virus di Wuhan — yang berarti seseorang yang tertular virus dari sumber non-manusia aslinya menginfeksi seorang manusia, yang kemudian menginfeksi orang lain, yang kemudian menginfeksi orang lain.

Kasus generasi kedua juga terdeteksi di luar Wuhan. Fenomena ini menunjukkan bahwa virus itu adalah “tangguh,” menurut Michael Lai.

 Saat sebuah virus bereplikasi di pejamu baru, biasanya virus tersebut melemah, oleh karena itu melihat virus tersebut  bertahan sampai generasi keempat maka hal tersebut menunjukkan Coronavirus Wuhan “beradaptasi dengan baik pada manusia,” kata Michael Lai.

Menurut Michael Lai, virus RNA – yaitu, virus yang memiliki RNA sebagai bahan genetiknya dan bukannya DNA – seperti Coronavirus Wuhan dan SARS, memiliki “tingkat mutasi yang tinggi,” yang memungkinkan virus tersebut “berubah sifat dengan sangat cepat.”

Sebagai contoh, dalam studi Lancet, urutan RNA yang diisolasi dari 6 pasien yang tinggal di rumah yang sama adalah berbeda satu sama lain, kata Michael Lai. Ia mengatakan ia mengamati dalam penelitiannya sebelumnya mengenai “seringnya terjadi rekombinasi RNA antara berbagai jenis Coronavirus,” suatu tanda bahwa virus tersebut berkembang.

Berita semacam itu “adalah berita buruk; hal tersebut menunjukkan sulitnya mengendalikan Coronavirus,” kata Michael Lai. (vv/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular